Latest Products
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
SECUIL CINTA UNTUKKU

SECUIL CINTA UNTUKKU



SECUIL CINTA UNTUKKU

Aku tersungkur di atas kuas-kuas dan kertas yang berserakan. Tubuhku bergetar ketakutan. Sesekali bibirku merintih kesakitan. Kini aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada yang bisa membantuku untuk bangkit berdiri. Bahkan kedua lengan dan tanganku sekalipun.
***
Hawa dingin merambah keseluruh tubuh. Suara adzan subuh menggema, memecah lazuardi. Aku segera bangkit setelah mendengar pekikan jam weker spidermanku. Mataku masih terasa sangat berat, tapi aku harus segera mengambil air wudlu. Kupaksakan kakiku melangkah menuju kamar mandi yang berjarak 5 meter dari kamarku. Setelah sampai di depan pintu, kulihat ayahku telah dulu memutar gagang keran. Tentu saja aku harus antri setelahnya. Tak berselang lama, rukun wudlu yang terakhir telah beliau laksanakan. Beliau keluar sembari menengadahkan tangan, berdo’a. Wajah lelaki yang hampir memperlihatkan kerutannya ini, kini tersenyum memandangku. Kemudian beliau kembali masuk ke dalam kamar mandi dan memutar gagang keran untuk yang kedua kalinya. Sejurus kemudian, air mengucur deras dari lubang berdiameter 1 cm itu. Aku segera bergegas mendekat menuju kucuran air yang sangat dingin itu. Terasa seperti pisau yang dengan ganas menikam wajahku. Tapi itu masih belum seberapa, jika dibandingan dengan cacian dan omelan yang dilontarkan ibu tiriku. Itu dilakukannya setiap kali ia melihat kekuranganku. Cacian dan omelan itu seolah menjadi lagu wajib yang harus kudengarkan setiap hari. Pikiranku kembali menerawang. Mengingat perlakuan buruk yang kerap aku terima. Tak habis pikir aku dibuatnya. Kenapa ia begitu benci padaku? Apa salahku? Meskipun telingaku telah penuh dengan perkataan jelek ibu tiriku itu, tapi aku tak pernah sedikitpun menaruh benci dan dendam padanya. Karena aku sangat menyayanginya.
***
Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada yang istimewa. Hanya daun-daun melinjo yang biasanya kering dan layu, kini berwarna hijau berbaur bersama berai-berai embun. Di dalam rumah bercat coklat muda ini, aku, ayahku, dan ibu tiriku tinggal. Tak terlalu mewah memang. Hanya ada dua kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, dan musholla. Tapi, hanya ada satu ruangan yang sangat istimewa bagiku. Ruangan seluas 5 x 4 meter dengan jendela yang tingginya hampir menyamai pintu. Hanya ada almari kecil dan ranjang, juga meja kayu yang di atasnya dipenuhi dengan perlengkapan melukis. Sangat sederhana bukan? Meski warna perak cahaya mentari masuk, tapi suasananya masih terlihat suram dan sunyi. Hawanya seolah mati ditelan sepi.
Aku berdiri mematung. Menatap lukisan yang terpampang rapi di dinding ruangan itu yang tak lain adalah kamarku. Kuperhatikan satu persatu tiap polesannya. Bak pelangi yang tergores indah. Allah telah memberi keistimewaan pada tangan ibuku. Ibuku pasti melukisnya dengan sepenuh hati dan perasaan. Ibuku pernah berpesan, agar aku tak boleh jenuh mengahadapi kuas-kuas itu. Aku harus selalu menggoyangkan mereka. Agar mereka dapat menghasilkan lukisan yang nyata.
“Hei!! kamu sedang apa Aufal? Dari tadi ayah perhatikan, sepertinya kamu melamun?” suara ayah membuatku tersentak kaget.
“Eh, nggak, Yah!! Aufal cuma lagi ngelihat lukisan pertama Aufal!!” sahutku gugup.
“Lukisan pertama? Mana? Ayah ingin tahu!!” tanya beliau penasaran.
“Itu yah!!” aku mengarahkan pandangan pada salah satu lukisan yang berada tepat di atas ranjangku.
Sesekali mataku melirik mencari tahu ekspresi ayah. Dan yang kutemukan di sana adalah raut kesedihan. Tapi secepat mungkin ia mengalihkan pandangannya. Berusaha membuang jauh kenangan itu.
“Maaf Aufal, ayah harus segera pergi. Sepertinya ayah sudah terlambat kerja.” Buru-buru ayah meninggalkanku begitu saja. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Akupun tak tahu.
Lukisan pertamaku adalah teristimewa. Karena aku melukisnya dengan sangat istimewa. Orang yang ada di dalam lukisan itulah yang membuat semuanya terasa istimewa. Dalam dirinya tersimpan banyak sekali keistimewaan. Ia adalah ibu kandungku. Wanita istimewa yang membuat hidupku berwarna. Membuatku melupakan semua kekuranganku. Kupandangi wajahnya dengan seksama. Tampak cekungan kecil di kedua pipinya. Matanya memancarkan keteduhan. Bagiku tiada yang kurang dalam diri ibuku. Mungkin juga bagi ayahku. Enam bulan yang lalu ia pergi begitu saja setelah penyakit kankernya sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Membuat aku dan ayahku sangat terpukul. Tapi tak berselang lama, ayahku sudah menemukan pengganti ibu. Tentu saja aku tak bisa menolak pilihan ayahku itu. Karena mungkin ini yang terbaik untukku dan juga ayahku.
“Heh anak cacat!!” tiba-tiba suara cempreng itu muncul bersamaan dengan gelas plastik yang dilemparnya. “Bisanya cuma bengong!!! Nggak ada kerjaan lain apa?”
“Aduh!!! Ampun bu!!” pintaku memelas.
“Ampun, ampun!!! Cepetan bersihin rumah. Habis ini aku mau arisan!!” bentaknya hingga urat yang ada di leher kurus itu menyembul keluar.
“Iya, Bu!!” jawabku pasrah.
Aku bingung harus berbuat apa. Ia selalu menyuruhku melakukan ini dan itu. Tapi begitu aku selesai melakukan perintahnya, ia akan berkata “Gini aja nggak becus!!! Dasar anak cacat!!!”. Perasaanku seakan teriris jika ia mulai mengatakan kata-kata yang mungkin membuatku sedikit rela mengeluarkan tenaga untuk marah. Apakah aku seburuk itu? Entahlah.
***
Sinar keemasan matahari pagi memijat bumi. Tampak pohon mangga yang berdiri kokoh di depan rumah tumbuh dengan bugar. Layaknya perasaanku pagi ini. Entah terkena angin apa tiba-tiba ayah ingin mengajakku mengunjungi museum. Tentu saja aku sangat bersemangat mengiyakan ajakan ayah itu.
“Ayo cepat Aufal....nanti keburu siang....!!” teriak ayah dari depan teras.
“Iya, Yah.....!!!”
Suara deru motor mengiringi kepergianku. Aku dan ayah sangat bersemangat menuju museum yang berada tak jauh dari rumah kami. Jaraknya hanya bisa ditempuh dalam sepuluh menit. Setelah sampai di depan pintu museum itu, aku berdecak kagum. “Bukankah ini museum lukisan Affandi yang pernah diceritakan ibu dulu?” batinku dalam hati.
“Ayah...apakah ini museum lukisan Affandi? Pelukis Indonesia yang legendaris itu?”
“Benar Aufal....tempat ini adalah tempat bersejarah bagi ayah. Tempat ayah dan ibumu bertemu untuk yang pertama kali.”
“Ibu pernah bercerita ayah. Ibu juga sangat menyukai tempat ini. Ia bahkan pernah berjanji akan mengajakku ke sini.” Kataku dengan nada sedikit bergetar. Setiap kali aku mengingat ibu, mutiara bening akan meluncur keluar dari benteng kelopak mataku. Tapi secepat mungkin aku menahannya. Aku melihat sekeliling tempat itu. Suasananya sangat damai dan asri. Dindingnya tinggi berwarna abu-abu. Aku tak sabar ingin segera menjajaki tempat itu. Rupanya ayah sangat tau perangaiku. Ayah segera merengkuh pundakku dan kemudian menuntunku masuk.
“Aufal…tetaplah di samping ayah. Jika ada orang yang melihatmu dengan tatapan aneh, jangan kamu hiraukan.” Pesan ayah kepadaku setengah berbisik. Aku hanya mengangguk pelan. Aku tau betul apa yang dimaksudkan ayah.
Di sepanjang lorong aku melihat banyak lukisan berderet terpampang rapi. Kuperhatikan satu persatu tiap model dan polesannya. Sangat indah. Maklum saja, pelukisnya adalah Affandi. Pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia ini, juga terkenal di dunia internasional berkat gaya ekspresionisnya yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Dan yang paling mengagumkan lagi, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan. Aku sangat bangga sekali bisa berada di tempat istimewa ini. Bagiku, tempat ini adalah tempat rekreasi terbaik. Biaya masuknya pun tidak terlalu mahal. Ayahku hanya cukup mengeluarkan kocek 10.000 ribu untuk masuk.
Museum yang berlokasi ditepi barat sungai Gajah Wong Yogyakarta ini dulunya juga merupakan tempat tinggal sang maestro. Bangunannya yang serba putih dan terkesan megah ini dirancang oleh sang maestro sendiri.
Aku hafal betul dengan riwayat hidup Affandi. Ibuku lah yang rajin memberiku informasi tentang pelukis favoritnya itu. Akhirnya aku pun bersemangat untuk mengikuti jejak Affandi. Bahkan aku sempat mengatakan hal itu kepada ibu. Ibu hanya tersenyum dan membelai rambutku pelan.
“Ayah…aku ingin bisa menjadi seperti Affandi. Menjadi pelukis terkenal dan mempunyai museum yang besar. “ sembari berkata seperti itu, aku mendekati salah satu lukisan. Ayah hanya mengangguk sembari tersenyum ramah. Tapi tidak untuk dua orang yang berada di sampingku. Mereka berbisik satu sama lain. Sesekali mereka tertawa mengejek. Aku yang tak suka dengan gelagat mereka memilih untuk diam dan tak menghiraukan sedikitpun.
“Ayo Aufal, kita pergi ke sebelah sana…..” ajak ayah buru-buru. Mungkin ayah tak mau melihatku sedih hanya karena omongan kedua orang itu.
“Apakah kamu suka dengan lukisan ini?” tiba-tiba seorang lelaki paruh baya bertanya kepadaku. Kedua tangannya membawa cat air dan beberapa kuas. Di punggung lelaki itu tampak ransel besar dengan kertas manila putih yang menyembul keluar di bagian atasnya.
“Saya perhatikan dari tadi, sepertinya kamu sangat menyukai lukisan-lukisan ini nak?” imbuh lelaki itu.
“Ya….saya sangat menyukai lukisan ini. saya ingin sekali melukis seperti ini.” kataku bersemangat.
“Benarkah? Kamu bisa melukis?”
“Oh…tentu saja. Saya sangat gemar melukis.”
“Kalau begitu, maukah kamu melukiskannya untukku? Itu jika kamu tidak keberatan.” Pinta lelaki itu tak kalah semangatnya.“
“Dengan senang hati.” jawabku mantap. Kemudian kami keluar dari dalam museum dan mencari tempat teduh di sekitar museum.
“Lukislah seseorang yang kamu sayangi, Nak. Goyangkan kuas itu dengan perasaanmu.” Lelaki itu menatapku iba. Tak lama kemudian, aku mulai menuruti permintaannya.
“Luar biasa…!!! Meskipun kamu memiliki kekurangn fisik, tapi keahlianmu dalam melukis melebihi pelukis terkenal manapun.” Kata-kata lelaki itu membuatku sedikit bangga. Tapi ini semua berkat ibu. Aku tak akan bisa seperti ini jika ibuku tak mengajariku. Seharusnya ibuku lah yang pantas mendapatkan pujian itu.
“Terimakasih, Paman…..”
“Siapa namamu, Nak…?”
“Aufal…” jawab ayah girang.
“Maaf, Pak…!! Anak Anda ini luar biasa. Saya sangat terkejut dengan caranya melukis. Bagaimana bisa Aufal melakukannya? Bolehkah saya bertanya sesuatu?”
“Ya silahkan!!” kata ayah mengizinkan.
“Apakah kekurangan Aufal ini sejak lahir?”
“Ya, Pak….Aufal cacat sejak lahir.” nada suara ayah berubah sedih.
“Maaf, Pak…saya tak bermaksud apa-apa. Kalau begitu, bawalah lukisan itu pulang Aufal. Berikan pada orang yang berada dalam lukisan itu.” Lelaki itu tersenyum kemudian berlalu pergi.
***

Aku tiba di rumah ketika senja sekarat dimbang malam. Lirih suara angin membisikkan sesuatu yang janggal di telinga. Aku melihat kubah langit yang lengang. Di sebelah barat tampak rongga hitam langit menganga. Sepertinya malam ini guyuran hujan akan sangat lebat. Ayah mengultimatumku untuk segera masuk dan menutup semua jendela rumah rapat-rapat. Dari dalam kamar mandi terdengar gemericik air bersahutan. Mungkin itu ibu tiriku yang sedang membersihkan badan. Segera kulangkahkan kaki menuju kamar dan menaruh lukisan ini di tempat yang aman. Karena aku tak bisa melakukannya sendiri, akhirnya kuminta ayah untuk menaruhnya. Dugaanku tak meleset. Samar-samar terdengar rintikan hujan menyerbu atap rumahku. Semakin lama semakin deras. Kuputuskan untuk menunaikan sholat maghrib terlebih dulu. Ternyata dalam musholla ayah sudah menungguku sembari memberi isyarat agar aku berjalan lekas.
Malam ini aku menjalankan sholat maghrib hanya dengan ayah. Ibu tiriku tak ikut karena alasan biasa. Lama aku berada di musholla melantukan ayat suci Al Quran. Aku berniat menunggu adzan isya’ sebelum beranjak tidur. Tak lama berselang, adzan menggema. Sayup-sayup suaranya berbaur bersama derasnya air hujan. Tanpa basa basi akupun kembali berjama’ah dengan ayah. Aku memohon kepada Allah agar aku diberikan kesabaran. Agar Allah memberi ku banyak cinta dan kasih sayangnya. Agar aku bisa mendapatkan kehangatan dan perhatian seorang ibu. Apakah aku salah jika anak berumur sembilan tahun sepertiku haus akan kasih sayang? Seandainya aku mempunyai fisik yang sempurna, aku tak akan pernah merepotkan ayahku lagi, ibu tiriku juga tak akan pernah menghina dan mencaciku.
Untungnya Allah sangat adil. Meskipun kedua lengan dan tanganku tiada, tapi Allah menambahkan kemampuan yang luar biasa kepadaku melalui ibu kandungku. Ya, meskipun aku tak bisa melukis dengan tangan layaknya pelukis-pelukis biasa. Tapi aku masih bisa memanfaatkan anggota tubuh lain untuk menggerakkan kuas-kuas itu. Aku masih bisa menggunakan mulut dan terkadang kakiku untuk memegang kuas. Awalnya aku tak biasa dengan cara seperti itu. Ibuku lah yang memberiku pelajaran dan semangat untuk dapat menghadapi kehidupan ini. Cacat bukanlah akhir dari segalanya. Itulah kata-kata ibu yang terus terekam dalam memoriku. Setelah selesai, aku pamit pada ayah untuk beranjak ke kamar. Kuarahkan kakiku pada engsel pintu dan mendorongnya. Mataku langsung tertuju pada lukisan ibu yang berada tepat di atas tempat tidur. Di samping lukisan ibu telah ada lukisan baru yang terutup kain hitam. Entah kenapa ayah menutupnya dengan kain hitam. Aku sendiri tak tau alasan yang sebenarnya. Tapi itu semua tak terlalu penting. Yang terpenting saat ini adalah orang yang berada dalam lukisan itu adalah orang yang akan kusayang sejajar dengan sayangku pada ibu.
Malam semakin larut. Aku ingin segera memejamkan mata dan berharap bisa bermimpi bertemu ibu. Tiba-tiba pintu kamarku dibuka dan seorang wanita berambut ikal kemerahan masuk dengan membawa segelas susu.
“Aufal…sebelum kamu tidur, minumlah susu hangat ini dulu biar kamu nyenyak tidurnya.” Kata ibu tiriku sembari menyodorkan gelas itu kepadaku. Aku sangat heran dengan tingkah ibu tiriku. Tak biasanya ia berkata lembut dan bahkan membuatkanku susu. Mungkin Allah telah mendengar do’aku. Dengan semangat, kuanggukkan kepala tanda setuju.
“Anak pinter…sini ibu bantu minum, kamu kan nggak bisa pegang sendiri.” Ia mengarahkan gelas itu ke dalam mulutku sembari tersenyum lebar. Rasanya memang sangat lezat.
“Terimakasih, Bu….ibu sangat baik padaku. Aku punya hadiah buat ibu. Aku jamin ibu pasti akan suka.” Kataku bersemangat. Ibu tiriku hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Ia kemudian menutup pintu dan menguncinya.
“Kenapa dikunci, Bu? Ibu ingin tidur di sini bersama Aufal?” lagi-lagi ia tak menjawab. Dengan langkah tenang ia berjalan ke arahku dan duduk tepat di sampingku. Bibirku mulai mengembang berharap bahwa ia akan menemaniku malam ini. Tapi tiba-tiba kepalaku sangat pusing dan badanku mengejang. Serasa sangat sakit. Di tengah-tengah kesakitanku itu, ibu tiriku tertawa lebar. Matanya nampak merah berkilat seakan merasa senang dan puas dengan keadaanku. Aku mulai tak kuat. Bibirku mengeluarkan cairan putih berbusa. Ia menyaksikan penderitaanku dan tak bergeming sedikitpun. Ia kemudian berdiri dan mengobrak-abrik seluruh isi kamarku. Ia membuang semua kuas dan cat air serta peralatan melukis lainnya. Ia seperti kesetanan. Tak puas dengan itu, ia mengambil semua lukisan yang berada di dinding kamarku dan kemudian membantingnya satu persatu. Aku yang tetap bertahan dengan penderitaanku tak bisa berbuat apa-apa. Mataku panas dan aku menangis. Terdengar suara ayah dari luar yang menggedor-gedor pintu kamar. Dengan lantang, berkali-kali ayah memanggil namaku. Ibu tiriku tetap tak merespon. Ia kemudian naik ke atas tempat tidur dan mengambil lukisan ibu dan menatapnya dengan garang.
“Aku sudah balas dendam, denganmu. Sebentar lagi anakmu yang akan menyusulmu ke sana hahahaha…….!!!” Sangat menakutkan sekali. Ia membanting lukisan ibu dengan penuh amarah. Tangannya kemudian mengarah pada lukisan yang tertutup kain hitam. Ia mengambil paksa lukisan itu. Setelah melihat gambar yang ada di dalamnya, ia kemudian terdiam. Alisnya berkerut heran.
“Ini siapa?” bentaknya lantang. Aku tak bisa menjawab. Nafasku seakan berhenti di kerongkongan.
“Ini siapa?” kali ini nada suaranya tak seperti biasanya. Sedikit rendah dan bergetar meskipun matanya masih menyiratkan kebencian. Ia kemudian duduk lemas dan menangis.
“I..tu..a…dalah…eng..kau…i..bu…itu…hadi…ah un..tuk..mu…”kataku terbata yang kemudian disusul dengan busa putih yang semakin lama memberontak keluar. Mendengar perkataanku, ia menangis tiada henti. Ia membalik lukisan itu dan membaca tulisan yang berada di belakangnya. “Aku melukis ini dengan penuh rasa cinta. Aku akan menyayangi ibu tiriku melebihi apapun. Karena selain ayah, ia lah yang mau tinggal bersamaku.”
“Bagaimana bisa kamu melakukan ini?” sembari mengguncang-guncangkan tubuhku, ia menangis sejadinya. Ia merengkuh dan mendekapku erat.
“Kenapa aku bisa melakukan ini semua? Aku telah membunuh orang yang tak berdosa. Aku termakan dendam. Maafkan aku Aufal. Seharusnya ini tak boleh terjadi. Aku menyesal Aufal, bertahanlah…..!!!” ia menyesali perbuatannya. Ia juga berjanji akan menyayangiku. Ia melakukan ini karena ia dendam terhadap ibuku. Aku tak tau sebenarnya masa lalu apa yang terjadi antara ibu dan dan ibu tiriku ini. Tapi aku sangat bahagia karena ibu tiriku mau menyayangiku layaknya anak normal lainnya. Kini aku bisa memejamkan mata dan bisa bersama ibu kandungku di sana selamanya dengan tenang.





























































SECUIL CINTA UNTUKKU

Aku tersungkur di atas kuas-kuas dan kertas yang berserakan. Tubuhku bergetar ketakutan. Sesekali bibirku merintih kesakitan. Kini aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada yang bisa membantuku untuk bangkit berdiri. Bahkan kedua lengan dan tanganku sekalipun.
***
Hawa dingin merambah keseluruh tubuh. Suara adzan subuh menggema, memecah lazuardi. Aku segera bangkit setelah mendengar pekikan jam weker spidermanku. Mataku masih terasa sangat berat, tapi aku harus segera mengambil air wudlu. Kupaksakan kakiku melangkah menuju kamar mandi yang berjarak 5 meter dari kamarku. Setelah sampai di depan pintu, kulihat ayahku telah dulu memutar gagang keran. Tentu saja aku harus antri setelahnya. Tak berselang lama, rukun wudlu yang terakhir telah beliau laksanakan. Beliau keluar sembari menengadahkan tangan, berdo’a. Wajah lelaki yang hampir memperlihatkan kerutannya ini, kini tersenyum memandangku. Kemudian beliau kembali masuk ke dalam kamar mandi dan memutar gagang keran untuk yang kedua kalinya. Sejurus kemudian, air mengucur deras dari lubang berdiameter 1 cm itu. Aku segera bergegas mendekat menuju kucuran air yang sangat dingin itu. Terasa seperti pisau yang dengan ganas menikam wajahku. Tapi itu masih belum seberapa, jika dibandingan dengan cacian dan omelan yang dilontarkan ibu tiriku. Itu dilakukannya setiap kali ia melihat kekuranganku. Cacian dan omelan itu seolah menjadi lagu wajib yang harus kudengarkan setiap hari. Pikiranku kembali menerawang. Mengingat perlakuan buruk yang kerap aku terima. Tak habis pikir aku dibuatnya. Kenapa ia begitu benci padaku? Apa salahku? Meskipun telingaku telah penuh dengan perkataan jelek ibu tiriku itu, tapi aku tak pernah sedikitpun menaruh benci dan dendam padanya. Karena aku sangat menyayanginya.
***
Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada yang istimewa. Hanya daun-daun melinjo yang biasanya kering dan layu, kini berwarna hijau berbaur bersama berai-berai embun. Di dalam rumah bercat coklat muda ini, aku, ayahku, dan ibu tiriku tinggal. Tak terlalu mewah memang. Hanya ada dua kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, dan musholla. Tapi, hanya ada satu ruangan yang sangat istimewa bagiku. Ruangan seluas 5 x 4 meter dengan jendela yang tingginya hampir menyamai pintu. Hanya ada almari kecil dan ranjang, juga meja kayu yang di atasnya dipenuhi dengan perlengkapan melukis. Sangat sederhana bukan? Meski warna perak cahaya mentari masuk, tapi suasananya masih terlihat suram dan sunyi. Hawanya seolah mati ditelan sepi.
Aku berdiri mematung. Menatap lukisan yang terpampang rapi di dinding ruangan itu yang tak lain adalah kamarku. Kuperhatikan satu persatu tiap polesannya. Bak pelangi yang tergores indah. Allah telah memberi keistimewaan pada tangan ibuku. Ibuku pasti melukisnya dengan sepenuh hati dan perasaan. Ibuku pernah berpesan, agar aku tak boleh jenuh mengahadapi kuas-kuas itu. Aku harus selalu menggoyangkan mereka. Agar mereka dapat menghasilkan lukisan yang nyata.
“Hei!! kamu sedang apa Aufal? Dari tadi ayah perhatikan, sepertinya kamu melamun?” suara ayah membuatku tersentak kaget.
“Eh, nggak, Yah!! Aufal cuma lagi ngelihat lukisan pertama Aufal!!” sahutku gugup.
“Lukisan pertama? Mana? Ayah ingin tahu!!” tanya beliau penasaran.
“Itu yah!!” aku mengarahkan pandangan pada salah satu lukisan yang berada tepat di atas ranjangku.
Sesekali mataku melirik mencari tahu ekspresi ayah. Dan yang kutemukan di sana adalah raut kesedihan. Tapi secepat mungkin ia mengalihkan pandangannya. Berusaha membuang jauh kenangan itu.
“Maaf Aufal, ayah harus segera pergi. Sepertinya ayah sudah terlambat kerja.” Buru-buru ayah meninggalkanku begitu saja. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Akupun tak tahu.
Lukisan pertamaku adalah teristimewa. Karena aku melukisnya dengan sangat istimewa. Orang yang ada di dalam lukisan itulah yang membuat semuanya terasa istimewa. Dalam dirinya tersimpan banyak sekali keistimewaan. Ia adalah ibu kandungku. Wanita istimewa yang membuat hidupku berwarna. Membuatku melupakan semua kekuranganku. Kupandangi wajahnya dengan seksama. Tampak cekungan kecil di kedua pipinya. Matanya memancarkan keteduhan. Bagiku tiada yang kurang dalam diri ibuku. Mungkin juga bagi ayahku. Enam bulan yang lalu ia pergi begitu saja setelah penyakit kankernya sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Membuat aku dan ayahku sangat terpukul. Tapi tak berselang lama, ayahku sudah menemukan pengganti ibu. Tentu saja aku tak bisa menolak pilihan ayahku itu. Karena mungkin ini yang terbaik untukku dan juga ayahku.
“Heh anak cacat!!” tiba-tiba suara cempreng itu muncul bersamaan dengan gelas plastik yang dilemparnya. “Bisanya cuma bengong!!! Nggak ada kerjaan lain apa?”
“Aduh!!! Ampun bu!!” pintaku memelas.
“Ampun, ampun!!! Cepetan bersihin rumah. Habis ini aku mau arisan!!” bentaknya hingga urat yang ada di leher kurus itu menyembul keluar.
“Iya, Bu!!” jawabku pasrah.
Aku bingung harus berbuat apa. Ia selalu menyuruhku melakukan ini dan itu. Tapi begitu aku selesai melakukan perintahnya, ia akan berkata “Gini aja nggak becus!!! Dasar anak cacat!!!”. Perasaanku seakan teriris jika ia mulai mengatakan kata-kata yang mungkin membuatku sedikit rela mengeluarkan tenaga untuk marah. Apakah aku seburuk itu? Entahlah.
***
Sinar keemasan matahari pagi memijat bumi. Tampak pohon mangga yang berdiri kokoh di depan rumah tumbuh dengan bugar. Layaknya perasaanku pagi ini. Entah terkena angin apa tiba-tiba ayah ingin mengajakku mengunjungi museum. Tentu saja aku sangat bersemangat mengiyakan ajakan ayah itu.
“Ayo cepat Aufal....nanti keburu siang....!!” teriak ayah dari depan teras.
“Iya, Yah.....!!!”
Suara deru motor mengiringi kepergianku. Aku dan ayah sangat bersemangat menuju museum yang berada tak jauh dari rumah kami. Jaraknya hanya bisa ditempuh dalam sepuluh menit. Setelah sampai di depan pintu museum itu, aku berdecak kagum. “Bukankah ini museum lukisan Affandi yang pernah diceritakan ibu dulu?” batinku dalam hati.
“Ayah...apakah ini museum lukisan Affandi? Pelukis Indonesia yang legendaris itu?”
“Benar Aufal....tempat ini adalah tempat bersejarah bagi ayah. Tempat ayah dan ibumu bertemu untuk yang pertama kali.”
“Ibu pernah bercerita ayah. Ibu juga sangat menyukai tempat ini. Ia bahkan pernah berjanji akan mengajakku ke sini.” Kataku dengan nada sedikit bergetar. Setiap kali aku mengingat ibu, mutiara bening akan meluncur keluar dari benteng kelopak mataku. Tapi secepat mungkin aku menahannya. Aku melihat sekeliling tempat itu. Suasananya sangat damai dan asri. Dindingnya tinggi berwarna abu-abu. Aku tak sabar ingin segera menjajaki tempat itu. Rupanya ayah sangat tau perangaiku. Ayah segera merengkuh pundakku dan kemudian menuntunku masuk.
“Aufal…tetaplah di samping ayah. Jika ada orang yang melihatmu dengan tatapan aneh, jangan kamu hiraukan.” Pesan ayah kepadaku setengah berbisik. Aku hanya mengangguk pelan. Aku tau betul apa yang dimaksudkan ayah.
Di sepanjang lorong aku melihat banyak lukisan berderet terpampang rapi. Kuperhatikan satu persatu tiap model dan polesannya. Sangat indah. Maklum saja, pelukisnya adalah Affandi. Pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia ini, juga terkenal di dunia internasional berkat gaya ekspresionisnya yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Dan yang paling mengagumkan lagi, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan. Aku sangat bangga sekali bisa berada di tempat istimewa ini. Bagiku, tempat ini adalah tempat rekreasi terbaik. Biaya masuknya pun tidak terlalu mahal. Ayahku hanya cukup mengeluarkan kocek 10.000 ribu untuk masuk.
Museum yang berlokasi ditepi barat sungai Gajah Wong Yogyakarta ini dulunya juga merupakan tempat tinggal sang maestro. Bangunannya yang serba putih dan terkesan megah ini dirancang oleh sang maestro sendiri.
Aku hafal betul dengan riwayat hidup Affandi. Ibuku lah yang rajin memberiku informasi tentang pelukis favoritnya itu. Akhirnya aku pun bersemangat untuk mengikuti jejak Affandi. Bahkan aku sempat mengatakan hal itu kepada ibu. Ibu hanya tersenyum dan membelai rambutku pelan.
“Ayah…aku ingin bisa menjadi seperti Affandi. Menjadi pelukis terkenal dan mempunyai museum yang besar. “ sembari berkata seperti itu, aku mendekati salah satu lukisan. Ayah hanya mengangguk sembari tersenyum ramah. Tapi tidak untuk dua orang yang berada di sampingku. Mereka berbisik satu sama lain. Sesekali mereka tertawa mengejek. Aku yang tak suka dengan gelagat mereka memilih untuk diam dan tak menghiraukan sedikitpun.
“Ayo Aufal, kita pergi ke sebelah sana…..” ajak ayah buru-buru. Mungkin ayah tak mau melihatku sedih hanya karena omongan kedua orang itu.
“Apakah kamu suka dengan lukisan ini?” tiba-tiba seorang lelaki paruh baya bertanya kepadaku. Kedua tangannya membawa cat air dan beberapa kuas. Di punggung lelaki itu tampak ransel besar dengan kertas manila putih yang menyembul keluar di bagian atasnya.
“Saya perhatikan dari tadi, sepertinya kamu sangat menyukai lukisan-lukisan ini nak?” imbuh lelaki itu.
“Ya….saya sangat menyukai lukisan ini. saya ingin sekali melukis seperti ini.” kataku bersemangat.
“Benarkah? Kamu bisa melukis?”
“Oh…tentu saja. Saya sangat gemar melukis.”
“Kalau begitu, maukah kamu melukiskannya untukku? Itu jika kamu tidak keberatan.” Pinta lelaki itu tak kalah semangatnya.“
“Dengan senang hati.” jawabku mantap. Kemudian kami keluar dari dalam museum dan mencari tempat teduh di sekitar museum.
“Lukislah seseorang yang kamu sayangi, Nak. Goyangkan kuas itu dengan perasaanmu.” Lelaki itu menatapku iba. Tak lama kemudian, aku mulai menuruti permintaannya.
“Luar biasa…!!! Meskipun kamu memiliki kekurangn fisik, tapi keahlianmu dalam melukis melebihi pelukis terkenal manapun.” Kata-kata lelaki itu membuatku sedikit bangga. Tapi ini semua berkat ibu. Aku tak akan bisa seperti ini jika ibuku tak mengajariku. Seharusnya ibuku lah yang pantas mendapatkan pujian itu.
“Terimakasih, Paman…..”
“Siapa namamu, Nak…?”
“Aufal…” jawab ayah girang.
“Maaf, Pak…!! Anak Anda ini luar biasa. Saya sangat terkejut dengan caranya melukis. Bagaimana bisa Aufal melakukannya? Bolehkah saya bertanya sesuatu?”
“Ya silahkan!!” kata ayah mengizinkan.
“Apakah kekurangan Aufal ini sejak lahir?”
“Ya, Pak….Aufal cacat sejak lahir.” nada suara ayah berubah sedih.
“Maaf, Pak…saya tak bermaksud apa-apa. Kalau begitu, bawalah lukisan itu pulang Aufal. Berikan pada orang yang berada dalam lukisan itu.” Lelaki itu tersenyum kemudian berlalu pergi.
***

Aku tiba di rumah ketika senja sekarat dimbang malam. Lirih suara angin membisikkan sesuatu yang janggal di telinga. Aku melihat kubah langit yang lengang. Di sebelah barat tampak rongga hitam langit menganga. Sepertinya malam ini guyuran hujan akan sangat lebat. Ayah mengultimatumku untuk segera masuk dan menutup semua jendela rumah rapat-rapat. Dari dalam kamar mandi terdengar gemericik air bersahutan. Mungkin itu ibu tiriku yang sedang membersihkan badan. Segera kulangkahkan kaki menuju kamar dan menaruh lukisan ini di tempat yang aman. Karena aku tak bisa melakukannya sendiri, akhirnya kuminta ayah untuk menaruhnya. Dugaanku tak meleset. Samar-samar terdengar rintikan hujan menyerbu atap rumahku. Semakin lama semakin deras. Kuputuskan untuk menunaikan sholat maghrib terlebih dulu. Ternyata dalam musholla ayah sudah menungguku sembari memberi isyarat agar aku berjalan lekas.
Malam ini aku menjalankan sholat maghrib hanya dengan ayah. Ibu tiriku tak ikut karena alasan biasa. Lama aku berada di musholla melantukan ayat suci Al Quran. Aku berniat menunggu adzan isya’ sebelum beranjak tidur. Tak lama berselang, adzan menggema. Sayup-sayup suaranya berbaur bersama derasnya air hujan. Tanpa basa basi akupun kembali berjama’ah dengan ayah. Aku memohon kepada Allah agar aku diberikan kesabaran. Agar Allah memberi ku banyak cinta dan kasih sayangnya. Agar aku bisa mendapatkan kehangatan dan perhatian seorang ibu. Apakah aku salah jika anak berumur sembilan tahun sepertiku haus akan kasih sayang? Seandainya aku mempunyai fisik yang sempurna, aku tak akan pernah merepotkan ayahku lagi, ibu tiriku juga tak akan pernah menghina dan mencaciku.
Untungnya Allah sangat adil. Meskipun kedua lengan dan tanganku tiada, tapi Allah menambahkan kemampuan yang luar biasa kepadaku melalui ibu kandungku. Ya, meskipun aku tak bisa melukis dengan tangan layaknya pelukis-pelukis biasa. Tapi aku masih bisa memanfaatkan anggota tubuh lain untuk menggerakkan kuas-kuas itu. Aku masih bisa menggunakan mulut dan terkadang kakiku untuk memegang kuas. Awalnya aku tak biasa dengan cara seperti itu. Ibuku lah yang memberiku pelajaran dan semangat untuk dapat menghadapi kehidupan ini. Cacat bukanlah akhir dari segalanya. Itulah kata-kata ibu yang terus terekam dalam memoriku. Setelah selesai, aku pamit pada ayah untuk beranjak ke kamar. Kuarahkan kakiku pada engsel pintu dan mendorongnya. Mataku langsung tertuju pada lukisan ibu yang berada tepat di atas tempat tidur. Di samping lukisan ibu telah ada lukisan baru yang terutup kain hitam. Entah kenapa ayah menutupnya dengan kain hitam. Aku sendiri tak tau alasan yang sebenarnya. Tapi itu semua tak terlalu penting. Yang terpenting saat ini adalah orang yang berada dalam lukisan itu adalah orang yang akan kusayang sejajar dengan sayangku pada ibu.
Malam semakin larut. Aku ingin segera memejamkan mata dan berharap bisa bermimpi bertemu ibu. Tiba-tiba pintu kamarku dibuka dan seorang wanita berambut ikal kemerahan masuk dengan membawa segelas susu.
“Aufal…sebelum kamu tidur, minumlah susu hangat ini dulu biar kamu nyenyak tidurnya.” Kata ibu tiriku sembari menyodorkan gelas itu kepadaku. Aku sangat heran dengan tingkah ibu tiriku. Tak biasanya ia berkata lembut dan bahkan membuatkanku susu. Mungkin Allah telah mendengar do’aku. Dengan semangat, kuanggukkan kepala tanda setuju.
“Anak pinter…sini ibu bantu minum, kamu kan nggak bisa pegang sendiri.” Ia mengarahkan gelas itu ke dalam mulutku sembari tersenyum lebar. Rasanya memang sangat lezat.
“Terimakasih, Bu….ibu sangat baik padaku. Aku punya hadiah buat ibu. Aku jamin ibu pasti akan suka.” Kataku bersemangat. Ibu tiriku hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Ia kemudian menutup pintu dan menguncinya.
“Kenapa dikunci, Bu? Ibu ingin tidur di sini bersama Aufal?” lagi-lagi ia tak menjawab. Dengan langkah tenang ia berjalan ke arahku dan duduk tepat di sampingku. Bibirku mulai mengembang berharap bahwa ia akan menemaniku malam ini. Tapi tiba-tiba kepalaku sangat pusing dan badanku mengejang. Serasa sangat sakit. Di tengah-tengah kesakitanku itu, ibu tiriku tertawa lebar. Matanya nampak merah berkilat seakan merasa senang dan puas dengan keadaanku. Aku mulai tak kuat. Bibirku mengeluarkan cairan putih berbusa. Ia menyaksikan penderitaanku dan tak bergeming sedikitpun. Ia kemudian berdiri dan mengobrak-abrik seluruh isi kamarku. Ia membuang semua kuas dan cat air serta peralatan melukis lainnya. Ia seperti kesetanan. Tak puas dengan itu, ia mengambil semua lukisan yang berada di dinding kamarku dan kemudian membantingnya satu persatu. Aku yang tetap bertahan dengan penderitaanku tak bisa berbuat apa-apa. Mataku panas dan aku menangis. Terdengar suara ayah dari luar yang menggedor-gedor pintu kamar. Dengan lantang, berkali-kali ayah memanggil namaku. Ibu tiriku tetap tak merespon. Ia kemudian naik ke atas tempat tidur dan mengambil lukisan ibu dan menatapnya dengan garang.
“Aku sudah balas dendam, denganmu. Sebentar lagi anakmu yang akan menyusulmu ke sana hahahaha…….!!!” Sangat menakutkan sekali. Ia membanting lukisan ibu dengan penuh amarah. Tangannya kemudian mengarah pada lukisan yang tertutup kain hitam. Ia mengambil paksa lukisan itu. Setelah melihat gambar yang ada di dalamnya, ia kemudian terdiam. Alisnya berkerut heran.
“Ini siapa?” bentaknya lantang. Aku tak bisa menjawab. Nafasku seakan berhenti di kerongkongan.
“Ini siapa?” kali ini nada suaranya tak seperti biasanya. Sedikit rendah dan bergetar meskipun matanya masih menyiratkan kebencian. Ia kemudian duduk lemas dan menangis.
“I..tu..a…dalah…eng..kau…i..bu…itu…hadi…ah un..tuk..mu…”kataku terbata yang kemudian disusul dengan busa putih yang semakin lama memberontak keluar. Mendengar perkataanku, ia menangis tiada henti. Ia membalik lukisan itu dan membaca tulisan yang berada di belakangnya. “Aku melukis ini dengan penuh rasa cinta. Aku akan menyayangi ibu tiriku melebihi apapun. Karena selain ayah, ia lah yang mau tinggal bersamaku.”
“Bagaimana bisa kamu melakukan ini?” sembari mengguncang-guncangkan tubuhku, ia menangis sejadinya. Ia merengkuh dan mendekapku erat.
“Kenapa aku bisa melakukan ini semua? Aku telah membunuh orang yang tak berdosa. Aku termakan dendam. Maafkan aku Aufal. Seharusnya ini tak boleh terjadi. Aku menyesal Aufal, bertahanlah…..!!!” ia menyesali perbuatannya. Ia juga berjanji akan menyayangiku. Ia melakukan ini karena ia dendam terhadap ibuku. Aku tak tau sebenarnya masa lalu apa yang terjadi antara ibu dan dan ibu tiriku ini. Tapi aku sangat bahagia karena ibu tiriku mau menyayangiku layaknya anak normal lainnya. Kini aku bisa memejamkan mata dan bisa bersama ibu kandungku di sana selamanya dengan tenang.



























































SECUIL CINTA UNTUKKU
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGfQPA616QnSc0PdBNYSCje_WjN0_z7O3ufV96eaBltTN0COEcGL1c0CoCuoW2l8Znvc7Hqfd8Mwvw6d5T_NvdGg62J0Un-hJuaF4Yd9Ryv7s8hHbtSGygPxgJG9w8ydbxn5i9inbwukY/s72-c/juju.jpg
Read More
TAKDIR YANG MENDAHULUI

TAKDIR YANG MENDAHULUI



TAKDIR YANG MENDAHULUI
Oleh: Risyalah Diwandini

Suara nyaring ayam terdengar saling bersahutan. Sang surya mengintip malu di balik angkuhnya Gunung Arjuna. Terlihat vertikal arah serbuan embun di balik jendela. Serta gumpalan kabut yang menghalangi penglihatan mata, ternyata semakin menambah sejuk Kota Malang pagi ini. Tak jauh dari itu, lalu lalang orang di sepanjang jalanan Kota Malang, tak lain hanya untuk memenuhi hajatnya masing- masing. Sama halnya dengan Reva. Gadis berparas cantik yang juga alumni Pondok Pesantren Tambak Beras itu segera menyambar motor maticnya menuju toko yang bertuliskan Via Bakery. Semenjak ayahnya meninggal, ialah yang menjadi tulang punggung keluarga. Pagi bekerja. Siang kuliah. Kesibukan yang sama sekali tak pernah mematahkan semangatnya. Sifat pantang menyerah dan tegar yang sejak kecil di tanamkan ayahnya selalu melekat pada diri gadis itu.
“Reva, handphone kamu bunyi tuh! Kalau naruh hp jangan sembarangan donk sayang!! Mana naruhnya di atas meja kasir lagi!!!” teriak salah seorang teman kerjanya.
“Oh ya maaf Nad, aku lupa tadi habis dari kamar mandi terus aku taruh situ , coba lihat dari siapa Nad!!”
“Nggak muncul namanya Va!! tapi sepertinya ini nomor telpon Mesir.” kata Nadia.
Mendengar kata Mesir, hatinya pun merekah bak bunga mawar yang baru bangun dari masa kuncupnya. Dengan langkah kilat ia menyambar handphone nya yang sedari tadi setia menunggu kedatanganya.
“Assalamu’alaikum,” suara bening dari seberang mengawali.
"Wa’alaikumsalam,” balas Reva.
“Ukhti, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin tahu kabar ukhti. Lama sekali ukhti tidak memberi kabar.”
Suara lembut lelaki itu mulai menjalar ke dalam telinga Reva. Terekam jelas.
“Hem, maaf akhi, tapi alhamdulillah kabar saya baik. Bagaimana dengan akhi?”
“Alhamdulillah, baik,”
Perlahan perasaan itu kembali memasuki pikiran dan hati Reva. Perasaan rindu yang mendalam. Perasaan yang dipendam 6 tahun lamanya. Perasaan yang membuatnya menolak untuk menerima hati dari orang lain. Perasaan yang dimiliki oleh seorang Hawa, yang sabar menunggu kedatangan Adam.
“Bagaimana kuliah akhi di sana?” sambung Reva.
“Alhamdulillah lancar ukhti. Tapi, ada hal penting yang akan saya sampaikan selain itu.” Jawabnya.
“Apa itu akhi?”
“Satu bulan lagi saya akan di wisuda. Setelah itu kembali ke Indonesia. saya ingin mengkhitbah ukhti. Saya akan berbicara dengan orang tua ukhti.” Jelas Salman.
Lelaki yang selama ini ia harapkan kedatangannya. Lelaki yang menjadi idamannya. Ia seperti tersengat arus listrik 220 volt. Perasaan kaget, senang, dan galau bercampur menjadi satu. Bibirnya kaku untuk menjawab. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia tak tahu harus berbicara apa. Ia teringat ketika menimba ilmu di Pondok pesantren Tambak Beras. Ia hanya bisa memandangi Salman dari kejauhan saja. Sebenarnya, perasaan itu tumbuh dengan sendirinya sejak dulu. Namun, karena statusnya sebagai santri, maka ia urungkan niatnya dan kembali menata hati. Yang ada dalam nuraninya adalah ia percaya bahwa jodoh ada di tangan Tuhan.
Dikerahkan seluruh keberanian pada diri gadis itu. Dengan bibir bergetar ia menjawab.
“Alhamdulillahirabbil’ alamin, sungguh kuasa Mu ya Allah. Insya Allah saya akan sabar menunggu.”
“Terimakasih ukhti. Wassalamu’alaikum.” Salman mengakhiri.
“Wa’alaikumsalam.”

***

Salman adalah orang yang alim dan taat beribadah. Meskipun dikenal pendiam, tapi ia selalu aktif dalam organisasi pondok pesantren. Tak ayal jika ia dikenal banyak orang. Setelah lulus, ia langsung melanjutkan ke perguruan tinggi Mesir. Karena pamannya adalah pemilik pondok pesantren itu, pamannya tahu betul bagaimana santrinya. Dan tak dapat dipungkiri lagi bahwa salah satu santrinya, Reva Nihayatul Kamal, bukan hanya dikenal sebagai orang yang taat, tapi juga cantik dan cerdas. Hari telah habis termakan rakusnya waktu. Sampai berganti minggu. Hingga tanpa pernah disadari, moment yang sangat dinantikan Reva akan menghampirinya 3 hari lagi. Tak bisa digambarkan bagaimana perasaannya saat itu. Bahkan, jika Leonardo Da Vinci, pelukis terkenal dengan sejuta keistimewaan yang dimilikinya, dan menghasilkan lukisan Monalisa pun tak dapat melukiskan suasana hati Reva saat ini. Berkali- kali kalbunya melantunkan syair mahabbah menyerupai karya penyair Kahlil Gibran, yang menuliskan kata- kata indah menyentuh nurani. Beginilah orang yang dimabuk cinta. Ia berani menempatkan kedudukan Salman pada urutan ke 4 setelah cintanya kepada Tuhannya, rasulnya, dan orang tuanya. Berbagai persiapan telah ia lakukan untuk menyambut hari paling indah yang sebentar lagi tertanam dalam hidupnya. Tak tahu kenapa malam itu adalah malam yang menegangkan bagi Reva. Di dalam kamarnya, ia merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. Entah apa itu. Apa karena akan bertemu dengan Salman? Sehingga aku merasa gerogi. Gumamnya dalam hati. Rembulan yang melihatnya pun merasa resah. Sinarnya masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Serupa akan menyampaikan sesuatu. Semilir angin menyibakkan dedaunan. Tiba- tiba...kreeek...suara pintu kamar Reva. Ternyata, ibunya masuk dengan membawa bungkusan berbalut koran. Reva memicingkan mata. Memerhatikan apa yang ada di tangan ibunya. Diperhatikannya setiap langkah ibu tercintanya itu. Sambil melangkah gontai ibunya tersenyum tulus. Wanita yang rambutnya hampir memutih itu, menatap Reva dengan tatapan layu. Ia tahu betul bahwa anak yang ada di hadapanya saat ini merasakan perasaan yang sama dengan dirinya. Tangan keriputnya membelai halus rambut hitam Reva.
”Nak, ibu punya sesuatu untukmu.” Sambil menyodorkan bungkusan “ buka saja anakku.”
Kerutan di kening Reva terlihat jelas. Apa ini? Pikirnya. Sekilas, benda itu memang tak ada artinya. Bungkusnya saja menggunakan koran. Warnanya pun tak sedap di pandang mata. Kuning dan lusuh. Tapi, apapun isinya, bagi Reva adalah sesuatu yang istimewa. Dibukanya bungkusan itu perlahan.
“Nak, ini adalah pemberian almarhum ayahmu. Ibu sangat senang sekali ketika ayahmu memberikan gamis ini. Gamis ini adalah baju teristimewa bagi ibu.
Ini diberi ayahmu ketika kami menikah. Memang harganya tidak terlalu mahal. Tapi, terimalah nak!”
Begitu mendengar ucapan ibunya itu, Reva tak kuat menahan tangis. Buliran air matanya terus mengalir deras. Tak henti- hentinya ia mengecup kening dan pipi ibunya. Ia sangat bahagia. Ia tahu betul, baju itu adalah baju kesayangan ibunya. Baju yang hanya digunakan sekali ketika pernikahan ibu dengan almarhum ayahnya. Baju gamis berwarna merah jambu denagn renda bunga- bunga mengelilingi ujungnya. Jahitan rapi berwarna putih padu memenuhi sebagian lengan baju itu. Sederhana, tapi anggun jika digunakan.
“Ibu ingin kamu memakainya pada saat Salman mengkhitbahmu.”
sejenak Reva membelalak.
“Ibu tahu dari mana?”
“Nak, 22 tahun lamanya kamu hidup bersama ibu. Mulai dari kecil sampai sekarang. Bagaimana mungkin ibu tidak tahu? Sudahlah, ibu merestuimu nak.”
Lengkap sudah kebahagiaan Reva. Ternyata, ia tak perlu susah- susah untuk meminta restu ibunya. Sebenarnya, ia merasa heran, darimana ibunya tahu bahwa Salman akan mengkhitbahnya? Tapi...sudahlah, itu bukan masalah besar. Yang ada dalam pikiran dan hatinya saat ini adalah, ibunya sudah merestui dirinya dengan Salman. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk masa depan Reva. Sudah cukup ia merasakan getir dan kejamnya kehidupan. Semua orang tak pernah mau hidup susah. Tapi, takdir yang berhak menentukan. Bahagia atau sengsara.

***

Memasuki H-2. sebentar lagi, kebahagiaan yang Reva impikan, sudah ada di depan mata. Kebahagiaan yang tidak akan bisa dibayar dengan apapun. Ia melangkah menuju motor matic kesayangannya. Hari ini adalah hari libur ia bekerja. Ia ingin meluangkan sedikit waktunya untuk sekedar menelusuri dunia maya.
“Aku ingin mencari berita tentang Mesir. Mungkin ada berita terbaru seputar mahasiswa Mesir yang belajar di sana. Yaa...sekedar menjadi pengobat rindu.” Gumamnya dalam hati.
Ia memasuki ruangan yang luasnya 1 x 1 meter. Terdapat kayu penghalang setinggi 2 meter berwarna biru, yang mengahalangi antara komputer satu dengan yang lainnya. Sebuah pendingin ruangan terpampang jelas di atas jam dinding. Tampak di depan pintu sebuah banner yang bertuliskan “Haris Net.”
“Aach...jika aku punya komputer sendiri, aku tak perlu pergi ke warnet. Tapi, tak apalah. Ini semua demi Salman. Meskipun aku tah bisa langsung berkomunikasi dengannya, melihat negara tempat ia belajar saja, aku sudah sangat senang. Hitung- hitung, menambah pengetahuan tentang Mesir lah. Hihihi.” Hiburnya dalam hati.
Diketiknya sebuah kata yang bertuliskan ”Google”.
Reva teringat ketika Salman pernah bercerita, bahwa dirinya sangat senang mengunjungi perpustakaan pertama sekaligus terbesar di dunia. Tapi, apa nama perpustakaan itu? Pikir Reva.
Ia mencoba mengingat kembali kata- kata yang pernah Salman ucapkan kepadanya. Sejurus kemudian, ia teringat nama perpustakaan itu. Kemudian diketiknya lagi dua buah kata yang bertuliskan ”Perpustakaan Iskandariyah”.
Perpustakaan Iskandariyah didirikan pada tahun 323 M oleh Ptolemi 1. penguasa yang diberi gelar Soter ini adalah panglima militer yang sangat mencintai ilmu. Perpustakaan ini merupakan perpustakaan pertama sekaligus terbesar di dunia. Tidak hanya itu, Perpustakaan Iskandariyah ini merupakan perpustakaan yang lengkap dan bertahan hingga seribu tahun lamanya.
“Hem,,,pantas saja Salman betah berlama- lama di perpustakaan ini. Perpustakaan ini memang gudangnya ilmu.” Gumam Reva.
Kemudian ia mengarahkan mousenya dan menuliskan sebuah kalimat “Khan el Khalili”. Konon katanya, nama Khan El Khalili ini diambil dari nama Princess Jaharkas el Khalili, salah satu putri yang paling berpengaruh di abad ke 14. ternyata pasar Khan el Khalili ini juga berdekatan dengan Masjid Al Husein dan Al Azhar. Terkadang ia membayangkan pergi ke Mesir. Berkeliling di padang pasir luas dan melihat peninggalan jaman kuno. Keinginan yang ia tak tahu kapan akan terwujud. Setelah puas ia berniat kembali pulang. Di perjalanan, Reva sangat senang sekali. Wajahnya berseri bak bunga matahari. Ia tak sabar ingin segera bertemu dengan Salman. Serasa bangun dari tidur, kemudian bertemu dengan pangeran tampan tambatan hati. Memang dirasa sangat berlebihan. Tapi itulah ibarat perasaan Reva saat ini. Sesampainya di rumah, ia segera mencari ibunya. Ternyata ibu tercintanya itu sedang mencuci piring. Merasa tak enak hati, Reva segera menggantikan ibunya. Ia tak mau melihat ibunya bekerja terlalu keras. Karena ia tahu ibunya mengidap penyakit asma. Jika merasa lelah, penyakitnya akan kambuh. Dilihatnya jam, menunjukkan angka 9. Sebelum Reva berangkat kuliah, ia tak pernah lupa mencium tangan suci ibunya. Tradisi yang seolah menjadi bagian hidupnya. Tradisi yang sakral. Senyum tulus ibunya seolah mengatakan: kau adalah satu- satunya harta yang kumiliki. Reva.

***


Semilir angin malam membekukan bulu roma. Cahaya rembulan terlihat redup dari dalam rumah Reva. Tampak di depan televisi, seorang wanita berbaju gamis hitam dengan raut wajah serius sedang menyimak berita yang hampir menyita perhatiannya. Terdengar jelas suara pembaca berita itu. Sangat jelas.

“Berita hari in datang dari Negara Mesir. Telah terjadi bentrokan antara kelompok pemrotes anti pemerintahan dan pendukung presiden Husni Mubarrak pada selasa kemarin. Presiden yang memerintah lebih dari 30 tahun itu, enggan memenuhi permintaan rakyatnya untuk segera turun dari kursi pemerintahan. Beberapa saat setelah presiden Mesir itu menyampaikan pidato, ratusan pemrotes Mesir bentrok dengan polisi. Ini sangat berdampak buruk bagi nasib WNI yang berada di sana. Pasalnya, enam mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, hingga kini belum diketahui kabarnya.” Betapa terkejutnya ibu Reva, ketika menyaksikan berita itu. Pikirannya langsung tertuju pada Salman. Calon menantunya. Ia sangat panik. Apakah anakku sudah tahu mengenai berita ini? Pikirnya. Ia terus berdo’a untuk Salman. Ia berharap agar Salman tetap baik- baik saja di sana. Ia tak tahu persis dimana Salman tinggal. Apakah dekat, atau jauh dengan aksi bentrokan itu. Yang ia khawatirkan, kepulangan Salman akan tertunda karena masalah ini. Mungkin saja, acara wisudanya juga akan ditunda sementara waktu sampai keadaan kembali membaik. Tak lama kemudian, suara motor Reva membuyarkan bayangan buruk wanita itu. Ia segera menghampiri anaknya yang baru saja pulang dari kuliah.
“Nak, kamu sudah tahu mengenai bentrokan yang terjadi di Mesir saat ini?”
“Sudah bu, Reva sudah mengetahuinya di koran.”
“Lantas, bagaimana dengan Salman? Apakah kamu sudah mencari berita tentang keadaannya?”
“Belum. Tapi setelah ini, Reva akan menelponnya. Ibu tenagng saja. Tidak akan terjadi apa- apa dengannya bu.” Tutur Reva.
“Tapi, perasaan ibu sangat tidak enak. Semoga dia baik- baik saja disana.”
“Amin.”
Dengan cepat ia mengambil handphone yang ada di sakunya. Dicarinya nama Salman Al Farisi pada daftar telpon. Sejurus kemudian, Reva segera menelpon kekasih hatinya itu. Tapi, yang terdengar hanya suara operator dari seberang. Berkali- kali ia mencoba, tapi hasilnya tetap sama. Hanya suara operator yang merayap di dalam telinganya. Perasaan cemas sekaligus takut mulai menggelayuti Reva. Matanya beradu pandang dengan mata ibunya. Tanpa disadari, Reva menitikkan air mata bening. Sebening hatinya. Kemudian, tangan lembut dan suci ibunya mendekap erat tubuh Reva. Ibunya mencoba menenangkan anak semata wayangnya itu. Semakin lama, tubuh Reva berguncang hebat. Ibunya tak kuasa melihat anaknya seperti itu. Ibunya terus memeluk Reva erat, erat, dan semakin erat. Ia yakin, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa Salman. Tapi, feelingnya berkata lain. Feeling seorang ibu, yang juga kekasih Allah.

***
Sebenarnya, hari ini adalah hari kepulangan Salman ke Indonesia. Hari yang seharusnya mendatangkan keberuntungan bagi Reva. Hari yang seharusnya sangat berarti dalam hidup Reva. Hari yang membawanya pada titik kebahagiaan abadi. Tapi, berapapun banyaknya hari yang ada, jika takdir tak menyetujuinya, manusia tak bisa berbuat apa- apa. Semuanya telah tercatat dan dan tak pernah bisa di tawar lagi. Reva membuka bungkusan kecil berbalut kertas merah jambu. Di dalamnya terdapat kertas putih bercorak kelabu. Dibukanya bungkusan itu perlahan.




































Seakan air mata Reva ingin pecah dan tumpah. Hatinya bak tertimpa pohon randu berduri. Teramat sakit. Angannya semburat tergusur oleh kesedihan. Tangannya terasa lemah memegang selembar surat dari Salman. Seperti memegang beban seberat 100 kilo. Dipandanginya cincin berhias permata berwarna putih mengkilap di bagian atasnya. Di dalam cincin itu terukir namanya dan Salman. Berkali-kali ia menciumi cincin itu dengan seluruh cintanya. Ia tak kuat menerima semua ini. Ia sangat mencintai Salman. Ia belum siap jika pujaan hatinya itu pergi jauh. Tapi, apa yang bisa ia perbuat? Semuanya terjadi begitu saja. Waktu tak bisa seenaknya mau berputar kembali. Karena takdir telah berkata. Reva hanya bisa pasrah menerimanya.
Salman tertembak setelah ia pulang dari tempat ia di wisuda. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Tapi nyawanya tak bisa di selamatkan. Ia terlalu banyak mengeluarkan darah. Temannya lah yang menyampaikan berita duka ini pada Reva. Dia juga memberi kabar bahwa, Salman adalah mahasiswa lulusan terbaik di Universitas Al Azhar, Mesir. Sangat disayangkan sekali. Tapi bagaimana pun, kematian Salman merupakan syahid. sekali lagi di katakan, takdir tetap berlaku, dan akan terus berlaku. Manusia harus bisa sabar menerima. Sekarang, takdirlah yang lebih dulu menikmati kebahagiaan Reva.




TAKDIR YANG MENDAHULUI
Oleh: Risyalah Diwandini

Suara nyaring ayam terdengar saling bersahutan. Sang surya mengintip malu di balik angkuhnya Gunung Arjuna. Terlihat vertikal arah serbuan embun di balik jendela. Serta gumpalan kabut yang menghalangi penglihatan mata, ternyata semakin menambah sejuk Kota Malang pagi ini. Tak jauh dari itu, lalu lalang orang di sepanjang jalanan Kota Malang, tak lain hanya untuk memenuhi hajatnya masing- masing. Sama halnya dengan Reva. Gadis berparas cantik yang juga alumni Pondok Pesantren Tambak Beras itu segera menyambar motor maticnya menuju toko yang bertuliskan Via Bakery. Semenjak ayahnya meninggal, ialah yang menjadi tulang punggung keluarga. Pagi bekerja. Siang kuliah. Kesibukan yang sama sekali tak pernah mematahkan semangatnya. Sifat pantang menyerah dan tegar yang sejak kecil di tanamkan ayahnya selalu melekat pada diri gadis itu.
“Reva, handphone kamu bunyi tuh! Kalau naruh hp jangan sembarangan donk sayang!! Mana naruhnya di atas meja kasir lagi!!!” teriak salah seorang teman kerjanya.
“Oh ya maaf Nad, aku lupa tadi habis dari kamar mandi terus aku taruh situ , coba lihat dari siapa Nad!!”
“Nggak muncul namanya Va!! tapi sepertinya ini nomor telpon Mesir.” kata Nadia.
Mendengar kata Mesir, hatinya pun merekah bak bunga mawar yang baru bangun dari masa kuncupnya. Dengan langkah kilat ia menyambar handphone nya yang sedari tadi setia menunggu kedatanganya.
“Assalamu’alaikum,” suara bening dari seberang mengawali.
"Wa’alaikumsalam,” balas Reva.
“Ukhti, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin tahu kabar ukhti. Lama sekali ukhti tidak memberi kabar.”
Suara lembut lelaki itu mulai menjalar ke dalam telinga Reva. Terekam jelas.
“Hem, maaf akhi, tapi alhamdulillah kabar saya baik. Bagaimana dengan akhi?”
“Alhamdulillah, baik,”
Perlahan perasaan itu kembali memasuki pikiran dan hati Reva. Perasaan rindu yang mendalam. Perasaan yang dipendam 6 tahun lamanya. Perasaan yang membuatnya menolak untuk menerima hati dari orang lain. Perasaan yang dimiliki oleh seorang Hawa, yang sabar menunggu kedatangan Adam.
“Bagaimana kuliah akhi di sana?” sambung Reva.
“Alhamdulillah lancar ukhti. Tapi, ada hal penting yang akan saya sampaikan selain itu.” Jawabnya.
“Apa itu akhi?”
“Satu bulan lagi saya akan di wisuda. Setelah itu kembali ke Indonesia. saya ingin mengkhitbah ukhti. Saya akan berbicara dengan orang tua ukhti.” Jelas Salman.
Lelaki yang selama ini ia harapkan kedatangannya. Lelaki yang menjadi idamannya. Ia seperti tersengat arus listrik 220 volt. Perasaan kaget, senang, dan galau bercampur menjadi satu. Bibirnya kaku untuk menjawab. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia tak tahu harus berbicara apa. Ia teringat ketika menimba ilmu di Pondok pesantren Tambak Beras. Ia hanya bisa memandangi Salman dari kejauhan saja. Sebenarnya, perasaan itu tumbuh dengan sendirinya sejak dulu. Namun, karena statusnya sebagai santri, maka ia urungkan niatnya dan kembali menata hati. Yang ada dalam nuraninya adalah ia percaya bahwa jodoh ada di tangan Tuhan.
Dikerahkan seluruh keberanian pada diri gadis itu. Dengan bibir bergetar ia menjawab.
“Alhamdulillahirabbil’ alamin, sungguh kuasa Mu ya Allah. Insya Allah saya akan sabar menunggu.”
“Terimakasih ukhti. Wassalamu’alaikum.” Salman mengakhiri.
“Wa’alaikumsalam.”

***

Salman adalah orang yang alim dan taat beribadah. Meskipun dikenal pendiam, tapi ia selalu aktif dalam organisasi pondok pesantren. Tak ayal jika ia dikenal banyak orang. Setelah lulus, ia langsung melanjutkan ke perguruan tinggi Mesir. Karena pamannya adalah pemilik pondok pesantren itu, pamannya tahu betul bagaimana santrinya. Dan tak dapat dipungkiri lagi bahwa salah satu santrinya, Reva Nihayatul Kamal, bukan hanya dikenal sebagai orang yang taat, tapi juga cantik dan cerdas. Hari telah habis termakan rakusnya waktu. Sampai berganti minggu. Hingga tanpa pernah disadari, moment yang sangat dinantikan Reva akan menghampirinya 3 hari lagi. Tak bisa digambarkan bagaimana perasaannya saat itu. Bahkan, jika Leonardo Da Vinci, pelukis terkenal dengan sejuta keistimewaan yang dimilikinya, dan menghasilkan lukisan Monalisa pun tak dapat melukiskan suasana hati Reva saat ini. Berkali- kali kalbunya melantunkan syair mahabbah menyerupai karya penyair Kahlil Gibran, yang menuliskan kata- kata indah menyentuh nurani. Beginilah orang yang dimabuk cinta. Ia berani menempatkan kedudukan Salman pada urutan ke 4 setelah cintanya kepada Tuhannya, rasulnya, dan orang tuanya. Berbagai persiapan telah ia lakukan untuk menyambut hari paling indah yang sebentar lagi tertanam dalam hidupnya. Tak tahu kenapa malam itu adalah malam yang menegangkan bagi Reva. Di dalam kamarnya, ia merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. Entah apa itu. Apa karena akan bertemu dengan Salman? Sehingga aku merasa gerogi. Gumamnya dalam hati. Rembulan yang melihatnya pun merasa resah. Sinarnya masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Serupa akan menyampaikan sesuatu. Semilir angin menyibakkan dedaunan. Tiba- tiba...kreeek...suara pintu kamar Reva. Ternyata, ibunya masuk dengan membawa bungkusan berbalut koran. Reva memicingkan mata. Memerhatikan apa yang ada di tangan ibunya. Diperhatikannya setiap langkah ibu tercintanya itu. Sambil melangkah gontai ibunya tersenyum tulus. Wanita yang rambutnya hampir memutih itu, menatap Reva dengan tatapan layu. Ia tahu betul bahwa anak yang ada di hadapanya saat ini merasakan perasaan yang sama dengan dirinya. Tangan keriputnya membelai halus rambut hitam Reva.
”Nak, ibu punya sesuatu untukmu.” Sambil menyodorkan bungkusan “ buka saja anakku.”
Kerutan di kening Reva terlihat jelas. Apa ini? Pikirnya. Sekilas, benda itu memang tak ada artinya. Bungkusnya saja menggunakan koran. Warnanya pun tak sedap di pandang mata. Kuning dan lusuh. Tapi, apapun isinya, bagi Reva adalah sesuatu yang istimewa. Dibukanya bungkusan itu perlahan.
“Nak, ini adalah pemberian almarhum ayahmu. Ibu sangat senang sekali ketika ayahmu memberikan gamis ini. Gamis ini adalah baju teristimewa bagi ibu.
Ini diberi ayahmu ketika kami menikah. Memang harganya tidak terlalu mahal. Tapi, terimalah nak!”
Begitu mendengar ucapan ibunya itu, Reva tak kuat menahan tangis. Buliran air matanya terus mengalir deras. Tak henti- hentinya ia mengecup kening dan pipi ibunya. Ia sangat bahagia. Ia tahu betul, baju itu adalah baju kesayangan ibunya. Baju yang hanya digunakan sekali ketika pernikahan ibu dengan almarhum ayahnya. Baju gamis berwarna merah jambu denagn renda bunga- bunga mengelilingi ujungnya. Jahitan rapi berwarna putih padu memenuhi sebagian lengan baju itu. Sederhana, tapi anggun jika digunakan.
“Ibu ingin kamu memakainya pada saat Salman mengkhitbahmu.”
sejenak Reva membelalak.
“Ibu tahu dari mana?”
“Nak, 22 tahun lamanya kamu hidup bersama ibu. Mulai dari kecil sampai sekarang. Bagaimana mungkin ibu tidak tahu? Sudahlah, ibu merestuimu nak.”
Lengkap sudah kebahagiaan Reva. Ternyata, ia tak perlu susah- susah untuk meminta restu ibunya. Sebenarnya, ia merasa heran, darimana ibunya tahu bahwa Salman akan mengkhitbahnya? Tapi...sudahlah, itu bukan masalah besar. Yang ada dalam pikiran dan hatinya saat ini adalah, ibunya sudah merestui dirinya dengan Salman. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk masa depan Reva. Sudah cukup ia merasakan getir dan kejamnya kehidupan. Semua orang tak pernah mau hidup susah. Tapi, takdir yang berhak menentukan. Bahagia atau sengsara.

***

Memasuki H-2. sebentar lagi, kebahagiaan yang Reva impikan, sudah ada di depan mata. Kebahagiaan yang tidak akan bisa dibayar dengan apapun. Ia melangkah menuju motor matic kesayangannya. Hari ini adalah hari libur ia bekerja. Ia ingin meluangkan sedikit waktunya untuk sekedar menelusuri dunia maya.
“Aku ingin mencari berita tentang Mesir. Mungkin ada berita terbaru seputar mahasiswa Mesir yang belajar di sana. Yaa...sekedar menjadi pengobat rindu.” Gumamnya dalam hati.
Ia memasuki ruangan yang luasnya 1 x 1 meter. Terdapat kayu penghalang setinggi 2 meter berwarna biru, yang mengahalangi antara komputer satu dengan yang lainnya. Sebuah pendingin ruangan terpampang jelas di atas jam dinding. Tampak di depan pintu sebuah banner yang bertuliskan “Haris Net.”
“Aach...jika aku punya komputer sendiri, aku tak perlu pergi ke warnet. Tapi, tak apalah. Ini semua demi Salman. Meskipun aku tah bisa langsung berkomunikasi dengannya, melihat negara tempat ia belajar saja, aku sudah sangat senang. Hitung- hitung, menambah pengetahuan tentang Mesir lah. Hihihi.” Hiburnya dalam hati.
Diketiknya sebuah kata yang bertuliskan ”Google”.
Reva teringat ketika Salman pernah bercerita, bahwa dirinya sangat senang mengunjungi perpustakaan pertama sekaligus terbesar di dunia. Tapi, apa nama perpustakaan itu? Pikir Reva.
Ia mencoba mengingat kembali kata- kata yang pernah Salman ucapkan kepadanya. Sejurus kemudian, ia teringat nama perpustakaan itu. Kemudian diketiknya lagi dua buah kata yang bertuliskan ”Perpustakaan Iskandariyah”.
Perpustakaan Iskandariyah didirikan pada tahun 323 M oleh Ptolemi 1. penguasa yang diberi gelar Soter ini adalah panglima militer yang sangat mencintai ilmu. Perpustakaan ini merupakan perpustakaan pertama sekaligus terbesar di dunia. Tidak hanya itu, Perpustakaan Iskandariyah ini merupakan perpustakaan yang lengkap dan bertahan hingga seribu tahun lamanya.
“Hem,,,pantas saja Salman betah berlama- lama di perpustakaan ini. Perpustakaan ini memang gudangnya ilmu.” Gumam Reva.
Kemudian ia mengarahkan mousenya dan menuliskan sebuah kalimat “Khan el Khalili”. Konon katanya, nama Khan El Khalili ini diambil dari nama Princess Jaharkas el Khalili, salah satu putri yang paling berpengaruh di abad ke 14. ternyata pasar Khan el Khalili ini juga berdekatan dengan Masjid Al Husein dan Al Azhar. Terkadang ia membayangkan pergi ke Mesir. Berkeliling di padang pasir luas dan melihat peninggalan jaman kuno. Keinginan yang ia tak tahu kapan akan terwujud. Setelah puas ia berniat kembali pulang. Di perjalanan, Reva sangat senang sekali. Wajahnya berseri bak bunga matahari. Ia tak sabar ingin segera bertemu dengan Salman. Serasa bangun dari tidur, kemudian bertemu dengan pangeran tampan tambatan hati. Memang dirasa sangat berlebihan. Tapi itulah ibarat perasaan Reva saat ini. Sesampainya di rumah, ia segera mencari ibunya. Ternyata ibu tercintanya itu sedang mencuci piring. Merasa tak enak hati, Reva segera menggantikan ibunya. Ia tak mau melihat ibunya bekerja terlalu keras. Karena ia tahu ibunya mengidap penyakit asma. Jika merasa lelah, penyakitnya akan kambuh. Dilihatnya jam, menunjukkan angka 9. Sebelum Reva berangkat kuliah, ia tak pernah lupa mencium tangan suci ibunya. Tradisi yang seolah menjadi bagian hidupnya. Tradisi yang sakral. Senyum tulus ibunya seolah mengatakan: kau adalah satu- satunya harta yang kumiliki. Reva.

***


Semilir angin malam membekukan bulu roma. Cahaya rembulan terlihat redup dari dalam rumah Reva. Tampak di depan televisi, seorang wanita berbaju gamis hitam dengan raut wajah serius sedang menyimak berita yang hampir menyita perhatiannya. Terdengar jelas suara pembaca berita itu. Sangat jelas.

“Berita hari in datang dari Negara Mesir. Telah terjadi bentrokan antara kelompok pemrotes anti pemerintahan dan pendukung presiden Husni Mubarrak pada selasa kemarin. Presiden yang memerintah lebih dari 30 tahun itu, enggan memenuhi permintaan rakyatnya untuk segera turun dari kursi pemerintahan. Beberapa saat setelah presiden Mesir itu menyampaikan pidato, ratusan pemrotes Mesir bentrok dengan polisi. Ini sangat berdampak buruk bagi nasib WNI yang berada di sana. Pasalnya, enam mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, hingga kini belum diketahui kabarnya.” Betapa terkejutnya ibu Reva, ketika menyaksikan berita itu. Pikirannya langsung tertuju pada Salman. Calon menantunya. Ia sangat panik. Apakah anakku sudah tahu mengenai berita ini? Pikirnya. Ia terus berdo’a untuk Salman. Ia berharap agar Salman tetap baik- baik saja di sana. Ia tak tahu persis dimana Salman tinggal. Apakah dekat, atau jauh dengan aksi bentrokan itu. Yang ia khawatirkan, kepulangan Salman akan tertunda karena masalah ini. Mungkin saja, acara wisudanya juga akan ditunda sementara waktu sampai keadaan kembali membaik. Tak lama kemudian, suara motor Reva membuyarkan bayangan buruk wanita itu. Ia segera menghampiri anaknya yang baru saja pulang dari kuliah.
“Nak, kamu sudah tahu mengenai bentrokan yang terjadi di Mesir saat ini?”
“Sudah bu, Reva sudah mengetahuinya di koran.”
“Lantas, bagaimana dengan Salman? Apakah kamu sudah mencari berita tentang keadaannya?”
“Belum. Tapi setelah ini, Reva akan menelponnya. Ibu tenagng saja. Tidak akan terjadi apa- apa dengannya bu.” Tutur Reva.
“Tapi, perasaan ibu sangat tidak enak. Semoga dia baik- baik saja disana.”
“Amin.”
Dengan cepat ia mengambil handphone yang ada di sakunya. Dicarinya nama Salman Al Farisi pada daftar telpon. Sejurus kemudian, Reva segera menelpon kekasih hatinya itu. Tapi, yang terdengar hanya suara operator dari seberang. Berkali- kali ia mencoba, tapi hasilnya tetap sama. Hanya suara operator yang merayap di dalam telinganya. Perasaan cemas sekaligus takut mulai menggelayuti Reva. Matanya beradu pandang dengan mata ibunya. Tanpa disadari, Reva menitikkan air mata bening. Sebening hatinya. Kemudian, tangan lembut dan suci ibunya mendekap erat tubuh Reva. Ibunya mencoba menenangkan anak semata wayangnya itu. Semakin lama, tubuh Reva berguncang hebat. Ibunya tak kuasa melihat anaknya seperti itu. Ibunya terus memeluk Reva erat, erat, dan semakin erat. Ia yakin, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa Salman. Tapi, feelingnya berkata lain. Feeling seorang ibu, yang juga kekasih Allah.

***
Sebenarnya, hari ini adalah hari kepulangan Salman ke Indonesia. Hari yang seharusnya mendatangkan keberuntungan bagi Reva. Hari yang seharusnya sangat berarti dalam hidup Reva. Hari yang membawanya pada titik kebahagiaan abadi. Tapi, berapapun banyaknya hari yang ada, jika takdir tak menyetujuinya, manusia tak bisa berbuat apa- apa. Semuanya telah tercatat dan dan tak pernah bisa di tawar lagi. Reva membuka bungkusan kecil berbalut kertas merah jambu. Di dalamnya terdapat kertas putih bercorak kelabu. Dibukanya bungkusan itu perlahan.




































Seakan air mata Reva ingin pecah dan tumpah. Hatinya bak tertimpa pohon randu berduri. Teramat sakit. Angannya semburat tergusur oleh kesedihan. Tangannya terasa lemah memegang selembar surat dari Salman. Seperti memegang beban seberat 100 kilo. Dipandanginya cincin berhias permata berwarna putih mengkilap di bagian atasnya. Di dalam cincin itu terukir namanya dan Salman. Berkali-kali ia menciumi cincin itu dengan seluruh cintanya. Ia tak kuat menerima semua ini. Ia sangat mencintai Salman. Ia belum siap jika pujaan hatinya itu pergi jauh. Tapi, apa yang bisa ia perbuat? Semuanya terjadi begitu saja. Waktu tak bisa seenaknya mau berputar kembali. Karena takdir telah berkata. Reva hanya bisa pasrah menerimanya.
Salman tertembak setelah ia pulang dari tempat ia di wisuda. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Tapi nyawanya tak bisa di selamatkan. Ia terlalu banyak mengeluarkan darah. Temannya lah yang menyampaikan berita duka ini pada Reva. Dia juga memberi kabar bahwa, Salman adalah mahasiswa lulusan terbaik di Universitas Al Azhar, Mesir. Sangat disayangkan sekali. Tapi bagaimana pun, kematian Salman merupakan syahid. sekali lagi di katakan, takdir tetap berlaku, dan akan terus berlaku. Manusia harus bisa sabar menerima. Sekarang, takdirlah yang lebih dulu menikmati kebahagiaan Reva.


TAKDIR YANG MENDAHULUI
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirR5h70Asa9IoOKDM0HxeI9dazblDMzJi0UI-FUkVi8SqnxIZ7wBCgFT9mlAO8EyLOIIh6D2rGH1oDMI8AHyRrZ_C8aeVU0IB_l0K3oR4hO6Wg7C6QXNQiJQ8kjr1JwK6U9iMvLD-uHGk/s72-c/koko.jpeg
Read More
PENCURI DONAT

PENCURI DONAT



PENCURI DONAT

Oleh: Risyalah Diwandini

Libur lebaran tahun ini, aku memutuskan untuk berlibur ke rumah nenek. Tepatnya di Kota Lamongan. Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang special akan terjadi. Mungkin karena aku terbawa perasaan senang karena salam tempelku tahun ini bertambah tebal. Atau mungkin saja ada hal lain yang akan terjadi. Ah, masa bodoh dengan perasaanku.
Tiga hari kuhabiskan waktu di rumah nenekku dengan sebaik-baiknya. Berbagai macam kegiatan banyak kulakukan. Mulai dari pekerjaan rumah, sampai membantu nenekku membuat kue untuk toko bakerynya. Sangat menyenangkan bukan?
Setelah merasa lelah berada di dapur kue, akhirnya kuputuskan untuk istirahat sembari menjaga toko kue. “Sepi sekali sore ini, padahal tadi pagi antrian depan toko penuh.” Batinku. Melihat kue-kue itu, perutku seakan berkonser ria. Lapar sekali rasanya.
Ketika akan akan mengambil kue yang berada di atas loyang, tiba-tiba seorang pembeli datang.
“Eh…minta kuenya dong!!” serunya sembari menunjuk donat yang sedang kubawa.
“Minta? Beli dong!! Enak aja minta-minta!!” omelku nggak kalah ketus.
“Suka-suka akulah. Mau minta atau mau beli. Nggak ada urusannya sama kamu!” celoteh cowok itu nggak jelas.
“Ya ada lah…aku kan penjual di sini. Sedangkan kamu? Dateng-dateng langsung nodong minta kue!”
“Alah…banyak omong kamu! Mana donatnya!!”
Belum sempat aku membuka mulut, cowok itu telah merampas donatku dan melahapnya. Dengan mulut penuh donat, ia tersenyum sembari berterima kasih dan kemudian berlalu pergi. Aku yang masih shock dengan kejadian itu tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Berbagai pertanyaan timbul di benakku. Siapa cowok gila itu? Tiba-tiba datang dan merampas kue donatku. Tampangnya sih lumayan ganteng. Tapi kelakuannya itu kayak perampok. Dasar orang sinting. Awas kalau ketemu lagi. Umpatku dalam hati.

***

Malam ini terasa sangat renyah. Rembulan memancarkan cahayanya dengan gamblang. Semilir angin yang menerpa wajahku, seakan membelai lembut pipiku. Suara jangkrik yang saling bersahutan mengiringi tiap langkahku. Tentu saja, malam ini aku akan berkunjung ke rumah saudara bersama mama dan papaku. Kata mama, memang kami berstatus sebagai saudara, tapi tepatnya saudara jauh.
Rumah saudaraku itu tak terlampau jauh dari rumah nenek. Hanya berjarak 200 m. Sepanjang perjalanan kepalaku masih dipenuhi dengan kejadian tadi sore. Bulu kudukku seakan bergidik jika teringat cowok sinting itu. Seumur hidupku, belum pernah aku menemukan cowok yang pergi tanpa dosa setelah berhasil mengambil paksa makanan orang lain. Mama ynag melihatku melamun, segera menghampiriku.
“Alfi kok masih bengong sih? Ayo cepetan masuk…”
“Eh..h..ya, Ma…!!” jawabku gelagapan.
Setelah lama berbincang-bincang di ruang tamu dengan tante Ani, ternyata aku merasa bosan juga. Kuputuskan untuk keluar rumah dengan alasan ingin menghirup udara segar.
“Hemm…lebih nyaman di sini. Di dalam hawanya panas banget. Mana mama sama papa ngomongin masalah kerjaan sama tante Ani. Bosen juga jadinya.”
Seperti merasa bebas, aku berdiri di depan teras sembari meregangkan otot-ototku yang kaku bak kawat besi. Sesekali aku memutar-mutar punggung dan juga tanganku. Kemudian mendendangkan lagu Korea favoritku.
“Hmm…ternyata suaraku merdu juga. Nggak salah kalau temen-temen muji. Hehehe.”
“Huahahaha….!!!”
Tiba-tiba seorang cowok tertawa terbahak-bahak. Aku sangat kaget dibuatnya. Tunggu sebentar…sepertinya aku mengenal suara itu. Semoga dugaanku salah. Untuk memastikan hal mengerikan itu, aku segera menoleh ke sumber suara.
“Kamu? Ngapain kamu ada di sini?” tanyaku dengan mata hampir jatuh.
“Hahaha…dasar cewek aneh. Kamu sendiri ngapain olahraga malem-malem gini? Pakek nyanyi-nyanyi segala. Tau nggak? Kayaknya temen-temenmu itu telinganya pada error deh..!! Suara kayak ayam begitu dibilang merdu. Hahaha…!!”
“Eh…sembarangan banget ngatain temenku kayak gitu. Otakmu tuh yang error. Dasar pencuri donat!!”
“Terserahlah….”
“Eh..sejak kapan kamu ada di situ?” tanyaku penasaran.
“Terserah aku dong..!! Ini rumahku..en dari tadi aku udah ada di sini.” jawabnya enteng.
“Ha? Rumahmu? Nggak mungkin. Ini kan rumahnya Tante Ani.”
“Tante Ani itu ibuku dodol…!!”
Seribu tangan telah menampar mukaku. Darahku seakan berhenti mengalir mendengar ucapannya. Benarkah Tante Ani itu ibunya? Oh my God.
“Ada apa sih kok rame-rame?”
Tante Ani yang keluar dari rumah diikuti mama bertanya dengan wajah panik.
“Ada apa Alfi?” mama menimpali.
“Oh…nggak ada apa-apa kok, Ma…!!”
“Syarif juga ada di sini ternyata. Ooh …jadi kalian sudah saling kenal?”

Siapa nama cowok itu? Syarif? Dan emang bener dia anaknya Tante Ani? Duh Gusti…kenapa bisa mbulet begini…


***

Memasuki hari ke lima aku berada di rumah nenek. Seperti biasa, kegiatan membantu nenek berjualan di toko harus kulakoni dengan baik hari ini. Sebenarnya, aku ingin mengatakan kepada nenek kalau hari ini aku ingin cuti. Hehehe (kayak pekerja kantoran aja minta cuti). Aku ingin ke pantai untuk sekedar refreshing. Tapi, secepat mungkin kuurungkan niatku. Mama dan papa pasti tidak akan membiarkanku pergi sendiri. Jadilah aku penjaga toko donat yang setia pada majikannya. Nasib!
“Heh…ngelamun aja..!! Ntar kesambet ..!!”
Suara nyaring itu. Syarif. Sedikit cengiran di wajah tampannya. Mau nggak mau aku harus mengakui kalau Syarif memang tampan. Bahkan sangat tampan. Kulitnya bersih dan badannya atletis. Tapi kalau ingat kelakuannya itu, malas sekali aku mengesahkan pengakuanku tadi. Huh!!
“Males..” selorohku sewot.
“Dari pada duduk terdiam di sini. Mendingan kita jalan-jalan ke pantai.” ajaknya penuh semangat.
Mendengar kata pantai, telinga dan mataku seakan menggelinding ke lantai. Kaget. Kesempatan yang bagus sekali. Sesuai dengan keinginanku. Tapi aku harus menimbang-nimbang lagi jika harus pergi dengan cowok ini. Bisa-bisa aku mati darah tinggi dibuatnya.
“Udah…pergi aja Alfi. Kamu kan belum jalan-jalan. Mumpung Syarif mau nganterin.” kata Tante Ani sembari menata donat-donatnya.
“Tapi Tante….”
“Tapi kenapa? Takut sama mama papamu? Udah nggak usah khawatir, nanti tante bilangin sama mereka. Udah sana pergi!!”
Tanpa basa-basi lagi, Syarif menarik tanganku meninggalkan toko. Entah kenapa aku tak bisa melawan tindakannya itu. Lidah dan tanganku kelu. Dan kenapa di saat yang seperti ini, tanganku merasa sangat nyaman berada dalam genggaman Syarif. Perasaanku tiba-tiba tak menentu. Antara senang dan kesal.
Senang? Kenapa aku bisa senang? Tak sepantasnya aku mempunyai perasaan ini.
Setelah menjejakkan ingatan ke alam sadarku, aku segera melepaskan genggamannya.
“Aduuh…apa-apaan sih? Sakit tau…!! Aku bisa jalan sendiri..!!” seruku penuh emosi.
“Berisik….cepetan naik!!” suruhnya mantap.
Enak sekali ia memerintahku seperti itu. Seperti majikan menyuruh hewan peliharaan.
“Mau kemana?” protesku kesal.
“Ya ke pantailah…mau ke mana lagi emangnya?”
“Naik motor?”
“Ya sayang…!!” ia kemudian tersenyum.
Apa tadi dia bilang? Sayang? Iihh…amit-amit deh..ngapain coba dia manggil kayak gitu.
Tapi, kenapa hatiku seperti akan melompat girang?
Dan kemudian deru suara motor berjalan beriringan denagn detak jantungku yang semakin lama semakin express.

***

Subhanallah...
Indah sekali pemandangan di sini. Bola mataku tak henti-hentinya tertawa riang melihat keindahan yang tak lain adalah setitik dari penciptaan sang kreator alam. Sungguh dialah yang maha segalanya. Pemilik sah 99 sifat sempurna, Asmaul Husna.
Tampak deburan ombak lincah berkejaran. Meliuk-liuk menyisir hamparan samudra banyu. Tak ada batas menghalangi pandanganku. Semuanya terasa bebas.
“Jika aku memandang jutaan air terkurai bebas di sana, aku merasa semua beban yang ada dalam hatiku lenyap tersapu ombak. Terasa enteng dan bebas. Dan setiap kali aku punya masalah, aku selalu menumpahkannya di sini. Di tempat inilah aku me-refresh pikiranku. Bukankah kamu juga merasakan hal yang sama?”
Kata-kata Syarif membuatku terenyuh. Baru kali ini aku melihat ekspresi di wajahnya berubah menjadi sendu. Ternyata dibalik sosoknya yang menjengkelkan dan sembrono, Syarif juga memiliki kepribadian yang hangat.
“He’em....” Aku menganggukkan kepala tanda setuju.
“Kadang kala aku merasa takut jika sesuatu yang selama ini aku impikan tidak akan pernah terealisasi. Aku takut kepada orang tuaku. Aku takut mereka tidak akan menyetujui keinginanku ini.” Raut wajahnya berubah sedih.
“Keinginan apa maksudmu?” tanyaku penasaran.
“Cita-citaku untuk mengabdi kepada negara. Pekerjaan yang membutuhkan keberanian dan mental yang cukup besar. Dan karena alasan itulah mungkin orng tuaku tidak akan meridloiku.” Katanya datar.
“Emang kamu udah nanya sama Tante Ani?”
“Belum...”
“Sesuatu yang belum kamu ketahui jawabannya dengan mudah kamu anggap sebagai halangan. Apakah orang tuamu akan melarang jika itu demi kebaikanmu?
Semua orang tua di dunia ini akan mendukung apapun keinginan kita jika emang itu berdampak positif bagi kita dan juga orang lain. Kalaupun emang mereka tidak setuju, bukan berarti kita tidak akan selamanya menggapai impian kita kan?
Kita harus bisa meluruskan apa yang sebenarnya menjadi keinginan kita dan orang tua kita.”
Dengan nada sok menggurui, aku berkata panjang lebar. Tentu saja ia sangat kaget dengan perubahan sikapku bak Bung Tomo yang membakar semangat arek Suroboyo dengan pidatonya. Sejenak ia memandang ke arahku sembari tersenyum.entah apa makna dari senyumannya itu. Tapi yang pasti, setiap kali ia tersenyum padaku, desiran di dadaku semakin bergemuruh mencoba membobol perasaanku. Kenapa aku tak bisa menahannya? Maafkan aku Syarif. Tak sepantasnya aku memiliki perasaan ini.

***

Sejak kejadian saat itu, kedekatanku dengan Syarif bertambah level. Semakin terasa lama dan ketagihan. Aku dan Syarif bak magnet yang yang jika didekatkan tak akan mudah dipisah. Harus kuakui aku telah terserang virus merah jambu. Seandainya aku tak bisa mengobatinya, pastilah hatiku akan habis digerogoti virus itu. Tapi setelah kupikir-pikir biarlah virus itu terus berkembang dan merajai perasaanku. Toh, virus itu tak menyebabkan kematian. Lagi pula ada saja cara untuk berbagi kangen dengan Syarif. Ya, meskipun saat ini aku sudah menapaki rumahku lagi, aku masih bisa berkomunikasi dengannya melalui handphone. Sedih sekali rasanya tak bisa bersua. Sampai pikiran dan hatiku habis terkuras dengan bayangan kinclong wajah Syarif.
Hari menggilas minggu. Hingga akhirnya minggu pun termakan oleh bulan. Genap sudah empat bulan masa pendekatanku dengan Syarif. Masa yang selamanya akan menemani indahku. Itu selalu menjadi harapan yang paten dalam otakku. Tanpa sadar, banyak sekali orang yang menentang kebahagiaanku ini. Termasuk mamaku. Orang yang selama ini mengorbankan separuh hidupnya untuk memupukku. Mama tak mau aku jatuh cinta pada saudaraku sendiri. Ia juga sempat mengharamkan aku untuk terus berkomunikasi dengan Syarif. Semuanya tak adil. Mengapa di saat kebahagiaan hinggap, mama menjelma menjadi makhluk jahat yang mengusirnya? Dimana letak kesalahanku? Hingga mama mengatakan kalau batin dan mata telanjangku telah terbalut cinta buta. Aku masih sangat ingat betul bagaimana mama mengatakan itu setelah ia membaca sms Syarif. Berisi tentang janji Syarif kepadaku. Janji untuk mengkhitbahku setelah ia berhasil menggapai mimpinya. Ternyata, semua omongannya itu tak menjadi bualan semata. Syarif menghilang dalam kehidupanku tiga bulan lamanya. Tak ada kabar dari keluarganya. Tak ada telpon dan sms darinya. Lebih parahnya lagi, ia tak memberitahuku perihal kemana dan apa cita-citanya.
Ya Rabb....
Dosakah aku jika aku melabuhkan cintaku ini pada Syarif?
Cemburukah Engkau jika rasa cintaku ini begitu besar pada-Nya?
Ku mohon ya Rahmaan....
Pertemukan aku dengannya
Aku tak bisa membendung lagi perasaan ini
Aku semakin terjerembab.....
Seharusnya aku berkonsentrasi untuk menghadapi Ujian Nasional yang bulan depan akan segera menghampiriku. Tapi jika masalah ini yang Engkau hadapkan kepadaku, aku takut tak bisa menerima dengan ikhlas.
Ampuni aku ya Rabb....
Ampuni aku....

***

Tuntas sudah Ujian Nasionalku. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Sekarang aku harus berpikir keras untuk masa depanku. Aku tak boleh melihat ke belakang lebih lama. Karena itu akan membuat hatiku semakin miris.
Syarif....
Lagi-lagi bayanganmu tak bisa kuusir begitu saja. Aku hanya ingin mengatakan kabar bahagia ini kepadamu. Aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan dan aku diterima di universitas yang aku inginkan. Aku sempat berpikir kalau aku tak akan bisa berperang demi kelulusanku. Tapi, mama dan papa terus mensuportku.
Lalu bagaimana kabarmu? Sedang apa kau di sana? Masih ingatkah kau dengan janjimu?
Bertubi-tubi pertanyaan di benakku timbul meronta meminta jawaban. Mereka menghancurkan kerak cintaku dan berusaha meluruhkannya. Mereka menghasutku dan membisikkanku kata-kata yang tak ingin kudengar. Syarif telah melupakanmu. Ia bahkan tak ingat dengan janjinya. Tidaaaaaaaakkk.....
“Tok...tok...tok... Assalamu’alaikum...”
Tiba-tiba seseorang mengetok pintu rumah. Membuatku berjingkat kaget. Siapa sih malem-malem gini...? Segera kupercepat langkahku.
“Eh...Tante Ani sama Om Faruq, monggo masuk. Tumben malem-malem ke sini Tante. Ada perlu apa?”
“Mama sama papamu ada Fi?”
“Oh...ada Tante, sebentar ya...Alfi panggilkan...”
Belum sempat kau berdiri, aku melihat seseorang yang sangat kukenal berdiri di ambang pintu. Seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seseorang yang menabur benih cinta dalam ladang hatiku.
Syarif...
Kakiku seakan lumpuh tak bisa bergerak. Mataku terus menatap tak percaya pada sosok yang sekarang ini memenuhi kornea mataku. Badanku kelu tapi hatiku melompat-lompat kegirangan. Di dalamnya terdengar tepuk tangan membahana memenuhi ruang hatiku.
“Ada tamu rupanya....tumben dateng malem-malem An?...Pasti ada hal penting.”
Dari belakang suara mama membawaku kembali ke alam sadar.
“Iya, gini lho...kedatanganku ke sini ingin menyampaikan sesuatu yang menjadi keinginan Syarif.” ucap Tante Ani dengan lembut.
“Syarif...? Kamu kemana aja tiga bulan terakhir ini? Katanya nggak di rumah...” tanya mama kaget.
“Ya tante...saya persiapan buat masuk TNI AL. Kebetulan memang saya rahasiakan. Karena takut mama sama papa tidak akan setuju. Tapi ternyata beliau menyetujui bahkan sangat mendukung keputusan saya. Ini semua berkat seseorang yang telah menyemangati dan meyakinkan saya untuk selalu positive thinking.”
Mendengar penuturan Syarif, hatiku terasa lega. Pertanyaan yang selama ini memberontak meminta jawaban akhirnya kesampaian. Aku hanya bisa tersenyum memandangnya penuh arti.
“Dan niatan saya untuk kemari adalah ingin mengkhitbah Alfi....”
Betapa terkejutnya mama mendengar kata-kata terakhir Syarif. Tampak raut muka mama berubah gusar. Ruangan hening seketika. Aku yang hanya bisa diam pasrah menunggu amukan mama. Untung saja papa tak ikut andil dalam penentangan ini. Papa hanya memandangku dengan tatapan layunya kemudian mengangguk sembari tersenyum tulus.
“Tapi bukankah pernikahan antar saudara itu diharamkan? Allah akan melaknat bagi semua hamba yang melanggar. Maaf Syarif, saya sangat menghargai niat baikmu itu. Tapi apakah tak sebaiknya kau pikir lagi?” kamu harus ingat... Alfi itu saudaramu...”
Sudah kuduga mama akan berbicara seperti itu ruangan yang semakin memanas ini kembali hening.
“Sebelumnya saya minta maaf ini terlalu cepat. Tapi saya bersungguh-sungguh tante. Mungkin tante belum mengetahui status saya di keluarga ini. Biar saya jelaskan terlebih dulu. Memang Allah telah melarang pernikahan yang dilakukan antar saudara kandung ataupun saudara dekat lainnya. Karena itu akan berdampak buruk bagi anak turun pasangan tersebut. Saya berani mengkhitbah Alfi karena saya tau bahwa saya bukanlah anak kandung dari mama dan papa. Sejak bayi saya memang diasuh dan dibesarkan oleh mama Ani. Mama Ani mengadopsi saya menjadi anaknya.....”
Seterusnya Syarif menceritakan panjang lebar asal usulnya. Ia juga mengatakan kalau aku dan Syarif termasuk saudara jauh. Jadi, dalam Islam tak ada masalah jika ia menikahiku.
Mama menganggukkan kepala tanda mengerti. Kemudian mama melirik ke arah papa dan dengan tenang mama membuka mulutnya.
“Saya tidak setuju.........”
Kata-kata mama membuatku tercekik. Nafasku berhenti di kerongkongan. Suara keras detak jantungku beriringan dengan keringat Syarif yang mengalir menyerupai biji jagung.
“Saya tidak setuju........jika kalian tidak menikah...”
Lama aku mencerna kata-kata mama. Setelah sadar, aku segera menghambur ke arah mama dan menciumi pipinya berkali-kali. Ternyata mama memang sayang padaku.
“Makasih ma......” ucapku penuh haru.



PENCURI DONAT

Oleh: Risyalah Diwandini

Libur lebaran tahun ini, aku memutuskan untuk berlibur ke rumah nenek. Tepatnya di Kota Lamongan. Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang special akan terjadi. Mungkin karena aku terbawa perasaan senang karena salam tempelku tahun ini bertambah tebal. Atau mungkin saja ada hal lain yang akan terjadi. Ah, masa bodoh dengan perasaanku.
Tiga hari kuhabiskan waktu di rumah nenekku dengan sebaik-baiknya. Berbagai macam kegiatan banyak kulakukan. Mulai dari pekerjaan rumah, sampai membantu nenekku membuat kue untuk toko bakerynya. Sangat menyenangkan bukan?
Setelah merasa lelah berada di dapur kue, akhirnya kuputuskan untuk istirahat sembari menjaga toko kue. “Sepi sekali sore ini, padahal tadi pagi antrian depan toko penuh.” Batinku. Melihat kue-kue itu, perutku seakan berkonser ria. Lapar sekali rasanya.
Ketika akan akan mengambil kue yang berada di atas loyang, tiba-tiba seorang pembeli datang.
“Eh…minta kuenya dong!!” serunya sembari menunjuk donat yang sedang kubawa.
“Minta? Beli dong!! Enak aja minta-minta!!” omelku nggak kalah ketus.
“Suka-suka akulah. Mau minta atau mau beli. Nggak ada urusannya sama kamu!” celoteh cowok itu nggak jelas.
“Ya ada lah…aku kan penjual di sini. Sedangkan kamu? Dateng-dateng langsung nodong minta kue!”
“Alah…banyak omong kamu! Mana donatnya!!”
Belum sempat aku membuka mulut, cowok itu telah merampas donatku dan melahapnya. Dengan mulut penuh donat, ia tersenyum sembari berterima kasih dan kemudian berlalu pergi. Aku yang masih shock dengan kejadian itu tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Berbagai pertanyaan timbul di benakku. Siapa cowok gila itu? Tiba-tiba datang dan merampas kue donatku. Tampangnya sih lumayan ganteng. Tapi kelakuannya itu kayak perampok. Dasar orang sinting. Awas kalau ketemu lagi. Umpatku dalam hati.

***

Malam ini terasa sangat renyah. Rembulan memancarkan cahayanya dengan gamblang. Semilir angin yang menerpa wajahku, seakan membelai lembut pipiku. Suara jangkrik yang saling bersahutan mengiringi tiap langkahku. Tentu saja, malam ini aku akan berkunjung ke rumah saudara bersama mama dan papaku. Kata mama, memang kami berstatus sebagai saudara, tapi tepatnya saudara jauh.
Rumah saudaraku itu tak terlampau jauh dari rumah nenek. Hanya berjarak 200 m. Sepanjang perjalanan kepalaku masih dipenuhi dengan kejadian tadi sore. Bulu kudukku seakan bergidik jika teringat cowok sinting itu. Seumur hidupku, belum pernah aku menemukan cowok yang pergi tanpa dosa setelah berhasil mengambil paksa makanan orang lain. Mama ynag melihatku melamun, segera menghampiriku.
“Alfi kok masih bengong sih? Ayo cepetan masuk…”
“Eh..h..ya, Ma…!!” jawabku gelagapan.
Setelah lama berbincang-bincang di ruang tamu dengan tante Ani, ternyata aku merasa bosan juga. Kuputuskan untuk keluar rumah dengan alasan ingin menghirup udara segar.
“Hemm…lebih nyaman di sini. Di dalam hawanya panas banget. Mana mama sama papa ngomongin masalah kerjaan sama tante Ani. Bosen juga jadinya.”
Seperti merasa bebas, aku berdiri di depan teras sembari meregangkan otot-ototku yang kaku bak kawat besi. Sesekali aku memutar-mutar punggung dan juga tanganku. Kemudian mendendangkan lagu Korea favoritku.
“Hmm…ternyata suaraku merdu juga. Nggak salah kalau temen-temen muji. Hehehe.”
“Huahahaha….!!!”
Tiba-tiba seorang cowok tertawa terbahak-bahak. Aku sangat kaget dibuatnya. Tunggu sebentar…sepertinya aku mengenal suara itu. Semoga dugaanku salah. Untuk memastikan hal mengerikan itu, aku segera menoleh ke sumber suara.
“Kamu? Ngapain kamu ada di sini?” tanyaku dengan mata hampir jatuh.
“Hahaha…dasar cewek aneh. Kamu sendiri ngapain olahraga malem-malem gini? Pakek nyanyi-nyanyi segala. Tau nggak? Kayaknya temen-temenmu itu telinganya pada error deh..!! Suara kayak ayam begitu dibilang merdu. Hahaha…!!”
“Eh…sembarangan banget ngatain temenku kayak gitu. Otakmu tuh yang error. Dasar pencuri donat!!”
“Terserahlah….”
“Eh..sejak kapan kamu ada di situ?” tanyaku penasaran.
“Terserah aku dong..!! Ini rumahku..en dari tadi aku udah ada di sini.” jawabnya enteng.
“Ha? Rumahmu? Nggak mungkin. Ini kan rumahnya Tante Ani.”
“Tante Ani itu ibuku dodol…!!”
Seribu tangan telah menampar mukaku. Darahku seakan berhenti mengalir mendengar ucapannya. Benarkah Tante Ani itu ibunya? Oh my God.
“Ada apa sih kok rame-rame?”
Tante Ani yang keluar dari rumah diikuti mama bertanya dengan wajah panik.
“Ada apa Alfi?” mama menimpali.
“Oh…nggak ada apa-apa kok, Ma…!!”
“Syarif juga ada di sini ternyata. Ooh …jadi kalian sudah saling kenal?”

Siapa nama cowok itu? Syarif? Dan emang bener dia anaknya Tante Ani? Duh Gusti…kenapa bisa mbulet begini…


***

Memasuki hari ke lima aku berada di rumah nenek. Seperti biasa, kegiatan membantu nenek berjualan di toko harus kulakoni dengan baik hari ini. Sebenarnya, aku ingin mengatakan kepada nenek kalau hari ini aku ingin cuti. Hehehe (kayak pekerja kantoran aja minta cuti). Aku ingin ke pantai untuk sekedar refreshing. Tapi, secepat mungkin kuurungkan niatku. Mama dan papa pasti tidak akan membiarkanku pergi sendiri. Jadilah aku penjaga toko donat yang setia pada majikannya. Nasib!
“Heh…ngelamun aja..!! Ntar kesambet ..!!”
Suara nyaring itu. Syarif. Sedikit cengiran di wajah tampannya. Mau nggak mau aku harus mengakui kalau Syarif memang tampan. Bahkan sangat tampan. Kulitnya bersih dan badannya atletis. Tapi kalau ingat kelakuannya itu, malas sekali aku mengesahkan pengakuanku tadi. Huh!!
“Males..” selorohku sewot.
“Dari pada duduk terdiam di sini. Mendingan kita jalan-jalan ke pantai.” ajaknya penuh semangat.
Mendengar kata pantai, telinga dan mataku seakan menggelinding ke lantai. Kaget. Kesempatan yang bagus sekali. Sesuai dengan keinginanku. Tapi aku harus menimbang-nimbang lagi jika harus pergi dengan cowok ini. Bisa-bisa aku mati darah tinggi dibuatnya.
“Udah…pergi aja Alfi. Kamu kan belum jalan-jalan. Mumpung Syarif mau nganterin.” kata Tante Ani sembari menata donat-donatnya.
“Tapi Tante….”
“Tapi kenapa? Takut sama mama papamu? Udah nggak usah khawatir, nanti tante bilangin sama mereka. Udah sana pergi!!”
Tanpa basa-basi lagi, Syarif menarik tanganku meninggalkan toko. Entah kenapa aku tak bisa melawan tindakannya itu. Lidah dan tanganku kelu. Dan kenapa di saat yang seperti ini, tanganku merasa sangat nyaman berada dalam genggaman Syarif. Perasaanku tiba-tiba tak menentu. Antara senang dan kesal.
Senang? Kenapa aku bisa senang? Tak sepantasnya aku mempunyai perasaan ini.
Setelah menjejakkan ingatan ke alam sadarku, aku segera melepaskan genggamannya.
“Aduuh…apa-apaan sih? Sakit tau…!! Aku bisa jalan sendiri..!!” seruku penuh emosi.
“Berisik….cepetan naik!!” suruhnya mantap.
Enak sekali ia memerintahku seperti itu. Seperti majikan menyuruh hewan peliharaan.
“Mau kemana?” protesku kesal.
“Ya ke pantailah…mau ke mana lagi emangnya?”
“Naik motor?”
“Ya sayang…!!” ia kemudian tersenyum.
Apa tadi dia bilang? Sayang? Iihh…amit-amit deh..ngapain coba dia manggil kayak gitu.
Tapi, kenapa hatiku seperti akan melompat girang?
Dan kemudian deru suara motor berjalan beriringan denagn detak jantungku yang semakin lama semakin express.

***

Subhanallah...
Indah sekali pemandangan di sini. Bola mataku tak henti-hentinya tertawa riang melihat keindahan yang tak lain adalah setitik dari penciptaan sang kreator alam. Sungguh dialah yang maha segalanya. Pemilik sah 99 sifat sempurna, Asmaul Husna.
Tampak deburan ombak lincah berkejaran. Meliuk-liuk menyisir hamparan samudra banyu. Tak ada batas menghalangi pandanganku. Semuanya terasa bebas.
“Jika aku memandang jutaan air terkurai bebas di sana, aku merasa semua beban yang ada dalam hatiku lenyap tersapu ombak. Terasa enteng dan bebas. Dan setiap kali aku punya masalah, aku selalu menumpahkannya di sini. Di tempat inilah aku me-refresh pikiranku. Bukankah kamu juga merasakan hal yang sama?”
Kata-kata Syarif membuatku terenyuh. Baru kali ini aku melihat ekspresi di wajahnya berubah menjadi sendu. Ternyata dibalik sosoknya yang menjengkelkan dan sembrono, Syarif juga memiliki kepribadian yang hangat.
“He’em....” Aku menganggukkan kepala tanda setuju.
“Kadang kala aku merasa takut jika sesuatu yang selama ini aku impikan tidak akan pernah terealisasi. Aku takut kepada orang tuaku. Aku takut mereka tidak akan menyetujui keinginanku ini.” Raut wajahnya berubah sedih.
“Keinginan apa maksudmu?” tanyaku penasaran.
“Cita-citaku untuk mengabdi kepada negara. Pekerjaan yang membutuhkan keberanian dan mental yang cukup besar. Dan karena alasan itulah mungkin orng tuaku tidak akan meridloiku.” Katanya datar.
“Emang kamu udah nanya sama Tante Ani?”
“Belum...”
“Sesuatu yang belum kamu ketahui jawabannya dengan mudah kamu anggap sebagai halangan. Apakah orang tuamu akan melarang jika itu demi kebaikanmu?
Semua orang tua di dunia ini akan mendukung apapun keinginan kita jika emang itu berdampak positif bagi kita dan juga orang lain. Kalaupun emang mereka tidak setuju, bukan berarti kita tidak akan selamanya menggapai impian kita kan?
Kita harus bisa meluruskan apa yang sebenarnya menjadi keinginan kita dan orang tua kita.”
Dengan nada sok menggurui, aku berkata panjang lebar. Tentu saja ia sangat kaget dengan perubahan sikapku bak Bung Tomo yang membakar semangat arek Suroboyo dengan pidatonya. Sejenak ia memandang ke arahku sembari tersenyum.entah apa makna dari senyumannya itu. Tapi yang pasti, setiap kali ia tersenyum padaku, desiran di dadaku semakin bergemuruh mencoba membobol perasaanku. Kenapa aku tak bisa menahannya? Maafkan aku Syarif. Tak sepantasnya aku memiliki perasaan ini.

***

Sejak kejadian saat itu, kedekatanku dengan Syarif bertambah level. Semakin terasa lama dan ketagihan. Aku dan Syarif bak magnet yang yang jika didekatkan tak akan mudah dipisah. Harus kuakui aku telah terserang virus merah jambu. Seandainya aku tak bisa mengobatinya, pastilah hatiku akan habis digerogoti virus itu. Tapi setelah kupikir-pikir biarlah virus itu terus berkembang dan merajai perasaanku. Toh, virus itu tak menyebabkan kematian. Lagi pula ada saja cara untuk berbagi kangen dengan Syarif. Ya, meskipun saat ini aku sudah menapaki rumahku lagi, aku masih bisa berkomunikasi dengannya melalui handphone. Sedih sekali rasanya tak bisa bersua. Sampai pikiran dan hatiku habis terkuras dengan bayangan kinclong wajah Syarif.
Hari menggilas minggu. Hingga akhirnya minggu pun termakan oleh bulan. Genap sudah empat bulan masa pendekatanku dengan Syarif. Masa yang selamanya akan menemani indahku. Itu selalu menjadi harapan yang paten dalam otakku. Tanpa sadar, banyak sekali orang yang menentang kebahagiaanku ini. Termasuk mamaku. Orang yang selama ini mengorbankan separuh hidupnya untuk memupukku. Mama tak mau aku jatuh cinta pada saudaraku sendiri. Ia juga sempat mengharamkan aku untuk terus berkomunikasi dengan Syarif. Semuanya tak adil. Mengapa di saat kebahagiaan hinggap, mama menjelma menjadi makhluk jahat yang mengusirnya? Dimana letak kesalahanku? Hingga mama mengatakan kalau batin dan mata telanjangku telah terbalut cinta buta. Aku masih sangat ingat betul bagaimana mama mengatakan itu setelah ia membaca sms Syarif. Berisi tentang janji Syarif kepadaku. Janji untuk mengkhitbahku setelah ia berhasil menggapai mimpinya. Ternyata, semua omongannya itu tak menjadi bualan semata. Syarif menghilang dalam kehidupanku tiga bulan lamanya. Tak ada kabar dari keluarganya. Tak ada telpon dan sms darinya. Lebih parahnya lagi, ia tak memberitahuku perihal kemana dan apa cita-citanya.
Ya Rabb....
Dosakah aku jika aku melabuhkan cintaku ini pada Syarif?
Cemburukah Engkau jika rasa cintaku ini begitu besar pada-Nya?
Ku mohon ya Rahmaan....
Pertemukan aku dengannya
Aku tak bisa membendung lagi perasaan ini
Aku semakin terjerembab.....
Seharusnya aku berkonsentrasi untuk menghadapi Ujian Nasional yang bulan depan akan segera menghampiriku. Tapi jika masalah ini yang Engkau hadapkan kepadaku, aku takut tak bisa menerima dengan ikhlas.
Ampuni aku ya Rabb....
Ampuni aku....

***

Tuntas sudah Ujian Nasionalku. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Sekarang aku harus berpikir keras untuk masa depanku. Aku tak boleh melihat ke belakang lebih lama. Karena itu akan membuat hatiku semakin miris.
Syarif....
Lagi-lagi bayanganmu tak bisa kuusir begitu saja. Aku hanya ingin mengatakan kabar bahagia ini kepadamu. Aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan dan aku diterima di universitas yang aku inginkan. Aku sempat berpikir kalau aku tak akan bisa berperang demi kelulusanku. Tapi, mama dan papa terus mensuportku.
Lalu bagaimana kabarmu? Sedang apa kau di sana? Masih ingatkah kau dengan janjimu?
Bertubi-tubi pertanyaan di benakku timbul meronta meminta jawaban. Mereka menghancurkan kerak cintaku dan berusaha meluruhkannya. Mereka menghasutku dan membisikkanku kata-kata yang tak ingin kudengar. Syarif telah melupakanmu. Ia bahkan tak ingat dengan janjinya. Tidaaaaaaaakkk.....
“Tok...tok...tok... Assalamu’alaikum...”
Tiba-tiba seseorang mengetok pintu rumah. Membuatku berjingkat kaget. Siapa sih malem-malem gini...? Segera kupercepat langkahku.
“Eh...Tante Ani sama Om Faruq, monggo masuk. Tumben malem-malem ke sini Tante. Ada perlu apa?”
“Mama sama papamu ada Fi?”
“Oh...ada Tante, sebentar ya...Alfi panggilkan...”
Belum sempat kau berdiri, aku melihat seseorang yang sangat kukenal berdiri di ambang pintu. Seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seseorang yang menabur benih cinta dalam ladang hatiku.
Syarif...
Kakiku seakan lumpuh tak bisa bergerak. Mataku terus menatap tak percaya pada sosok yang sekarang ini memenuhi kornea mataku. Badanku kelu tapi hatiku melompat-lompat kegirangan. Di dalamnya terdengar tepuk tangan membahana memenuhi ruang hatiku.
“Ada tamu rupanya....tumben dateng malem-malem An?...Pasti ada hal penting.”
Dari belakang suara mama membawaku kembali ke alam sadar.
“Iya, gini lho...kedatanganku ke sini ingin menyampaikan sesuatu yang menjadi keinginan Syarif.” ucap Tante Ani dengan lembut.
“Syarif...? Kamu kemana aja tiga bulan terakhir ini? Katanya nggak di rumah...” tanya mama kaget.
“Ya tante...saya persiapan buat masuk TNI AL. Kebetulan memang saya rahasiakan. Karena takut mama sama papa tidak akan setuju. Tapi ternyata beliau menyetujui bahkan sangat mendukung keputusan saya. Ini semua berkat seseorang yang telah menyemangati dan meyakinkan saya untuk selalu positive thinking.”
Mendengar penuturan Syarif, hatiku terasa lega. Pertanyaan yang selama ini memberontak meminta jawaban akhirnya kesampaian. Aku hanya bisa tersenyum memandangnya penuh arti.
“Dan niatan saya untuk kemari adalah ingin mengkhitbah Alfi....”
Betapa terkejutnya mama mendengar kata-kata terakhir Syarif. Tampak raut muka mama berubah gusar. Ruangan hening seketika. Aku yang hanya bisa diam pasrah menunggu amukan mama. Untung saja papa tak ikut andil dalam penentangan ini. Papa hanya memandangku dengan tatapan layunya kemudian mengangguk sembari tersenyum tulus.
“Tapi bukankah pernikahan antar saudara itu diharamkan? Allah akan melaknat bagi semua hamba yang melanggar. Maaf Syarif, saya sangat menghargai niat baikmu itu. Tapi apakah tak sebaiknya kau pikir lagi?” kamu harus ingat... Alfi itu saudaramu...”
Sudah kuduga mama akan berbicara seperti itu ruangan yang semakin memanas ini kembali hening.
“Sebelumnya saya minta maaf ini terlalu cepat. Tapi saya bersungguh-sungguh tante. Mungkin tante belum mengetahui status saya di keluarga ini. Biar saya jelaskan terlebih dulu. Memang Allah telah melarang pernikahan yang dilakukan antar saudara kandung ataupun saudara dekat lainnya. Karena itu akan berdampak buruk bagi anak turun pasangan tersebut. Saya berani mengkhitbah Alfi karena saya tau bahwa saya bukanlah anak kandung dari mama dan papa. Sejak bayi saya memang diasuh dan dibesarkan oleh mama Ani. Mama Ani mengadopsi saya menjadi anaknya.....”
Seterusnya Syarif menceritakan panjang lebar asal usulnya. Ia juga mengatakan kalau aku dan Syarif termasuk saudara jauh. Jadi, dalam Islam tak ada masalah jika ia menikahiku.
Mama menganggukkan kepala tanda mengerti. Kemudian mama melirik ke arah papa dan dengan tenang mama membuka mulutnya.
“Saya tidak setuju.........”
Kata-kata mama membuatku tercekik. Nafasku berhenti di kerongkongan. Suara keras detak jantungku beriringan dengan keringat Syarif yang mengalir menyerupai biji jagung.
“Saya tidak setuju........jika kalian tidak menikah...”
Lama aku mencerna kata-kata mama. Setelah sadar, aku segera menghambur ke arah mama dan menciumi pipinya berkali-kali. Ternyata mama memang sayang padaku.
“Makasih ma......” ucapku penuh haru.

PENCURI DONAT
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0AwjQN1vSxuagHiSd6O_U4J6_vlJAIgATXkb4mF1G_v3moH3VsbMfysBRMdaUeP0HaQ18xSlDrYwbo72U1JUhG0UycZTaQm1xfJbx2GUEGHpjP96oATPkVrQ7ua2kySlGIZ_3f2FHk84/s72-c/tutu.jpeg
Read More
LUKISAN BUNGA TULIP

LUKISAN BUNGA TULIP



LUKISAN BUNGA TULIP

Oleh: Risyalah D

Alunan sholawat nabi membahana dalam musholla berdinding putih salju. Ratusan santri wati bermukena putih khusyuk mendendangkan syi’ir diba’iyah. Tampak salah satu dari mereka menitikkan air mata tanda bahagia bertemu Rasululloh. Hari yang sangat mereka nantikan kedatangannya. Maulid Nabi Muhammad SAW. Sunggu…hal yang sangt luar biasa jika merayakan hari lahirnya nabi dan menantikan rawohnya beliau di tengah-tengah lautan serba putih penjara suci Pondok Pesantren Putri Al Lathifiyyah 1. salah satu pondok pesantren terkenal di Kota Jombang.
Setelah acara itu selesai, semua santri saling berjabat tangan dan kemudian berhambur menuju kamar mereka masing-masing. Tak ketinggalan juga dengan Husnah. Gadis cantik yang juga berkepribadian lembut ini segera melipat mukenanya dengan rapi dan menggantungnya di atas besi panjang yang terpasang melintang di salah satu pojok kamar.
Husnah sangat mahir jika melakukan pekerjaannya. Jemari lentiknya telaten membuat pekerjaan apa saja yang ia lakukan berbuah sempurna. Kelebihan itu yang membuatnya digandrungi teman santri yang lain. Sifatnya yang dewasa, menjadikannya sebagai salah satu pengurus inti di pondok itu. Pengasuh dan pembimbingnya pun merasa bangga memiliki santri seperti Husnah. Sudah cantik, lemah lembut, pintar, baik hati pula. Siapa yang tak tertarik? Pastilah siapapun yang memandangnya akan berdecak kagum. Tak hanya dari kalangan santri putri, santri putra pun telah banyak tau tentang Husnah. Padahal ia sama sekali tak pernah bicara apalagi memamerkan diri. Bukan karena peraturan yang membuatnya seperti itu. Tapi juga karena statusnya sebagai santri yang telah melekat pada dirinya. Husnah berkomitmen tak akan melakukan hal yang dilarang agama. Berdekatan dengan lawan jenis sangatlah rawan dengan perbuatan zina. Sampai adanya ikatan tertentu yang menstempel “halal”. Tak ayal jika ketenaran Husnah tercium oleh gusnya sendiri yang gosipnya menaruh simpati pada Husnah. Maklumlah…masih sepantaran sih…yakni kelas tiga MAN. Tapi berita itu tak berlangsung lama karena sikap Husnah yang selalu cuek jika ada kabar miring tentang dirinya. Itulah Husnah……

***

Suasana di aula sekolah Husnah tampak ramai. Terlihat dari siswa siswi yang saling berbincang mengenai Laporan Pertanggungjawaban OSIS. Ya, mereka adalah anak-anak OSIS yang sedang rapat untuk LPJ. Ada yang berkhutbah ria mengenai program mereka, ada yang hanya mendengarkan sembari memberi tanggapan.
“Tenang semua…..!!! Waktu telah habis. Mohon koordinator bidang untuk berkumpul di depan. Satu persatu membacakan LPJ nya. Terimakasih…”
Dengan tegas suara Ari membahana memadati aula.
Kemudian satu persatu koordinator bidang bangkit dari tempat duduknya dan melaporkan hasil kerjanya dalam satu tahun menjabat. Husnah yang juga koordinator bidang segera bersiap.
“Untuk selanjutnya laporan dari koordinator bidang keagamaan. Kepada saudari Husnah Az Zaura dimohon menyampaikan laporan.”
Ruangan yang asalnya riuh tiba-tiba hening seketika. Entah apa yang membuat mereka terperangah. Apa karena nama Husnah yang terlalu bagus atau karena kecantikan Husnah yang begitu natural hingga bisa menjaring mata yang memandangnya? Sepertinya memang benar, semua yang ada pada diri Husnah memiliki daya magnet tersendiri. Tak usah kaget jika banyak sekali kaum adam yang menyukainya. Siapapun bisa kelepek-kelepek karena kesempurnaan fisik dan hatinya. Bagi Husnah kecantikan bukanlah segalanya. Mempunyai wajah cantik tapi blo’on percuma saja. Wajah cantik, otak pinter, tapi hati busuk malah parah. Yang bener itu, wajah cantik, otak canggih, hatinya baik, itu baru sempurna.
Setelah laporan dari Husnah selesai tepuk tangan saling bersahut-sahutan mengiringi langkah tegap Husnah. Pasalnya, tak ada satupun program kerja Husnah yang tak terealisasi. Semuanya kelar. Tanggung jawab adalah sesuatu yang berharga adanya. Jika tak dilakoni dengan baik, Husnah merasa dirinya termasuk orang yang merugi.
Lagi-lagi…itulah Husnah….

***


“Selamat ya Husnah….progran kerjamu kelar semua.”
kata Rasydan ketika berpapasan dengan Husnah di depan lab komputer. Sebenarnya ia malu untuk menegur Husnah. Tapi bukankah tak apa jika ia hanya mengucapkan selamat.
“Oh…ya terimakasih…” ucap Husna sopan. Matanya tetap mengarah pada lantai yang bisu. Andai saja lantai itu bisa bergerak mungkin ia akan memutar bola mata Husna untuk menatap Rasydan. Dari semua santri putra yang mengejarnya, hanya Rasydan lah yang mampu membuat kalbu Husna bergetar. Meskipun begitu, ia bisa menjaga perasaannya rapat-rapat. Disimpannya dalam peti dan ditenggelamkan ke lubuk hatinya paling dalam.
“Kalau begitu setelah ini kamu harus mengadakan syukuran besar-besaran. Kudengar dari Ustadz Ilyas rangking satu paralel tahun ini, kamu yang menjuarai.” Rasydan tersenyum simpul sembari menatap ke arah Husna kemudian berlalu pergi.
“Alhamdulillah….” bisik Husna pelan.
***

Semilir bayu menerpa kerudung putih Husna. Di serambi musholla ia tengah duduk sembari membawa kitab kuning yang sampulnya terukir rangkaian huruf hija’iyah berbunyi Fathul Qorib. Kitab kuning yang berisi permasalahan fiqih. Kegemaran sekaligus kebiasaan muthola’ah ini selalu ia lakoni pada jam taqror. Tak sedikitpun ia lewatkan kata perkata dari kalimatnya. Kemampuan yang ia miliki dalam membaca kitab gundul bisa dikatakan sangat mahir. Banyak perlombaan yang ia ikuti. Mulai dari tingkat lokal, kabupaten, dan propinsi. Hasilnya pun sangat memuaskan yakni tak pernah keluar dari juara tiga besar.
Lama ia mengamati kitab gundul itu. Tiba-tiba bayangan Rasydan terukir jelas di sana. Rasydan tersenyum lebar sembari mengedipkan sebelah matanya, genit. Husnah terpaku melihat bayangan Rasydan terselip di antara kalimat-kalimat arabnya. Berkali-kali ia menggelengkan kepala mengusir jauh bayangan itu. Hasilnya percuma. Husna tetap bisa melihat nya. Husna memejamkan mata.
Ya Allah…
Jauhkanlah godaan syetan yang terkutuk ini
Bersihkanlah pikiran dan hatiku dari noda maksiat
Bentengilah imanku dengan baja cintamu
Bismillah….
Perlahan Husna membuka mata. Alhamdulillah…bayangan Rasydan telah lenyap dan tulisan arab tanpa harokat itu masih bertengger di sana. Husnah menarik nafas perlahan. Kenapa tiba-tiba bayangan Rasydan muncul? Aku tidak sedang memikirkannya. Aku juga tak mengaharap wajahnya muncul dipikiranku. Aaaahh…dasar….ada saja cara syetan untuk menyesatkan. Batin Husnah.
Rasydan bukanlah anggota OSIS. Namun keaktifannya dalam berorgaisasi tak dapat diremehkan. Di luar kegiatan sekolah, ia banyak mengikuti organisasi. Tapi, entah kenapa ia malas sekali masuk dalam anggota osis. Mungkin karena akan mengganggu kegiatan belajar atau mungkin masalah lain. Selain itu Rasydan juga dianugerahi dengan suara emas. Ia dikontrak sebagai vokalis tetap grup banjari Al-jadid, di sekolahnya. Ia juga pernah menggondol juara pertama lomba MSQ tingkat propinsi. Karena kelebihannya itulah banyak kaum hawa mengejar-ngejarnya. Rasydan is a perfect boy.

***

Malam semakin larut. Husnah memutuskan untuk beranjak ke kamarnya. Kata Rhoma Irama kalau sering kena angin malam segala penyakit akan mudah dating. Pernyataan itu diyakini benar 100% oleh Husnah. Alhasil, ia harus cepat-cepat menghindar dari angin malam.
Dalam kamar, tampak beberapa teman Husnah sudah menjajaki alam mimpi. Tiba-tiba dari luar kamar seseorang memanggil namanya.
“Mbak Husnah…mbak Husnah…!!!”
“Ya….ada apa?” Husnah membuka pintu sembari tersenyum ramah.
“Ini mbak...ada titipan, katanya jangan sampai ada yang tau.” Dengan setengah berbisik, gadis yang tak lain adik kelas Husnah itu sesekali melirik ke kanan dan kiri memastikan kalau tak ada seorang pun yang melihat. Husnah memperhatikan benda itu dengan penuh tanda tanya. Keningnya berkerut heran.
“Dari siapa?”
“Nggak tau mbak....” sembari teropoh-gopoh, gadis itu pergi meninggalkan Husnah yang diselimuti rasa penasaran. Husnah melihat benda yang dipegangnya saat ini. Sejenak ia berpikir, “surat?!” batinnya kaget. Secepat kilat ia segera memasukkan benda itu ke dalam kantong bajunya. “Untung tak ada yang melihat” pikirnya lega.
Husnah menuju ke atas aula. Tempat yang cocok untuk menuntaskan rasa penasarannya. Sepi dan pastinya jarang sekali ada orang ke tempat itu. Tentunya aula itu hanya digunakan jika ada acara atau kegiatan saja. Selebihnya....aman.
Dibukanya perlahan. Beberapa baris tulisan rapi terpajang di kertas itu. Sangat rapi. Mungkin si penulis menulisnya dengan penuh perasaan. Kertasnya berwarna hijau dan baunya pun wangi.
Teruntuk: Husnah Az Zaura

kulukis engkau.....
kulukis engkau dengan kanvas sholawat
tatkala aku bersimpuh ke arah barat
mengakui ini adalah hakikat
yang teramat sangat
kupaketi engkau dengan surat yasin
tatkala melihat engkau dalam batin
hingga keringat terasa asin
mengucur dengan rajin
kuikat engkau dengan mahabbah
tatkala rinduku terus membuncah
seakan imanku akan goyah
menguap bak air bah
kuingat engkau dengan dzikir
tatkala kesucian cintaku sebening air
telah diatur oleh sang penyair
mengalir dan terus mengalir
tapi entah kapan
pelukis ini mempunyai model
yang bisa dimiliki
selamanya.......
Rasydan
Seperti tersengat arus listrik bertegangan tinggi. Husnah membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Rasydan? Bagaimana mungkin?” bisa gawat kalau ada orang yang ngelihat ini..!!! dasar anak nekat...huh!!!”.

***

Pagi ini Husnah terpaksa berangkat sendiri. Icha teman sekelasnya sedang sakit. Alhasil ia harus masyan ‘alal aqdaam bin nafsi alias berjalan seorang diri. Ketika sampai di depan gerbang seseorang telah menunggunya di sana. Siapa lagi kalau bukan Rasydan. Husnah yang melihatnya segera mempercepat langkah tanpa menoleh sedikitpun.
“Husnah....tunggu dulu...!!!” tegur Rasydan setengah mengejar. Husnah tak menghiraukan dan terus ambil langkah seribu. Buat apa ia berhenti toh itu akan menambah masalah. Bagaimana ketika mereka sedang bicara tiba-tiba ada guru yang memergokinya? Bisa kena takzir...
“Baiklah Husnah...aku tak akan mengganggumu lagi. Semoga kita bersama pada saat Allah telah meridlainya...!!!” teriak Rasydan hingga beberapa anak yang juga berada di situ menoleh heran. Husnah tak peduli dengan ulah Rasydan. Telinganya seolah tersumpal berton-ton kapuk. Tapi hati kecilnya meng-amini perkataan Rasydan.

***

Bel istirahat berbunyi. Husnah memutuskan untuk tetap di kelas. Kejadian tadi pagi membuatnya malas melangkahkan kaki. Kepalanya dibenamkan di atas meja. Pikirannya kacau. Apalagi setelah ia mendapat bingkisan dari Rasydan. Bingkisan itu didapatkannya ketika masuk ke dalam kelas. Di atas meja telah terpampang jelas lukisan vignet. Segerombol bungga tulip yang di atasnya dihinggapi kupu-kupu cantik terukir di kertas putih itu. Di bagian pojok lukisan tertera nama Rasydan dan pada bagian belakang lukisan dua baris kalimat terukir:

Mencintaimu adalah anugerah untukku.....
Aku akan menunggu hingga anugerah itu datang menghampiriku, Husnah.

Lelehan air mata berjatuhan dari kedua ainun Husnah. Dalam hati ia membatin “Mungkin saat ini kita hanya akan mejadi teman biasa Rasydan. Tapi jika suatau saat Allah menakdirkan lain, aku dengan senang hati menerimanya.






















IDENTITAS PENULIS
Nama: Risyalah Diwandini
TTL: Jombang, 22 Juni 1994
Alamat sekolah : MAN Tambakberas. Jl. Merpati Tambakberas, Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur.
No. Telp. : (0321) 862352 – 866740
No. Fax. : (0321) 855537
Website : www.mantambakberas.com
Alamat asrama : Pondok Pesantren Putri Al lathifiyyah 1, Jl KH. Wahab Hasbulloh Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
No Telp : (0321) 874180
No rekening : 0183164161 atas nama Raharjo BCA Sidoarjo
















LUKISAN BUNGA TULIP

Oleh: Risyalah D

Alunan sholawat nabi membahana dalam musholla berdinding putih salju. Ratusan santri wati bermukena putih khusyuk mendendangkan syi’ir diba’iyah. Tampak salah satu dari mereka menitikkan air mata tanda bahagia bertemu Rasululloh. Hari yang sangat mereka nantikan kedatangannya. Maulid Nabi Muhammad SAW. Sunggu…hal yang sangt luar biasa jika merayakan hari lahirnya nabi dan menantikan rawohnya beliau di tengah-tengah lautan serba putih penjara suci Pondok Pesantren Putri Al Lathifiyyah 1. salah satu pondok pesantren terkenal di Kota Jombang.
Setelah acara itu selesai, semua santri saling berjabat tangan dan kemudian berhambur menuju kamar mereka masing-masing. Tak ketinggalan juga dengan Husnah. Gadis cantik yang juga berkepribadian lembut ini segera melipat mukenanya dengan rapi dan menggantungnya di atas besi panjang yang terpasang melintang di salah satu pojok kamar.
Husnah sangat mahir jika melakukan pekerjaannya. Jemari lentiknya telaten membuat pekerjaan apa saja yang ia lakukan berbuah sempurna. Kelebihan itu yang membuatnya digandrungi teman santri yang lain. Sifatnya yang dewasa, menjadikannya sebagai salah satu pengurus inti di pondok itu. Pengasuh dan pembimbingnya pun merasa bangga memiliki santri seperti Husnah. Sudah cantik, lemah lembut, pintar, baik hati pula. Siapa yang tak tertarik? Pastilah siapapun yang memandangnya akan berdecak kagum. Tak hanya dari kalangan santri putri, santri putra pun telah banyak tau tentang Husnah. Padahal ia sama sekali tak pernah bicara apalagi memamerkan diri. Bukan karena peraturan yang membuatnya seperti itu. Tapi juga karena statusnya sebagai santri yang telah melekat pada dirinya. Husnah berkomitmen tak akan melakukan hal yang dilarang agama. Berdekatan dengan lawan jenis sangatlah rawan dengan perbuatan zina. Sampai adanya ikatan tertentu yang menstempel “halal”. Tak ayal jika ketenaran Husnah tercium oleh gusnya sendiri yang gosipnya menaruh simpati pada Husnah. Maklumlah…masih sepantaran sih…yakni kelas tiga MAN. Tapi berita itu tak berlangsung lama karena sikap Husnah yang selalu cuek jika ada kabar miring tentang dirinya. Itulah Husnah……

***

Suasana di aula sekolah Husnah tampak ramai. Terlihat dari siswa siswi yang saling berbincang mengenai Laporan Pertanggungjawaban OSIS. Ya, mereka adalah anak-anak OSIS yang sedang rapat untuk LPJ. Ada yang berkhutbah ria mengenai program mereka, ada yang hanya mendengarkan sembari memberi tanggapan.
“Tenang semua…..!!! Waktu telah habis. Mohon koordinator bidang untuk berkumpul di depan. Satu persatu membacakan LPJ nya. Terimakasih…”
Dengan tegas suara Ari membahana memadati aula.
Kemudian satu persatu koordinator bidang bangkit dari tempat duduknya dan melaporkan hasil kerjanya dalam satu tahun menjabat. Husnah yang juga koordinator bidang segera bersiap.
“Untuk selanjutnya laporan dari koordinator bidang keagamaan. Kepada saudari Husnah Az Zaura dimohon menyampaikan laporan.”
Ruangan yang asalnya riuh tiba-tiba hening seketika. Entah apa yang membuat mereka terperangah. Apa karena nama Husnah yang terlalu bagus atau karena kecantikan Husnah yang begitu natural hingga bisa menjaring mata yang memandangnya? Sepertinya memang benar, semua yang ada pada diri Husnah memiliki daya magnet tersendiri. Tak usah kaget jika banyak sekali kaum adam yang menyukainya. Siapapun bisa kelepek-kelepek karena kesempurnaan fisik dan hatinya. Bagi Husnah kecantikan bukanlah segalanya. Mempunyai wajah cantik tapi blo’on percuma saja. Wajah cantik, otak pinter, tapi hati busuk malah parah. Yang bener itu, wajah cantik, otak canggih, hatinya baik, itu baru sempurna.
Setelah laporan dari Husnah selesai tepuk tangan saling bersahut-sahutan mengiringi langkah tegap Husnah. Pasalnya, tak ada satupun program kerja Husnah yang tak terealisasi. Semuanya kelar. Tanggung jawab adalah sesuatu yang berharga adanya. Jika tak dilakoni dengan baik, Husnah merasa dirinya termasuk orang yang merugi.
Lagi-lagi…itulah Husnah….

***


“Selamat ya Husnah….progran kerjamu kelar semua.”
kata Rasydan ketika berpapasan dengan Husnah di depan lab komputer. Sebenarnya ia malu untuk menegur Husnah. Tapi bukankah tak apa jika ia hanya mengucapkan selamat.
“Oh…ya terimakasih…” ucap Husna sopan. Matanya tetap mengarah pada lantai yang bisu. Andai saja lantai itu bisa bergerak mungkin ia akan memutar bola mata Husna untuk menatap Rasydan. Dari semua santri putra yang mengejarnya, hanya Rasydan lah yang mampu membuat kalbu Husna bergetar. Meskipun begitu, ia bisa menjaga perasaannya rapat-rapat. Disimpannya dalam peti dan ditenggelamkan ke lubuk hatinya paling dalam.
“Kalau begitu setelah ini kamu harus mengadakan syukuran besar-besaran. Kudengar dari Ustadz Ilyas rangking satu paralel tahun ini, kamu yang menjuarai.” Rasydan tersenyum simpul sembari menatap ke arah Husna kemudian berlalu pergi.
“Alhamdulillah….” bisik Husna pelan.
***

Semilir bayu menerpa kerudung putih Husna. Di serambi musholla ia tengah duduk sembari membawa kitab kuning yang sampulnya terukir rangkaian huruf hija’iyah berbunyi Fathul Qorib. Kitab kuning yang berisi permasalahan fiqih. Kegemaran sekaligus kebiasaan muthola’ah ini selalu ia lakoni pada jam taqror. Tak sedikitpun ia lewatkan kata perkata dari kalimatnya. Kemampuan yang ia miliki dalam membaca kitab gundul bisa dikatakan sangat mahir. Banyak perlombaan yang ia ikuti. Mulai dari tingkat lokal, kabupaten, dan propinsi. Hasilnya pun sangat memuaskan yakni tak pernah keluar dari juara tiga besar.
Lama ia mengamati kitab gundul itu. Tiba-tiba bayangan Rasydan terukir jelas di sana. Rasydan tersenyum lebar sembari mengedipkan sebelah matanya, genit. Husnah terpaku melihat bayangan Rasydan terselip di antara kalimat-kalimat arabnya. Berkali-kali ia menggelengkan kepala mengusir jauh bayangan itu. Hasilnya percuma. Husna tetap bisa melihat nya. Husna memejamkan mata.
Ya Allah…
Jauhkanlah godaan syetan yang terkutuk ini
Bersihkanlah pikiran dan hatiku dari noda maksiat
Bentengilah imanku dengan baja cintamu
Bismillah….
Perlahan Husna membuka mata. Alhamdulillah…bayangan Rasydan telah lenyap dan tulisan arab tanpa harokat itu masih bertengger di sana. Husnah menarik nafas perlahan. Kenapa tiba-tiba bayangan Rasydan muncul? Aku tidak sedang memikirkannya. Aku juga tak mengaharap wajahnya muncul dipikiranku. Aaaahh…dasar….ada saja cara syetan untuk menyesatkan. Batin Husnah.
Rasydan bukanlah anggota OSIS. Namun keaktifannya dalam berorgaisasi tak dapat diremehkan. Di luar kegiatan sekolah, ia banyak mengikuti organisasi. Tapi, entah kenapa ia malas sekali masuk dalam anggota osis. Mungkin karena akan mengganggu kegiatan belajar atau mungkin masalah lain. Selain itu Rasydan juga dianugerahi dengan suara emas. Ia dikontrak sebagai vokalis tetap grup banjari Al-jadid, di sekolahnya. Ia juga pernah menggondol juara pertama lomba MSQ tingkat propinsi. Karena kelebihannya itulah banyak kaum hawa mengejar-ngejarnya. Rasydan is a perfect boy.

***

Malam semakin larut. Husnah memutuskan untuk beranjak ke kamarnya. Kata Rhoma Irama kalau sering kena angin malam segala penyakit akan mudah dating. Pernyataan itu diyakini benar 100% oleh Husnah. Alhasil, ia harus cepat-cepat menghindar dari angin malam.
Dalam kamar, tampak beberapa teman Husnah sudah menjajaki alam mimpi. Tiba-tiba dari luar kamar seseorang memanggil namanya.
“Mbak Husnah…mbak Husnah…!!!”
“Ya….ada apa?” Husnah membuka pintu sembari tersenyum ramah.
“Ini mbak...ada titipan, katanya jangan sampai ada yang tau.” Dengan setengah berbisik, gadis yang tak lain adik kelas Husnah itu sesekali melirik ke kanan dan kiri memastikan kalau tak ada seorang pun yang melihat. Husnah memperhatikan benda itu dengan penuh tanda tanya. Keningnya berkerut heran.
“Dari siapa?”
“Nggak tau mbak....” sembari teropoh-gopoh, gadis itu pergi meninggalkan Husnah yang diselimuti rasa penasaran. Husnah melihat benda yang dipegangnya saat ini. Sejenak ia berpikir, “surat?!” batinnya kaget. Secepat kilat ia segera memasukkan benda itu ke dalam kantong bajunya. “Untung tak ada yang melihat” pikirnya lega.
Husnah menuju ke atas aula. Tempat yang cocok untuk menuntaskan rasa penasarannya. Sepi dan pastinya jarang sekali ada orang ke tempat itu. Tentunya aula itu hanya digunakan jika ada acara atau kegiatan saja. Selebihnya....aman.
Dibukanya perlahan. Beberapa baris tulisan rapi terpajang di kertas itu. Sangat rapi. Mungkin si penulis menulisnya dengan penuh perasaan. Kertasnya berwarna hijau dan baunya pun wangi.
Teruntuk: Husnah Az Zaura

kulukis engkau.....
kulukis engkau dengan kanvas sholawat
tatkala aku bersimpuh ke arah barat
mengakui ini adalah hakikat
yang teramat sangat
kupaketi engkau dengan surat yasin
tatkala melihat engkau dalam batin
hingga keringat terasa asin
mengucur dengan rajin
kuikat engkau dengan mahabbah
tatkala rinduku terus membuncah
seakan imanku akan goyah
menguap bak air bah
kuingat engkau dengan dzikir
tatkala kesucian cintaku sebening air
telah diatur oleh sang penyair
mengalir dan terus mengalir
tapi entah kapan
pelukis ini mempunyai model
yang bisa dimiliki
selamanya.......
Rasydan
Seperti tersengat arus listrik bertegangan tinggi. Husnah membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Rasydan? Bagaimana mungkin?” bisa gawat kalau ada orang yang ngelihat ini..!!! dasar anak nekat...huh!!!”.

***

Pagi ini Husnah terpaksa berangkat sendiri. Icha teman sekelasnya sedang sakit. Alhasil ia harus masyan ‘alal aqdaam bin nafsi alias berjalan seorang diri. Ketika sampai di depan gerbang seseorang telah menunggunya di sana. Siapa lagi kalau bukan Rasydan. Husnah yang melihatnya segera mempercepat langkah tanpa menoleh sedikitpun.
“Husnah....tunggu dulu...!!!” tegur Rasydan setengah mengejar. Husnah tak menghiraukan dan terus ambil langkah seribu. Buat apa ia berhenti toh itu akan menambah masalah. Bagaimana ketika mereka sedang bicara tiba-tiba ada guru yang memergokinya? Bisa kena takzir...
“Baiklah Husnah...aku tak akan mengganggumu lagi. Semoga kita bersama pada saat Allah telah meridlainya...!!!” teriak Rasydan hingga beberapa anak yang juga berada di situ menoleh heran. Husnah tak peduli dengan ulah Rasydan. Telinganya seolah tersumpal berton-ton kapuk. Tapi hati kecilnya meng-amini perkataan Rasydan.

***

Bel istirahat berbunyi. Husnah memutuskan untuk tetap di kelas. Kejadian tadi pagi membuatnya malas melangkahkan kaki. Kepalanya dibenamkan di atas meja. Pikirannya kacau. Apalagi setelah ia mendapat bingkisan dari Rasydan. Bingkisan itu didapatkannya ketika masuk ke dalam kelas. Di atas meja telah terpampang jelas lukisan vignet. Segerombol bungga tulip yang di atasnya dihinggapi kupu-kupu cantik terukir di kertas putih itu. Di bagian pojok lukisan tertera nama Rasydan dan pada bagian belakang lukisan dua baris kalimat terukir:

Mencintaimu adalah anugerah untukku.....
Aku akan menunggu hingga anugerah itu datang menghampiriku, Husnah.

Lelehan air mata berjatuhan dari kedua ainun Husnah. Dalam hati ia membatin “Mungkin saat ini kita hanya akan mejadi teman biasa Rasydan. Tapi jika suatau saat Allah menakdirkan lain, aku dengan senang hati menerimanya.






















IDENTITAS PENULIS
Nama: Risyalah Diwandini
TTL: Jombang, 22 Juni 1994
Alamat sekolah : MAN Tambakberas. Jl. Merpati Tambakberas, Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur.
No. Telp. : (0321) 862352 – 866740
No. Fax. : (0321) 855537
Website : www.mantambakberas.com
Alamat asrama : Pondok Pesantren Putri Al lathifiyyah 1, Jl KH. Wahab Hasbulloh Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
No Telp : (0321) 874180
No rekening : 0183164161 atas nama Raharjo BCA Sidoarjo














LUKISAN BUNGA TULIP
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMJmU7TNhSJFlEAN5JceLR9uxF8ue2_yYMzji9XKJe8qb8ufy9dicEyLRTbV4Dxkiu8aRN9VQRvcNjOgAnekxIm_i94hdBhNwPiusSy-ljCGEsmvWmKeO5goGYoILRzoKBCkY8wgVZ8_8/s72-c/yuyu.jpeg
Read More
PENGORBANAN SEORANG PENGEMIS

PENGORBANAN SEORANG PENGEMIS



PENGORBANAN SEORANG PENGEMIS
Oleh: Risyalah Diwandini
Ia kini berdiri gamang, menatap lalu lalang kendaraan yang sedari tadi mellintas di depannya tanpa permisi. Rambutnya yang kaku dan kusam karena sering terjamah sinar matahari, pasrah dihantam angin. Tampak bulatan hitam mengelilingi mata yang terlihat cekung dan layu itu. Tubuhnya pun semakin kurus. Hanya sekumpulan otot yang menyembul di balik kulitnya yang hitam sekaligus kasar. Penampilan yang sama sekali tak sedap dipandang mata. Ia segera melayangkan kakinya menuju trotoar. Menunggu lampu merah memberikan komando. Dan pada saatnya tiba, ia akan segera menodongkan kantung bekas permen pada orang kaya yang duduk santai di dalam mobil kesayangan mereka. Hari ini, ia harus mendapat recehan lebih banyak dari kemarin. Itu karena ia tak mau melihat ibunya terbaring lemas di atas tikar beralas koran. Ia harus membelikan obat untuk wanita tua itu. Jika tidak, mungkin nasibnya akan sama seperti nasib bapaknya. Meninggal karena radang paru-paru.
“Seikhlasnya, Pak...!!” anak laki-laki itu menyodorkan bungkus permennya dengan raut wajah memelas. Lama ia berdiri mematung menunggu tangan mulia itu memberikan recehan. Dikatakan mulia, karena selama ini jarang ia menemukan orang yang mau memberinya recehan, walau hanya lima ratus rupiah. Orang-orang kaya itu malah terkadang menghadiahinya dengan cercaan dan makian. Semoga kali ini keberuntungan berada dipihaknya. Tak lama berselang, laki-laki berjenggot yang ada di dalam mobil itu membuka kaca mobilnya. Ia tersenyum sembari memberikan selembar uang bergambar pahlawan Pattimura.
“Alhamdulillah, terimakasih Pak...!! Semoga amal baik anda diterima oleh Allah.” Anak laki-laki itu tersenyum lega menerima apa yang didapatinya. Sejurus kemudian, laki-laki berjenggot itu mengangguk dan berlalu pergi.
Siang ini sangat menyiksa. Matahari serasa berada di atas ubun-ubun. Sinarnya panas membakar kulit. Anak laki-laki itu duduk di bawah pohon mangga berteduh. Mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana pendeknya. Menghitung keping recehan dan lembaran uang yang ia dapat hari ini. Pikirannya kembali tertuju pada ibunya yang terbaring lemas di atas tikar beralas koran. Sebenarnya, ia sangat lapar, karena dari kemarin pun ia belum mengganjal perutnya. Tapi, ia urungkan niatnya mengingat ia harus segera pergi mencari obat.
Ia berdiri dan melihat setiap bangunan yang berada di sepanjang jalan. Kemudian matanya tertuju pada sebuah bangunan bertuliskan ‘Apotek Seger Waras’. Dengan langah kilat ia pergi menuju apotek. Membeli obat untuk ibunya, dan keluar dengan membawa plastik putih.
Dalam ruang sempit berdinding keropos, seorang wanita tua merebahkan tubuhnya sambil terbatuk-batuk. Ia melihat anak laki-lakinya berdiri di ambang pintu dengan lelehan air mata. Dengan langkah gontai, anak laki-laki itu menghampiri ibunya. Memberikan plastik putih dan sebungkus nasi.
“Apa ini, Nak? Dari mana kau dapatkan uang sebanyak ini sehingga kau membelikanku obat? Aku tak mau menerimanya jika kau membelinya dengan uang haram.” Suara berat ibunya memecah kegelapan.
“Demi Allah, Bu...!! Aku membelinya bukan dengan uang haram. Aku tak mau mencemari tubuh ibu dengan mengalirkan barang haram bersama dengan aliran darah ibu.” Anak laki-laki itu menjawab dengan suara bergetar. Ia tak kuasa melihat keadaan ibunya yang semakin hari kian memburuk. Ia takut kalau ibu tercintanya menyusul bapaknya yang telah lebih dulu pergi.
“Syukurlah jika itu pengakuanmu. Kau adalah anakku satu-satunya, Ahmad. Apakah kau sendiri sudah makan anakku?”
“Sudah, Bu...!! Aku sudah makan. Apakah ibu mau jika aku suapi? Setelah itu, minumlah obat ini supaya ibu segera sembuh.”
“Tak usah, Nak...!! Ibu tahu kau belum sholat. Segera laksanakan kewajibanmu terlebih dahulu. Jangan sampai kau meniggalkannya lantaran aku yang menjadi penyebab.”
Ahmad segera mengangguk dan pergi menuju musholla yang tak jauh dari gubuknya. Dalam do’a ia memohon ampun kepada Allah. Ia telah berbohong pada ibunya. Sampai detik ini, ia sama sekali belum menyentuh nasi. Uangnya telah habis untuk membeli obat yang tentu harganya tidak murah. Tapi ia tak mau membagi rasa nyeri di perutnya lantaran itu hanya akan membuat ibunya sedih. Biarlah saat ini ia yang merasakan sakit. Asalkan ibunya sehat seperti sediakala.
***
Senja sekarat di ambang malam. Sebentar lagi suara adzan maghrib menggema, memecah jagad, menghiasi alunan angin malam. Ahmad berniat pulang melihat keadaan ibunya. Ia membuka pintu yang terbuat dari seng. Mendorongnya hingga bunyi berkerit itu hilang. Tak tahu kenapa, malam ini perasaannya sangat nyaman dan damai. Ia juga mencium bau harum yang dibawa angin memasuki rumahnya. Bau harum yang tak pernah ia cium sebelumya.
“Sudah pulang, Nak..?” tanya wanita tua itu.
“Sudah, Bu...!!” jawabnya sembari tersenyum tulus, meskipun perutnya perih menahan lapar yang teramat sangat. Wanita tua itu merasakan sesuatu yang janggal dalam diri anaknya. Senyuman anak semata wayangnya itu sangat aneh. Wajahnya pun tak seperti biasanya. Wajah Ahmad tampak lebih cerah dengan baju taqwa yang dua tahun lalu dibelikan almarhum ayahnya. Sarung yang dipakainya itu, juga dari almarhum ayahnya.
“Kamu ingin pergi lagi, Nak...?”
“Iya, Bu...!! Aku ingin mencari uang untuk ibu. Aku ingin mencari pekerjaan agar ibu bisa hidup layak. Aku tak ingin selamanya menjadi pengemis, Bu!! Demi ibu, aku akan lebih bersemangat.” Mendengar kata-kata itu, ibunya menangis sesenggukan. Ia tak akan pernah lupa, betapa anaknya itu berjuang mencari pekerjaan. Walau hanya menjadi tukang cuci piring di sebuah warung. Tapi karena penampilannya yang seperti itu, anaknya kerap di perlakukan kasar oleh pemilik warung. Bahkan pernah, Ahmad di tendang hingga hidungnya mengeluarkan darah. Itu sama sekali tak membuat ia patah semangat.
“Ahmad pergi dulu, Bu...!! Ahmad minta maaf kalau selama ini menyusahkan ibu. Ahmad hanya ingin ibu kembali sehat.” Ahmad mencium tangan ibunya dengan hangat. Ibunya pun membalasnya dengan ciuman di kening. Air mata suci ibunya jatuh membasahi pipi Ahmad. Mengalir bersama guratan wajah lugu itu.
Ditengah perjalanan menuju kota, Ahmad merasakan perutnya seperti digilas truk bermuatan besi. Sangat perih dan sakit. Hampir tiga hari ia tak makan apapun. Hanya air putih dari kran yang ia teguk, pada saat selesai wudlu. Kepalanya tiba-tiba terasa pening dan matanya berkunang-kunang. Langkahnya pun mulai sempoyongan tak kuat menahan keseimbangan tubuhnya. Dari arah berlawanan, sebuah mobil pick up melaju kencang tanpa kendali siap menghantam tubuh kurus itu. Dan akhirnya.....braaaakkk.....!!! Ahmad terpental jauh dan kepalanya mendarat tepat di atas batu. Kepalanya mengeluarkan darah segar. Di bawah alam sadarnya, ia bertemu dengan laki-laki tua memakai sorban dan jubah putih. Laki-laki tua itu tersenyum lebar dan mengajak Ahmad untuk ikut pergi bersamanya. Ahmad pun mengikuti laki-laki tua itu menuju pintu yang memancarkan sinar keabadian. Dan denyut nadi pengemis mulia ini berhenti, diikuti dengan desahan nafas yang semakin lama semakin menghilang.
“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shaleh”
(QS. Al Qalam, Ayat: 50)











PENGORBANAN SEORANG PENGEMIS
Oleh: Risyalah Diwandini
Ia kini berdiri gamang, menatap lalu lalang kendaraan yang sedari tadi mellintas di depannya tanpa permisi. Rambutnya yang kaku dan kusam karena sering terjamah sinar matahari, pasrah dihantam angin. Tampak bulatan hitam mengelilingi mata yang terlihat cekung dan layu itu. Tubuhnya pun semakin kurus. Hanya sekumpulan otot yang menyembul di balik kulitnya yang hitam sekaligus kasar. Penampilan yang sama sekali tak sedap dipandang mata. Ia segera melayangkan kakinya menuju trotoar. Menunggu lampu merah memberikan komando. Dan pada saatnya tiba, ia akan segera menodongkan kantung bekas permen pada orang kaya yang duduk santai di dalam mobil kesayangan mereka. Hari ini, ia harus mendapat recehan lebih banyak dari kemarin. Itu karena ia tak mau melihat ibunya terbaring lemas di atas tikar beralas koran. Ia harus membelikan obat untuk wanita tua itu. Jika tidak, mungkin nasibnya akan sama seperti nasib bapaknya. Meninggal karena radang paru-paru.
“Seikhlasnya, Pak...!!” anak laki-laki itu menyodorkan bungkus permennya dengan raut wajah memelas. Lama ia berdiri mematung menunggu tangan mulia itu memberikan recehan. Dikatakan mulia, karena selama ini jarang ia menemukan orang yang mau memberinya recehan, walau hanya lima ratus rupiah. Orang-orang kaya itu malah terkadang menghadiahinya dengan cercaan dan makian. Semoga kali ini keberuntungan berada dipihaknya. Tak lama berselang, laki-laki berjenggot yang ada di dalam mobil itu membuka kaca mobilnya. Ia tersenyum sembari memberikan selembar uang bergambar pahlawan Pattimura.
“Alhamdulillah, terimakasih Pak...!! Semoga amal baik anda diterima oleh Allah.” Anak laki-laki itu tersenyum lega menerima apa yang didapatinya. Sejurus kemudian, laki-laki berjenggot itu mengangguk dan berlalu pergi.
Siang ini sangat menyiksa. Matahari serasa berada di atas ubun-ubun. Sinarnya panas membakar kulit. Anak laki-laki itu duduk di bawah pohon mangga berteduh. Mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana pendeknya. Menghitung keping recehan dan lembaran uang yang ia dapat hari ini. Pikirannya kembali tertuju pada ibunya yang terbaring lemas di atas tikar beralas koran. Sebenarnya, ia sangat lapar, karena dari kemarin pun ia belum mengganjal perutnya. Tapi, ia urungkan niatnya mengingat ia harus segera pergi mencari obat.
Ia berdiri dan melihat setiap bangunan yang berada di sepanjang jalan. Kemudian matanya tertuju pada sebuah bangunan bertuliskan ‘Apotek Seger Waras’. Dengan langah kilat ia pergi menuju apotek. Membeli obat untuk ibunya, dan keluar dengan membawa plastik putih.
Dalam ruang sempit berdinding keropos, seorang wanita tua merebahkan tubuhnya sambil terbatuk-batuk. Ia melihat anak laki-lakinya berdiri di ambang pintu dengan lelehan air mata. Dengan langkah gontai, anak laki-laki itu menghampiri ibunya. Memberikan plastik putih dan sebungkus nasi.
“Apa ini, Nak? Dari mana kau dapatkan uang sebanyak ini sehingga kau membelikanku obat? Aku tak mau menerimanya jika kau membelinya dengan uang haram.” Suara berat ibunya memecah kegelapan.
“Demi Allah, Bu...!! Aku membelinya bukan dengan uang haram. Aku tak mau mencemari tubuh ibu dengan mengalirkan barang haram bersama dengan aliran darah ibu.” Anak laki-laki itu menjawab dengan suara bergetar. Ia tak kuasa melihat keadaan ibunya yang semakin hari kian memburuk. Ia takut kalau ibu tercintanya menyusul bapaknya yang telah lebih dulu pergi.
“Syukurlah jika itu pengakuanmu. Kau adalah anakku satu-satunya, Ahmad. Apakah kau sendiri sudah makan anakku?”
“Sudah, Bu...!! Aku sudah makan. Apakah ibu mau jika aku suapi? Setelah itu, minumlah obat ini supaya ibu segera sembuh.”
“Tak usah, Nak...!! Ibu tahu kau belum sholat. Segera laksanakan kewajibanmu terlebih dahulu. Jangan sampai kau meniggalkannya lantaran aku yang menjadi penyebab.”
Ahmad segera mengangguk dan pergi menuju musholla yang tak jauh dari gubuknya. Dalam do’a ia memohon ampun kepada Allah. Ia telah berbohong pada ibunya. Sampai detik ini, ia sama sekali belum menyentuh nasi. Uangnya telah habis untuk membeli obat yang tentu harganya tidak murah. Tapi ia tak mau membagi rasa nyeri di perutnya lantaran itu hanya akan membuat ibunya sedih. Biarlah saat ini ia yang merasakan sakit. Asalkan ibunya sehat seperti sediakala.
***
Senja sekarat di ambang malam. Sebentar lagi suara adzan maghrib menggema, memecah jagad, menghiasi alunan angin malam. Ahmad berniat pulang melihat keadaan ibunya. Ia membuka pintu yang terbuat dari seng. Mendorongnya hingga bunyi berkerit itu hilang. Tak tahu kenapa, malam ini perasaannya sangat nyaman dan damai. Ia juga mencium bau harum yang dibawa angin memasuki rumahnya. Bau harum yang tak pernah ia cium sebelumya.
“Sudah pulang, Nak..?” tanya wanita tua itu.
“Sudah, Bu...!!” jawabnya sembari tersenyum tulus, meskipun perutnya perih menahan lapar yang teramat sangat. Wanita tua itu merasakan sesuatu yang janggal dalam diri anaknya. Senyuman anak semata wayangnya itu sangat aneh. Wajahnya pun tak seperti biasanya. Wajah Ahmad tampak lebih cerah dengan baju taqwa yang dua tahun lalu dibelikan almarhum ayahnya. Sarung yang dipakainya itu, juga dari almarhum ayahnya.
“Kamu ingin pergi lagi, Nak...?”
“Iya, Bu...!! Aku ingin mencari uang untuk ibu. Aku ingin mencari pekerjaan agar ibu bisa hidup layak. Aku tak ingin selamanya menjadi pengemis, Bu!! Demi ibu, aku akan lebih bersemangat.” Mendengar kata-kata itu, ibunya menangis sesenggukan. Ia tak akan pernah lupa, betapa anaknya itu berjuang mencari pekerjaan. Walau hanya menjadi tukang cuci piring di sebuah warung. Tapi karena penampilannya yang seperti itu, anaknya kerap di perlakukan kasar oleh pemilik warung. Bahkan pernah, Ahmad di tendang hingga hidungnya mengeluarkan darah. Itu sama sekali tak membuat ia patah semangat.
“Ahmad pergi dulu, Bu...!! Ahmad minta maaf kalau selama ini menyusahkan ibu. Ahmad hanya ingin ibu kembali sehat.” Ahmad mencium tangan ibunya dengan hangat. Ibunya pun membalasnya dengan ciuman di kening. Air mata suci ibunya jatuh membasahi pipi Ahmad. Mengalir bersama guratan wajah lugu itu.
Ditengah perjalanan menuju kota, Ahmad merasakan perutnya seperti digilas truk bermuatan besi. Sangat perih dan sakit. Hampir tiga hari ia tak makan apapun. Hanya air putih dari kran yang ia teguk, pada saat selesai wudlu. Kepalanya tiba-tiba terasa pening dan matanya berkunang-kunang. Langkahnya pun mulai sempoyongan tak kuat menahan keseimbangan tubuhnya. Dari arah berlawanan, sebuah mobil pick up melaju kencang tanpa kendali siap menghantam tubuh kurus itu. Dan akhirnya.....braaaakkk.....!!! Ahmad terpental jauh dan kepalanya mendarat tepat di atas batu. Kepalanya mengeluarkan darah segar. Di bawah alam sadarnya, ia bertemu dengan laki-laki tua memakai sorban dan jubah putih. Laki-laki tua itu tersenyum lebar dan mengajak Ahmad untuk ikut pergi bersamanya. Ahmad pun mengikuti laki-laki tua itu menuju pintu yang memancarkan sinar keabadian. Dan denyut nadi pengemis mulia ini berhenti, diikuti dengan desahan nafas yang semakin lama semakin menghilang.
“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shaleh”
(QS. Al Qalam, Ayat: 50)









PENGORBANAN SEORANG PENGEMIS
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglAdIstBb7bdmwZvA20_8ro6CxAFAKWqgHF4ncu8ZeQhfG9296pqFMl2QnRxUh0V8_3oC-KeJA_y-x3x8Xm1tmmbRzh3A6t4GCM5lVqkNjVuqb9LHfMHFg7BAX8BKC4z0fXu-b8JWaom0/s72-c/kuku.jpeg
Read More
KEKASIH RAHASIA

KEKASIH RAHASIA



KEKASIH RAHASIA
Oleh: Risyalah Diwandini
Seorang pemuda berkulit hitam dan berbaju lusuh tengah asyik memainkan sapu lidinya. Sapu yang ia gerakkan menyeret beberapa sampah yang bertebaran di halaman pondok. Pemuda itu kemudian mengumpulkan dan memunguti sampah satu persatu. Sesekali bibirnya berkomat-kamit melafalkan sesuatu. Kata orang, pemuda itu sangat misterius. Ia tak pernah meninggalkan kebiasaannya berkomat-kamit ria. Meskipun dicap sebagai orang paling misterius di pondok pesantren, namun pemuda yang kerap dipanggil Kang Bakri itu, tak pernah sedikitpun mempermasalahkannya. Ia adalah salah satu abdi ndalem di Pondok pesantren Al Musthofa. Sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang kiai terpandang di desa itu. Bakri ingin menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk pondok. Kecintaannya pada pondok pesantren tak perlu diragukan lagi. Tapi entah kenapa, semua orang melihatnya dengan sebelah mata. Bahkan kiainya sekalipun.
***
Siang yang meradang membuat sebagian masyarakat enggan melakoni pekerjaan. Mereka lebih memilih untuk duduk manis di depan pintu tua berwarna coklat seraya berkasak-kusuk ria. Tak sekali dua kali mereka melakukan hal itu. Melainkan berkali-kali. Bahkan ritual menunggu pak kiai keluar dari rumah itu pun, masuk dalam salah satu jadwal wajib mereka. Sangat miris jika melihat salah satu dari mereka terinjak-injak hanya karena berebut ingin mencium tangan pak kiai. Kepercayaan masyarakat awam. Jika menchum tangan seorang kiai akan mendapat barokah alias rejeki nomplok tanpa harus banting tulang. Tak berselang lama, pintu tua itu terbuka, hingga terdengar bunyi berkerit memecah penantian mereka. Belum sempat pak kiai menginjakkan kaki di ambang pintu, mereka telah lebih dulu menyerbu pak kiai. Bakri yang sudah siap dengan kuda-kudanya segera maju melindungi pak kiai. Namun, apalah daya seorang pemuda dekil bertubuh pendek itu. Tentu saja kekuatannya tak sebanding dengan puluhan manusia yang sekarang hampir memadati antero rumah. Kejadian seperti ini ia rasakan acap kali menjadi superhero untuk kiainya. Alhasil, muka dan seluruh badannya dipenuhi luka-luka lebam. Tapi itu tak menjadikannya gentar sedikitpun. Ketaatan dan kecintaannya pada pak kiai tetap terjaga. Dari semua abdi ndalem, hanya Bakrilah yang sangat perhatian pada kiainya. Ke mana pun pak kiai ingin pergi, di sampingnya akan selalu ada makhluk pendek, hitam, dekil, bernama Bakri. Untunglah Bakri masih punya kelebihan. Suara emasnya menjadikan ia muadzin di pondok pesantren itu. Ia tak pernah absen untuk mengumandangkan adzan. Hingga kejadian di suatu malam membuat bumi Al Musthofa gencar.
***
Malam merambat amat letih. Rintik hujan jatuh menggelitik bumi. Dalam kegelapan pekat, suara merdu sekelompok katak bersahutan, diiringi derap langkah tegas. Seorang pemuda berkulit hitam berbaju lusuh tengah berjalan meninggalkan pondok pesantren sembari menenteng cangkul. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada mata yang mengeja gelagatnya. Setelah yakin tak ada manusia lain yang bangun selain dirinya, Bakri memantapkan kaki pergi menuju tempat tujuannya. Hanya berselang beberapa menit, Bakri telah sampai ditempat itu. Ia memerhatikan sekeliling tempat itu. Semilir angin menggoyangkan pohon kamboja di sebelah kanan ia berdiri. Puluhan bahkan ratusan batu nisan telah siap menanti kedatangannya. Tentu saja nisan-nisan itu tak sendiri. Mereka ditemani oleh gundukan-gundukan tanah liat berwarna coklat kemerahan. Di sebelah kiri Bakri terdapat gubuk kecil yang di dalamnya berisikan sebuah keranda. Warnanya tak begitu jelas karena cahaya remang lampu kuning yang besarnya hampir menyamai telur ayam. Mungkin warnanya hijau, atau mungkin biru? Entahlah....
Tanpa pikir panjang, Bakri bergegas menggali tanah kosong di sekitar makam. Dan dengan lihai, ia mengayunkan cangkulnya. Hingga nampaklah lubang sedalam satu setengah meter dan panjang dua meter itu. Setelah merasa cukup, Bakri kemudian menghapus keringat yang mengalir di wajahnya. Bibirnya mengembang pertanda bahagia. Tanpa ia sadari, sepasang mata telah lama mengeja semua gelagatnya.
***
“Sumpah pak kiai...saya melihat dengan mata kepala saya sendiri....”
“Benar? Kamu tidak bohong Husen?” tanya pak kiai ngotot.
“Mboten pak kiai...saya melihat Kang Bakri tengah malam keluar dengan membawa cangkul dan ia pergi ke makam.” jelas Husen panjang lebar.
“Baiklah kalau begitu, panggil Bakri kemari.”
“Enjeh pak kiai…”




Beberapa menit kemudian, Bakri datang sembari tersenyum lebar.
“Wonten nopo pak kiai?” tanya Bakri sopan.
“Apakah benar, tadi malam kamu pergi ke makam?”
“Mboten pak kiai....”
“Kamu yakin kamu tidak bohong?” dengan nada menyelidik pak kiai menimpali.
“Insya Allah pak kiai. Kalaupun saya berbohong, itu adalah demi kemaslahatan kita bersama.” tutur Bakri mantap.
“Baiklah kalau begitu...aku percaya padamu Bakri. Jangan sampai kau sia-siakan kepercayaanku ini. Jika kau berbohong, aku tak segan-segan mengeluarkanmu dari pondok pesantren ini....” ancam pak kiai.
Setelah introgasi itu selesai, Bakri keluar dengan lesu. Nampak guratan menyesal tersirat dari wajahnya. Tak sepantasnya ia membohongi pak kiai. Ibarat virus, berita miring tentang Bakri cepat tersebar seantero pondok. Tak sedikit yang percaya dan tak sedikit pula yang menghujatnya. Tapi Bakri seolah tuli dengan itu semua.
***
Jarum jam menunjuk angka dua belas. Mulailah Bakri mengulangi aksinya. Ia berjalan seraya menenteng cangkul menuju makam. Ia menggali lubang layaknya malam-malam kemarin. Rupanya Husen masih penasaran dengan ulah Bakri. Ia mencoba memperkuat dugaannya. Setelah yakin dengan apa yang dilihatnya adalah kenyataan, Husen berniat untuk melaporkan lagi perbuatan Bakri. Husen kemudian pulang dan menunggu hingga fajar tiba.
Rupanya rembulan telah payah membagikan sinarnya. Langitpun sudah tak lagi berwarna jelaga. Pertanda ayam jago akan segera mengumandangkan suara khasnya. Bakri yang menyadari hal itu, segera keluar dari liang lahat. Ia harus menginjakkan kaki di musholla sebelum semua santri bangun. Seperti biasa, suara adzan Bakri menggema, memecah lazuardi.
***
“Lagi-lagi ia tak mengakui perbuatannya. Jelas sekali bahwa ia pergi ke makam dan menggali lubang di sana. Ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Aku harus mengajak pak kiai melihat sendiri apa yang sebenarnya dilakukan Bakri.” umpat Husen setelah mendengar pengakuan Bakri kepada pak kiai untuk yang kedua kalinya.
Akhirnya, malam yang ditunggu-tunggu pun tiba. Husen bersama dengan pak kiai berniat membuntuti Bakri.
“Sudah saya duga pak kiai, Bakri adalah orang yang tidak beres. Lihat saja pak kiai, apa yang dilakukannya ini telah menyimpang dari syari’at Islam.” Dari kejauhan mereka memperhatikan Bakri. Dengan lihai Bakri mengayunkan cangkulnya. Ia kembali membuat liang lahat di tempat dan posisi yang sama. Kemudian pak kiai melihat Bakri masuk ke dalam liang lahat itu. “Apa yang dilakukannya?” pikir pak kiai heran.
Menit berganti jam. Nampak cahaya aurora di ufuk timur mengintip di balik angkuhnya Gunung Kelud. Kesabaran pak kiai telah berada di atas ubun-ubun . dengan langkah seribu pak kiai segera menghampiri Bakri.
Betapa terkejutnya paki kiai ketika melihat sosok Bakri terbaring seraya menengadahkan tangan. Berulang kali Bakri menyebut asma Allah, berdo’a, dan beristighfar. Matanya terpejam tapi lelehan air matanya terurai deras. Ia merintih meminta ampun atas dosa yang ia lakukan hari ini. Berkali-kali ia mengulangi kalimat yang sama. “Aku rindu bertemu dengan-Mu ya Raab.....Aku rindu bertemu dengan-Mu ya Raab.....aku siap jika Engkau memanggilku saat ini.... Aku telah siap ya Rabb....”
Mendengar ucapan Bakri, pak kiai menangis sejadinya. Betapa ia merasa dirinya adalah orang yang paling bodoh. Ia telah menganggap kekasih Allah layaknya barang yang tak ada harganya. Ia merasa dirinya lebih mulia di atas semua orang. Tapi kini keyakinan itu luruh bersamaan dengan rasa malu yang menyergap hatinya. Ia malu dengan Bakri. Ia malu dengan Allah. Setiap kali ia berdzikir, ia akan selalu berada di tempat yang terang, hangat, bersih, dan tentu saja tak mengeluarkan keringat. Ia merasa tak pernah sedikitpun mengingat untuk mati. Tapi Bakri....ia harus mengeluarkan beribu bahkan berjuta keringat untuk sekedar berdzikir kepada Allah. Berada di tempat yang gelap, dingin, dan kotor. Mengingat akan ajal, bahkan ia sudah siap jika Allah memanggilnya. Pak kiai menangis hingga air matanya terasa kering. Tiba-tiba muncul dalam kalbunya sebuah niat mulia. Ia harus meminta maaf atas semua prasangkanya pada Bakri. Tak cukup dengan itu, ia harus sujud pada Bakri. Kini ia berlutut seraya menunggu Bakri membuka matanya. Namun Allah telah lebih dulu mengabulkan permohonan Bakri. Diiringi dengan hujan deras yang tiba-tiba mengguyur tempat itu, Bakri telah menghembuskan nafas terakhirnya.

“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shaleh”
(QS. Al Qalam, Ayat: 50)







KEKASIH RAHASIA
Oleh: Risyalah Diwandini
Seorang pemuda berkulit hitam dan berbaju lusuh tengah asyik memainkan sapu lidinya. Sapu yang ia gerakkan menyeret beberapa sampah yang bertebaran di halaman pondok. Pemuda itu kemudian mengumpulkan dan memunguti sampah satu persatu. Sesekali bibirnya berkomat-kamit melafalkan sesuatu. Kata orang, pemuda itu sangat misterius. Ia tak pernah meninggalkan kebiasaannya berkomat-kamit ria. Meskipun dicap sebagai orang paling misterius di pondok pesantren, namun pemuda yang kerap dipanggil Kang Bakri itu, tak pernah sedikitpun mempermasalahkannya. Ia adalah salah satu abdi ndalem di Pondok pesantren Al Musthofa. Sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang kiai terpandang di desa itu. Bakri ingin menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk pondok. Kecintaannya pada pondok pesantren tak perlu diragukan lagi. Tapi entah kenapa, semua orang melihatnya dengan sebelah mata. Bahkan kiainya sekalipun.
***
Siang yang meradang membuat sebagian masyarakat enggan melakoni pekerjaan. Mereka lebih memilih untuk duduk manis di depan pintu tua berwarna coklat seraya berkasak-kusuk ria. Tak sekali dua kali mereka melakukan hal itu. Melainkan berkali-kali. Bahkan ritual menunggu pak kiai keluar dari rumah itu pun, masuk dalam salah satu jadwal wajib mereka. Sangat miris jika melihat salah satu dari mereka terinjak-injak hanya karena berebut ingin mencium tangan pak kiai. Kepercayaan masyarakat awam. Jika menchum tangan seorang kiai akan mendapat barokah alias rejeki nomplok tanpa harus banting tulang. Tak berselang lama, pintu tua itu terbuka, hingga terdengar bunyi berkerit memecah penantian mereka. Belum sempat pak kiai menginjakkan kaki di ambang pintu, mereka telah lebih dulu menyerbu pak kiai. Bakri yang sudah siap dengan kuda-kudanya segera maju melindungi pak kiai. Namun, apalah daya seorang pemuda dekil bertubuh pendek itu. Tentu saja kekuatannya tak sebanding dengan puluhan manusia yang sekarang hampir memadati antero rumah. Kejadian seperti ini ia rasakan acap kali menjadi superhero untuk kiainya. Alhasil, muka dan seluruh badannya dipenuhi luka-luka lebam. Tapi itu tak menjadikannya gentar sedikitpun. Ketaatan dan kecintaannya pada pak kiai tetap terjaga. Dari semua abdi ndalem, hanya Bakrilah yang sangat perhatian pada kiainya. Ke mana pun pak kiai ingin pergi, di sampingnya akan selalu ada makhluk pendek, hitam, dekil, bernama Bakri. Untunglah Bakri masih punya kelebihan. Suara emasnya menjadikan ia muadzin di pondok pesantren itu. Ia tak pernah absen untuk mengumandangkan adzan. Hingga kejadian di suatu malam membuat bumi Al Musthofa gencar.
***
Malam merambat amat letih. Rintik hujan jatuh menggelitik bumi. Dalam kegelapan pekat, suara merdu sekelompok katak bersahutan, diiringi derap langkah tegas. Seorang pemuda berkulit hitam berbaju lusuh tengah berjalan meninggalkan pondok pesantren sembari menenteng cangkul. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada mata yang mengeja gelagatnya. Setelah yakin tak ada manusia lain yang bangun selain dirinya, Bakri memantapkan kaki pergi menuju tempat tujuannya. Hanya berselang beberapa menit, Bakri telah sampai ditempat itu. Ia memerhatikan sekeliling tempat itu. Semilir angin menggoyangkan pohon kamboja di sebelah kanan ia berdiri. Puluhan bahkan ratusan batu nisan telah siap menanti kedatangannya. Tentu saja nisan-nisan itu tak sendiri. Mereka ditemani oleh gundukan-gundukan tanah liat berwarna coklat kemerahan. Di sebelah kiri Bakri terdapat gubuk kecil yang di dalamnya berisikan sebuah keranda. Warnanya tak begitu jelas karena cahaya remang lampu kuning yang besarnya hampir menyamai telur ayam. Mungkin warnanya hijau, atau mungkin biru? Entahlah....
Tanpa pikir panjang, Bakri bergegas menggali tanah kosong di sekitar makam. Dan dengan lihai, ia mengayunkan cangkulnya. Hingga nampaklah lubang sedalam satu setengah meter dan panjang dua meter itu. Setelah merasa cukup, Bakri kemudian menghapus keringat yang mengalir di wajahnya. Bibirnya mengembang pertanda bahagia. Tanpa ia sadari, sepasang mata telah lama mengeja semua gelagatnya.
***
“Sumpah pak kiai...saya melihat dengan mata kepala saya sendiri....”
“Benar? Kamu tidak bohong Husen?” tanya pak kiai ngotot.
“Mboten pak kiai...saya melihat Kang Bakri tengah malam keluar dengan membawa cangkul dan ia pergi ke makam.” jelas Husen panjang lebar.
“Baiklah kalau begitu, panggil Bakri kemari.”
“Enjeh pak kiai…”




Beberapa menit kemudian, Bakri datang sembari tersenyum lebar.
“Wonten nopo pak kiai?” tanya Bakri sopan.
“Apakah benar, tadi malam kamu pergi ke makam?”
“Mboten pak kiai....”
“Kamu yakin kamu tidak bohong?” dengan nada menyelidik pak kiai menimpali.
“Insya Allah pak kiai. Kalaupun saya berbohong, itu adalah demi kemaslahatan kita bersama.” tutur Bakri mantap.
“Baiklah kalau begitu...aku percaya padamu Bakri. Jangan sampai kau sia-siakan kepercayaanku ini. Jika kau berbohong, aku tak segan-segan mengeluarkanmu dari pondok pesantren ini....” ancam pak kiai.
Setelah introgasi itu selesai, Bakri keluar dengan lesu. Nampak guratan menyesal tersirat dari wajahnya. Tak sepantasnya ia membohongi pak kiai. Ibarat virus, berita miring tentang Bakri cepat tersebar seantero pondok. Tak sedikit yang percaya dan tak sedikit pula yang menghujatnya. Tapi Bakri seolah tuli dengan itu semua.
***
Jarum jam menunjuk angka dua belas. Mulailah Bakri mengulangi aksinya. Ia berjalan seraya menenteng cangkul menuju makam. Ia menggali lubang layaknya malam-malam kemarin. Rupanya Husen masih penasaran dengan ulah Bakri. Ia mencoba memperkuat dugaannya. Setelah yakin dengan apa yang dilihatnya adalah kenyataan, Husen berniat untuk melaporkan lagi perbuatan Bakri. Husen kemudian pulang dan menunggu hingga fajar tiba.
Rupanya rembulan telah payah membagikan sinarnya. Langitpun sudah tak lagi berwarna jelaga. Pertanda ayam jago akan segera mengumandangkan suara khasnya. Bakri yang menyadari hal itu, segera keluar dari liang lahat. Ia harus menginjakkan kaki di musholla sebelum semua santri bangun. Seperti biasa, suara adzan Bakri menggema, memecah lazuardi.
***
“Lagi-lagi ia tak mengakui perbuatannya. Jelas sekali bahwa ia pergi ke makam dan menggali lubang di sana. Ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Aku harus mengajak pak kiai melihat sendiri apa yang sebenarnya dilakukan Bakri.” umpat Husen setelah mendengar pengakuan Bakri kepada pak kiai untuk yang kedua kalinya.
Akhirnya, malam yang ditunggu-tunggu pun tiba. Husen bersama dengan pak kiai berniat membuntuti Bakri.
“Sudah saya duga pak kiai, Bakri adalah orang yang tidak beres. Lihat saja pak kiai, apa yang dilakukannya ini telah menyimpang dari syari’at Islam.” Dari kejauhan mereka memperhatikan Bakri. Dengan lihai Bakri mengayunkan cangkulnya. Ia kembali membuat liang lahat di tempat dan posisi yang sama. Kemudian pak kiai melihat Bakri masuk ke dalam liang lahat itu. “Apa yang dilakukannya?” pikir pak kiai heran.
Menit berganti jam. Nampak cahaya aurora di ufuk timur mengintip di balik angkuhnya Gunung Kelud. Kesabaran pak kiai telah berada di atas ubun-ubun . dengan langkah seribu pak kiai segera menghampiri Bakri.
Betapa terkejutnya paki kiai ketika melihat sosok Bakri terbaring seraya menengadahkan tangan. Berulang kali Bakri menyebut asma Allah, berdo’a, dan beristighfar. Matanya terpejam tapi lelehan air matanya terurai deras. Ia merintih meminta ampun atas dosa yang ia lakukan hari ini. Berkali-kali ia mengulangi kalimat yang sama. “Aku rindu bertemu dengan-Mu ya Raab.....Aku rindu bertemu dengan-Mu ya Raab.....aku siap jika Engkau memanggilku saat ini.... Aku telah siap ya Rabb....”
Mendengar ucapan Bakri, pak kiai menangis sejadinya. Betapa ia merasa dirinya adalah orang yang paling bodoh. Ia telah menganggap kekasih Allah layaknya barang yang tak ada harganya. Ia merasa dirinya lebih mulia di atas semua orang. Tapi kini keyakinan itu luruh bersamaan dengan rasa malu yang menyergap hatinya. Ia malu dengan Bakri. Ia malu dengan Allah. Setiap kali ia berdzikir, ia akan selalu berada di tempat yang terang, hangat, bersih, dan tentu saja tak mengeluarkan keringat. Ia merasa tak pernah sedikitpun mengingat untuk mati. Tapi Bakri....ia harus mengeluarkan beribu bahkan berjuta keringat untuk sekedar berdzikir kepada Allah. Berada di tempat yang gelap, dingin, dan kotor. Mengingat akan ajal, bahkan ia sudah siap jika Allah memanggilnya. Pak kiai menangis hingga air matanya terasa kering. Tiba-tiba muncul dalam kalbunya sebuah niat mulia. Ia harus meminta maaf atas semua prasangkanya pada Bakri. Tak cukup dengan itu, ia harus sujud pada Bakri. Kini ia berlutut seraya menunggu Bakri membuka matanya. Namun Allah telah lebih dulu mengabulkan permohonan Bakri. Diiringi dengan hujan deras yang tiba-tiba mengguyur tempat itu, Bakri telah menghembuskan nafas terakhirnya.

“Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shaleh”
(QS. Al Qalam, Ayat: 50)





KEKASIH RAHASIA
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgoen0IrvE7Tvj2Pex9NcCs5uvpE24Hv_nEVawE_-zCoNiPg_O9nLyt1L9uzcfK3Rqn9K7YdkYy6MKTw2F03MIAaoCjjZKQAZU1p9lD_BmMnKzM87EQ1PEkS5gEph5mHZ_NYJMeabHB4Zw/s72-c/popo.jpeg
Read More
JUST FOR YOU

JUST FOR YOU



JUST FOR YOU
Oleh: Risyalah Diwandini
Dentuman musik sholawat rebana membahana. Menambah suasana hiruk pikuk rumahku kental terasa. Aku mengedarkan pandangan ke penjuru halaman rumah. Nampak puluhan orang datang sembari membawa amplop putih dan pulang dengan membawa bingkisan. Ya, hari ini adalah hari yang paling bermakna bagi adikku, Nafi’. Pasalnya, sunnah Rasululloh telah ia laksanakan dengan lancar. Meskipun umurnya masih terlampau sedikit, tapi ibuku tetap kukuh ingin melaksanakan acara ini secepat mungkin. Mumpung ada hari baik, kata beliau. Tiba-tiba dari arah kejauhan, aku melihat ibu melambaikan tangan menyuruhku mendekat. Mungkin ada sesuatu yang ingin beliau katakan. Secepat kilat aku menghampirinya.
“Ada apa, Bu?” tanyaku sopan.
“Tolong kamu lihat adikmu….!! Kasian dia sendirian di ruang tamu.”
“Baik, Bu..” jawabku dengan sedikit cengiran. Mungkin saat ini, Nafi’ tengah meratapi keadaannya yang bisa dibilang tak terlalu baik. Segera kulangkahkan kaki menuju ruang tamu. Ternyata dugaanku benar. Nafi’ duduk sembari mengerang-ngerang kesakitan.
“Kamu kenapa Fi’? Masak udah gede masih cengeng?” kataku menggoda.
“Kakak ini gimana sih? Di mana-mana orang dikhitan itu pasti sakit Kak!!” ujarnya seraya menahan sakit. Aku hanya tersenyum simpul melihat ekspresinya yang mirip dengan cucian kusut.
“Dapat hadiah apa dari Tante Lely? Tadi katanya Tante Lely ngasih sesuatu ke kamu!!”
“Dapat ini!!” Nafi’ menyodorkan sebuah kotak berbentuk persegi panjang. Aku mengernyitkan dahi mencoba membaca tulisan yang tertera di sana. What? Aku membelalakkan mata tak percaya. “Zidan” bisikku lirih. Entah kenapa aku tak bisa menguasai diri. Debaran jantungku laksana genderang pertanda perang. Tiba-tiba bayangan Zidan memenuhi ruang kepalaku. Membuat kornea mataku buram akan semua pesonanya. Zidan Tsaqif. Ya, nama itu terus menggelayut dalam langit-langit jantungku. Hampir tiga tahun ini, aku memendam perasaan padanya. Tapi anehnya, aku sama sekali tak berani mengutarakannya.
“Kakak kenapa bengong?” kata- kata Nafi’ membawaku menjajaki alam sadar.
“Oh…hmm…nggak ada apa-apa adikku sayang. Songkoknya bagus ya!! Apalagi mereknya itu..!!” sahutku seraya tersenyum lebar.
***
Alunan sholawat burdah menghiasi indahnya pagi ini. Pertanda bel masuk akan segera berdering. Aku dan Via berjalan melewati koridor menuju kelas yang bertuliskan XII IPA 3. Kelas yang dalam tiga tahun ini menemani hari-hariku.
Kriiiinngg…krrriiinnggg….kriiinngg….
Tanpa komando, senandung asma’ul husnah yang kami dendangkan menyeruak memadati kelas. Kebiasaan ini kami lakukan acap kali akan memulai kegiatan belajar. Tiba-tiba dari arah luar, terdengar suara Pak Kasiman menggelegar.
“Tholiban na’udzubillah…!! Su’ul adzab..!! berapa kali kalian saya peringatkan. Berangkat sekolah harus memakai songkok…!!” karena penasaran, kami berdesakan keluar kelas untuk melihat apa yang terjadi di luar. Ternyata itu adalah beberapa siswa yang dihukum. Apalagi kalau bukan masalah songkok. Aku berniat untuk masuk kembali ke dalam kelas. Tapi tunggu dulu….bukankah itu…? Zidan? MasyaAllah…aku mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya. Berharap itu adalah bayangan belaka.
“Sebagai hukumannya, saya akan memotong rambut kalian satu persatu. Dimulai dari Zidan…!!” oh my God. Ternyata benar itu adalah Zidan. Bagaimana bisa? Bukankah Zidan adalah anak yang baik nan rajin? Tapi kenapa dia kena hukum? Bejibun pertanyaan timbul dalam benakku. Tubuhku miris melihat helaian rambut Zidan melayang pasrah dihantam angin kemudian mendarat di atas tanah kosong. Kasihan sekali dia. Ketampanannya sedikit berkurang karena model rambut aneh itu. Botak sana, botak sini. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.
***
Siang merambat amat letih. Sang surya nampaknya enggan meninggalkan singgahsananya. Membuat kulitku berubah layaknya bunglon. Terlihat dari warna pipiku yang berbeda. Putih langsat karena masih terlindungi kerudung creamku. Tapi untuk daerah hidung dan sekitarnya, tentu warnanya tak lagi putih langsat. Melainkan kecoklatan alias belang.
Pulang sekolah hari ini, aku berniat mengajak Via mencari sesuatu. Awalnya ia tak mau lantaran tempat yang kutuju jauh. Tapi sekuat tenaga kukeluarkan rayuan gombalku untuk merajuknya. Alhasil, mau juga ia mengantarku.
Sesampainya di tempat tujuanku, aku mencoba menanyakan kepada si penjaga toko barang yang kuinginkan. Namun ternyata benda yang kumaksud memang tak ada. Kuputuskan untuk mencari benda itu di toko lain. Hasilnya pun tetap sama, nihil. Aku mulai putus asa dengan pencarianku. Sepertinya benda yang kucari memang sangat langka. Tak berselang lama, aku teringat sesuatu. Bukankah waktu itu Nafi’ mengatakan kalau yang membeli songkok itu adalah Tante Lely? Kenapa tak terbersit olehku? Akhirnya kuputuskan untuk menelpon Tante Lely.
“Ha? Di Surabaya Tante? Jauh banget?”
“Iya Zara. Tante belinya di Surabaya. Soalnya di Jombang nggak ada merek yang seperti itu. Coba kamu ke sana aja.”
“Ya udah Tante, makasih.” Aku menutup pembicaraanku dengan sejuta kekecewaan. Bagaimana mungkin aku pergi ke sana? Mustahil.
“Aku siap bantuin kamu Zara!!” ujar Via meyakinkan. Mendengar perkataanya jantungku seakan melompat girang. “Makasih Vi..!” ucapku penuh haru.
***
Semoga ini bermanfaat untukmu Zidan. Aku tak bermaksud apa-apa padamu. Hanya saja aku kasihan melihatmu digundul waktu itu. Kayak pemain bola aja. Hehehhe….Disimpan baik-baik ya…! Jangan sampai kena Pak Kasiman lagi. Ok!! Aku segera melipat surat ini dan kuselipkan ke dalam kotak. Hari ini aku akan memberikan songkok ini pada Zidan. Tapi bagaimana caranya? Gilang, ya benar lewat Gilang. Kebetulan sekali ia tengah berjalan melewati koridor depan lab computer. “Gilang!!” panggilku lantang. Ia kemudian menoleh. “Aku minta tolong ya..!! berikan ini pada Zidan. Makasih.” Secepat mungkin kutinggalkan Gilang. Aku takut jika ada guru yang melihat. Bisa bahaya. Semoga perbuatanku ini tak melanggar aturan. Toh aku tak melakukan tindakan kriminal pondok alias ketemuan dengan lawan jenis. Tapi entahlah…
***
“Ditunggu kedatangannya di kamar kamtib. Saudari Zarana As Syifa. Secepatnya.” panggilan itu membuatku kehabisan darah. Wajahku pucat pasi. Kakiku gemetar tak kuat memopang berat tubuhku. Mungkin ini adalah balasan dari yang di atas. Maafkan aku ya Rabb…
“Apakah ini milikmu Zara?” Tanya salah satu pengurus keamanan. Ia menunjukkan kalung berwarna perak. Liontinnya berbentuk nama. Aku memicingkan mata mencoba mengeja hurufnya. DARA. “Bukan” jawabku datar. “Lalu punya siapa kalau bukan milikmu?” kali ini nadanya sedikit terangkat. Seram sekali. Batinku ngeri. “Seseorang menitipkan ini untukmu. Mungkin dia tak tau kalau aku ini anggota keamanan. Dia juga berpesan, ini adalah tanda terimakasihnya untukmu. Dan DARA itu adalah singkatan dari Zidan dan Zara. Sekarang kamu pasti tau Zara apa hukuman bagi santri yang melanggar peraturan.” aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tubuhku seakan lemas tak bernyawa. Nasib.







JUST FOR YOU
Oleh: Risyalah Diwandini
Dentuman musik sholawat rebana membahana. Menambah suasana hiruk pikuk rumahku kental terasa. Aku mengedarkan pandangan ke penjuru halaman rumah. Nampak puluhan orang datang sembari membawa amplop putih dan pulang dengan membawa bingkisan. Ya, hari ini adalah hari yang paling bermakna bagi adikku, Nafi’. Pasalnya, sunnah Rasululloh telah ia laksanakan dengan lancar. Meskipun umurnya masih terlampau sedikit, tapi ibuku tetap kukuh ingin melaksanakan acara ini secepat mungkin. Mumpung ada hari baik, kata beliau. Tiba-tiba dari arah kejauhan, aku melihat ibu melambaikan tangan menyuruhku mendekat. Mungkin ada sesuatu yang ingin beliau katakan. Secepat kilat aku menghampirinya.
“Ada apa, Bu?” tanyaku sopan.
“Tolong kamu lihat adikmu….!! Kasian dia sendirian di ruang tamu.”
“Baik, Bu..” jawabku dengan sedikit cengiran. Mungkin saat ini, Nafi’ tengah meratapi keadaannya yang bisa dibilang tak terlalu baik. Segera kulangkahkan kaki menuju ruang tamu. Ternyata dugaanku benar. Nafi’ duduk sembari mengerang-ngerang kesakitan.
“Kamu kenapa Fi’? Masak udah gede masih cengeng?” kataku menggoda.
“Kakak ini gimana sih? Di mana-mana orang dikhitan itu pasti sakit Kak!!” ujarnya seraya menahan sakit. Aku hanya tersenyum simpul melihat ekspresinya yang mirip dengan cucian kusut.
“Dapat hadiah apa dari Tante Lely? Tadi katanya Tante Lely ngasih sesuatu ke kamu!!”
“Dapat ini!!” Nafi’ menyodorkan sebuah kotak berbentuk persegi panjang. Aku mengernyitkan dahi mencoba membaca tulisan yang tertera di sana. What? Aku membelalakkan mata tak percaya. “Zidan” bisikku lirih. Entah kenapa aku tak bisa menguasai diri. Debaran jantungku laksana genderang pertanda perang. Tiba-tiba bayangan Zidan memenuhi ruang kepalaku. Membuat kornea mataku buram akan semua pesonanya. Zidan Tsaqif. Ya, nama itu terus menggelayut dalam langit-langit jantungku. Hampir tiga tahun ini, aku memendam perasaan padanya. Tapi anehnya, aku sama sekali tak berani mengutarakannya.
“Kakak kenapa bengong?” kata- kata Nafi’ membawaku menjajaki alam sadar.
“Oh…hmm…nggak ada apa-apa adikku sayang. Songkoknya bagus ya!! Apalagi mereknya itu..!!” sahutku seraya tersenyum lebar.
***
Alunan sholawat burdah menghiasi indahnya pagi ini. Pertanda bel masuk akan segera berdering. Aku dan Via berjalan melewati koridor menuju kelas yang bertuliskan XII IPA 3. Kelas yang dalam tiga tahun ini menemani hari-hariku.
Kriiiinngg…krrriiinnggg….kriiinngg….
Tanpa komando, senandung asma’ul husnah yang kami dendangkan menyeruak memadati kelas. Kebiasaan ini kami lakukan acap kali akan memulai kegiatan belajar. Tiba-tiba dari arah luar, terdengar suara Pak Kasiman menggelegar.
“Tholiban na’udzubillah…!! Su’ul adzab..!! berapa kali kalian saya peringatkan. Berangkat sekolah harus memakai songkok…!!” karena penasaran, kami berdesakan keluar kelas untuk melihat apa yang terjadi di luar. Ternyata itu adalah beberapa siswa yang dihukum. Apalagi kalau bukan masalah songkok. Aku berniat untuk masuk kembali ke dalam kelas. Tapi tunggu dulu….bukankah itu…? Zidan? MasyaAllah…aku mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya. Berharap itu adalah bayangan belaka.
“Sebagai hukumannya, saya akan memotong rambut kalian satu persatu. Dimulai dari Zidan…!!” oh my God. Ternyata benar itu adalah Zidan. Bagaimana bisa? Bukankah Zidan adalah anak yang baik nan rajin? Tapi kenapa dia kena hukum? Bejibun pertanyaan timbul dalam benakku. Tubuhku miris melihat helaian rambut Zidan melayang pasrah dihantam angin kemudian mendarat di atas tanah kosong. Kasihan sekali dia. Ketampanannya sedikit berkurang karena model rambut aneh itu. Botak sana, botak sini. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.
***
Siang merambat amat letih. Sang surya nampaknya enggan meninggalkan singgahsananya. Membuat kulitku berubah layaknya bunglon. Terlihat dari warna pipiku yang berbeda. Putih langsat karena masih terlindungi kerudung creamku. Tapi untuk daerah hidung dan sekitarnya, tentu warnanya tak lagi putih langsat. Melainkan kecoklatan alias belang.
Pulang sekolah hari ini, aku berniat mengajak Via mencari sesuatu. Awalnya ia tak mau lantaran tempat yang kutuju jauh. Tapi sekuat tenaga kukeluarkan rayuan gombalku untuk merajuknya. Alhasil, mau juga ia mengantarku.
Sesampainya di tempat tujuanku, aku mencoba menanyakan kepada si penjaga toko barang yang kuinginkan. Namun ternyata benda yang kumaksud memang tak ada. Kuputuskan untuk mencari benda itu di toko lain. Hasilnya pun tetap sama, nihil. Aku mulai putus asa dengan pencarianku. Sepertinya benda yang kucari memang sangat langka. Tak berselang lama, aku teringat sesuatu. Bukankah waktu itu Nafi’ mengatakan kalau yang membeli songkok itu adalah Tante Lely? Kenapa tak terbersit olehku? Akhirnya kuputuskan untuk menelpon Tante Lely.
“Ha? Di Surabaya Tante? Jauh banget?”
“Iya Zara. Tante belinya di Surabaya. Soalnya di Jombang nggak ada merek yang seperti itu. Coba kamu ke sana aja.”
“Ya udah Tante, makasih.” Aku menutup pembicaraanku dengan sejuta kekecewaan. Bagaimana mungkin aku pergi ke sana? Mustahil.
“Aku siap bantuin kamu Zara!!” ujar Via meyakinkan. Mendengar perkataanya jantungku seakan melompat girang. “Makasih Vi..!” ucapku penuh haru.
***
Semoga ini bermanfaat untukmu Zidan. Aku tak bermaksud apa-apa padamu. Hanya saja aku kasihan melihatmu digundul waktu itu. Kayak pemain bola aja. Hehehhe….Disimpan baik-baik ya…! Jangan sampai kena Pak Kasiman lagi. Ok!! Aku segera melipat surat ini dan kuselipkan ke dalam kotak. Hari ini aku akan memberikan songkok ini pada Zidan. Tapi bagaimana caranya? Gilang, ya benar lewat Gilang. Kebetulan sekali ia tengah berjalan melewati koridor depan lab computer. “Gilang!!” panggilku lantang. Ia kemudian menoleh. “Aku minta tolong ya..!! berikan ini pada Zidan. Makasih.” Secepat mungkin kutinggalkan Gilang. Aku takut jika ada guru yang melihat. Bisa bahaya. Semoga perbuatanku ini tak melanggar aturan. Toh aku tak melakukan tindakan kriminal pondok alias ketemuan dengan lawan jenis. Tapi entahlah…
***
“Ditunggu kedatangannya di kamar kamtib. Saudari Zarana As Syifa. Secepatnya.” panggilan itu membuatku kehabisan darah. Wajahku pucat pasi. Kakiku gemetar tak kuat memopang berat tubuhku. Mungkin ini adalah balasan dari yang di atas. Maafkan aku ya Rabb…
“Apakah ini milikmu Zara?” Tanya salah satu pengurus keamanan. Ia menunjukkan kalung berwarna perak. Liontinnya berbentuk nama. Aku memicingkan mata mencoba mengeja hurufnya. DARA. “Bukan” jawabku datar. “Lalu punya siapa kalau bukan milikmu?” kali ini nadanya sedikit terangkat. Seram sekali. Batinku ngeri. “Seseorang menitipkan ini untukmu. Mungkin dia tak tau kalau aku ini anggota keamanan. Dia juga berpesan, ini adalah tanda terimakasihnya untukmu. Dan DARA itu adalah singkatan dari Zidan dan Zara. Sekarang kamu pasti tau Zara apa hukuman bagi santri yang melanggar peraturan.” aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tubuhku seakan lemas tak bernyawa. Nasib.





JUST FOR YOU
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhe7ZzNOu4PBQG3fIMh72iQtv4vxqaHu-bWG66-e88myC9NntX5qo7JapLEPTlA-VgqArhd-FjWYK67V2pXDMc6WkMk8hFHRriarDbAqa-yzr5b4e9S5Dz1-cCAD3VXmlCCK8c2eBI7C6U/s72-c/lolo.jpeg
Read More
Cintaku di Chemistry

Cintaku di Chemistry


Cintaku di Chemistry 

Oleh: Risyalah Diwandini

 
Cinta…
Laksana air mineral, yang terkena racun killerbee (serangga mematikan), dan kemudian membuat setiap orang yang meminumya mati Karena dehidrasi hebat.
Cinta…
Menyantap semua akal sehat setiap insan. Mengubah ractn menjadi sirup. Mengubah duri menjadi bunga. Mengubah seorang monster menjadi seorang putri. Membutakan apa yang seharusnya dapat terlihat nyata.
Itulah cinta…
***
“Selamat ulang tahun Kenza!” serentak teman-teman membuatku kaget. Satu persatu mereka mengulurkan tangan dan mengecup pipiku hangat. Tiada hari paling indah, selain hari ini, 12 September. Entah kenapa, bulan September adalah bulan yang membuatku merasa terlahir kembali. Apa mungkin karena bulan September adalah ulang tahunku?
Kado dengan pita warna-warni memenuhi bangkuku. Mulai dari yang berbentuk kubus berukuran kecil, sedang, sampai yang paling besar ada di sana. Motif gambarnya pun bermacam-macam. Ada yang bermotif beruang, garis- garis vertikal berwarna pelangi, bebek memegang balon, dan masih banyak lagi. Rupanya mereka tahu, aku menyukai warna pelangi. Tiba- tiba mataku mendarat pada sebuah kado yang unik sekaligus aneh. Bentuknya tidak terlalu besar dan warnanya pun tidak mencolok. Aku segera mengambilnya dan memperhatikan kotak itu. Ternyata pengirimnya membungkus kotak ini dengan daun kering yang telah berubah warna menjadi merah. Karena penasaran, segera  kubuka kotak itu perlahan. Sejurus kemudian, kutemukan kertas kecil di dalamnya yang bertuliskan “Kenza”. Sangat kaget aku dibuatnya. Siapa yang mengirimkan ini?
Tak ada nama pengirim yang tercantum di sini. Yang ada hanyalah namaku. Pikiranku mencoba mengingat-ingat, siapa di balik semua ini. Dan, yang hanya terpikir saat itu adalah
Mungkinkah….?              
***
              Pagi ini terasa sangat sejuk. Hawanya membawa sejuta kenyamanan. Tampak buliran air embun memenuhi kaca kelas XI IPA 3. Kelas istimewa yang diisi dengan orang- orang   istimewa pula. Aku mengamati sekitar kelasku dengan menyunggingkan senyum. Dari sini juga aku dapat melihat sekolah yang dalam dua tahun ini menemani hari- hari ku mencari ilmu. Bangunan berwarna hijau dengan sekat ruangan bercat kuning. Warna yang mengambarkan kenyamanan dan kedamaian bagi setiap mata yang memandangnya. Aku berdiri di depan kelas sambil menghirup udara dalam-dalam. Terasa dingin merambat sampai kerongkongan. Betapa besarnya nikmat yang telah Tuhan berikan. Nikmat bernafas, nikmat melihat, nikmat perasa, dan masih banyak lagi nikmat lain yang tak bisa di hitung dengan jari. Seandainya, salah satu nikmat itu dicabut, tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya.
              Ketika aku mulai terlena, tiba- tiba ada suatu benda mengenai kepalaku. “Aw” aku reflek mengaduh. Segera kupastikan benda apa yang dengan bebas mendarat di kepalaku ini. Ternyata hanya secarik kertas yang telah dilumat bulat. “Apa sih ini?” gerutuku dalam hati. Dengan beringas aku membukanya. Mungkin ini adalah ultimatum dari dewa yang baru saja jatuh dari langit. Atau mungkin sebuah wasiat angin yang memberitahukan ada sebuah harta karun terpendam. Aaah...pikiran aneh itu tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Aku jadi teringat kejadian Ponari yang konon kepalanya dijatuhi batu sakti, dan kemudian menjelma menjadi obat mujarab penyembuh segala penyakit. Setelah kubuka, ternyata isinya hanyalah sebuah kata yang memaksaku mengernyitkan dahi. Sebuah kata yang sangat kukenal tapi aku tak paham apa maksudnya. “Kenza” apa maksudnya? Dan siapa yang melempar ini? Gumamku dalam hati. Kejadian ini terulang dua kali. Sama seperti yang terjadi di hari ulang tahunku.
“Hei Za! Kamu kenapa? Ko kayak aneh gitu?” tanya Zuni.
“Eh, nggak ada apa-apa. Aku ngerasa aneh aja, dengan kejadian ini.”
“Kejadian? Kejadian apa? Kayaknya serius banget?” tanya Zuni dengan tampang penasaran.
“Lihat ini!” aku menyodorkan kertas  aneh itu kepada Zuni.
“Apa ini? Kenza? Maksudnya?”
“Maka dari itu, aku juga bingung. Ini sudah kedua kalinya aku dapat surat aneh seperti ini. Tidak ada nama pengirimya pula.”
“Mungkin penggemar rahasiamu, Kenza. Atau jangan-jangan si Yudha. Iya, bener, pasti Yudha!” dengan gaya ala paranormal Zuni membual.
“Heh ngawur kamu. Nggak mungkinlah ini Yudha. Kamu kan tahu sendiri kalau Yudha orangnya kayak gimana!” kataku sambil memukul bahunya.
Mustahil kalau ini adalah ulah Yudha. Ia tak pernah mau menyapaku walau hanya berkata “hai”. Padahal, sudah hampir dua tahun aku menjadi teman sekelasnya. Tapi, ia tak pernah sedikitpun menganggapku. Ia memang orang yang cuek sekaligus dingin. Ia juga jarang berbicara dengan teman-teman perempuan di kelas. Ia hanya mau berbicara seperlunya. Meskipun begitu, ia adalah anak yang pintar. Apalagi dalam pelajaran kimia. Bisa dikatakan, kalau kimia adalah bagian dari hidupnya. Dalam dirinya terdapat neutron yang bermuatan negatif. Karena jika  marah, ia akan seperti monster yang siap memangsa  setiap orang yang menghalangi pemandangannya. Ada juga proton yang bermuatan positif. Karena, ia termasuk anak yang sangat patuh dan juga taat pada semua guru di sini. Hem...sepertinya, semua bagian tubuhnya mengandung kimia. Kalau memang itu adalah ulah Yudha, aku akan sangat senang sekali. Dari kelas 1 diam-diam aku sudah menaruh hati padanya. Aku sendiri tak tahu kenapa aku bisa suka dengan Yudha. Tapi, sekalipun begitu, aku tak pernah mengatakannya. Karena aku tahu, ia tak suka berhubungan dengan makhluk yang namanya perempuan. Sungguh aneh.
Kriiing...kriiing...kriiing...
Bel tanda pelajaran usai. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagiku. Terik matahari seakan menjilat ubun-ubunku. Sinarnya yang panas membuat keringat di keningku mengucur deras. Antrian keluar di depan gerbang sekolah membuatku malas melangkahkan kaki. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu sampai volume manusia yang sekarang memadati jalanan pintu keluar menurun. Ku perhatikan langkah teman-temanku dengan seksama. Tiba-tiba, sesosok manusia yang sangat ku kenal datang menghampiriku. Seseorang yang membuatku gerogi jika berada di dekatnya. Satu-satunya orang yang tak pernah menyebut namaku dan tak pernah mengajakku bicara walau berada dalam satu kelas.
            “Nunggu siapa?”
“Oh...nu...nunggu...si...siapa? ehm...nggak nunggu siapa-siapa.” jawabku gugup.
“Nih, bersihkan dulu keringatmu itu!” ia menyodorkan tisunya kepadaku.
Mimpi apa aku semalam? Tak pernah sedikitpun terbayang dibenakku peristiwa seperti ini. Sungguh suatu keajaiban Yudha mau berbicara denganku. Menawarkan tisu pula.
Mungkin kepalanya sedang tersumbat sesuatu sehingga peredaran darahnya terganggu dan kemudian berlaku seperti ini. Atau mungkin kornea matanya sedang tidak beres, sehingga ia melihatku seperti melihat Aufal, teman sebangkunya. Atau mungkin saja, ia baru menyadari bahwa aku ini memang teman sekelasnya. Duh Gusti, mimpi di siang bolongkah aku sekarang?
Untuk memastikan itu, kucubit pipiku keras-keras.  “Aw” sangat sakit rupanya. Yudha yang melihat keanehanku tersenyum remeh. Akupun membalasnya dengan wajah tanpa dosa dengan sedikit cengiran khasku.
            “Jangan merasa aneh seperti itu!” Yudha mengawali.
“Aku tak merasa aneh, hanya saja aku bingung dengan sikapmu ini.” Jawabku
            “Oh, itu!” wajahnya berubah serius.
“Kenapa memanganya? Aku sangat kaget, tiba-tiba saja kamu mau berbicara denganku. Padahal, kalau di ingat-ingat, kamu tak pernah berbicara denganku selama kita satu kelas. Benarkan?”
“Memang!” jawabnya datar.
“Tapi kenapa?” tanyaku penasaran.
“Suatu saat kamu pasti akan tahu sendiri kenapa aku bersikap seperti ini.”
Kemudian Yudha pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Aku baru sadar, kalau ia tak juga aneh, tapi juga misterius. Itu yang membuatku semakin ingin mengenalnya lebih dekat lagi. Segera ku langkahkan kaki untuk pulang. “Suatu saat kamu pasti akan tahu sendiri kenapa aku bersikap seperti ini.” Kalimat itu seakan semakin jauh bermain-main dalam pikiranku.
Kurebahkan badanku di atas kasur yang berbalut seprei berwarna coklat. Ku ingat-ingat kemballi kalimat yang di ucapkan  Yudha. Mencoba menemukan apa maksud dari kata-katanya itu. Tapi, kepalaku tak bersahabat. Sore ini, langit berubah mendung di selimuti awan hitam. Sehitam jelaga. Gemuruh suara petir memekikkan telinga. Angin pertanda hujan badai  menampar pepohonan depan rumahku. Badanku ngeri di buatnya. Dalam ruangan gelap tak bercahaya ku pejamkan mata. Kepalaku terasa berat dan pening. Tubuhku seakan terbakar dan kakiku tak bisa bergerak. Semuanya tiba-tiba melemah. Mungkin malam ini aku tak akan bisa beraktifitas. Aku akan berlindung di bawah selimut tebal berwarna orangeku ini. Mengistirahatkan pikiran dan badanku. Sampai pagi menjelang.
“Hallo beb…! Kamu sakit apa? Parah nggak? Udah makan belum? Udah ke dokter? Terus kata dokter sakit apa?” tanpa koma Zuni menghujamku dengan pertanyaannya.
“Aduh Zun, kamu ini niat bikin aku sembuh, atau malah bikin aku tambah sakit?” kataku dengan nada memelas karena tubuhku masih belum stabil.
“Lho kenapa? Aku niat kesini kan mau jengukin kamu…! Nih liat..! aku bela-belain pulang sekolah langsung meluncur kerumah kamu. Aku khawatir banget Kenza ku sayang!” sergah Zuni dengan nada centilnya.
“Habisnya, kamu nanya nggak ada titik komanya. Aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu.” Protesku pada Zuni.
“Ya maaf.” Jawab Zuni lemas.
“Hem…ku maafin. Aku sekarang udah agak mendingan dari pada tadi malem. Lagian penyakitku juga nggak terlalu parah, Cuma gejala flu biasa. Jadi kamu nggak usah khawatir.” Jelasku panjang lebar.
“Wah…baguslah! Aku kira parah banget. Oh ya Za, nih ada titipan buat kamu!” sambil menyodorkan kertas, Zuni tersenyum penuh makna.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.
“Buka aja!” jawab Zuni singkat.
“Nama- nama yang terlampir di bawah ini adalah peserta bimbingam Olimpiade Kimia? Maksudnya apa Zun?”
“Aduh Miss LOL, alias Miss LOLA, gini lo sayang, ini adalah nama-nama yang bakalan ikutan bimibingan Olimpiade Kimia. Dari kelas kita diambil dua orang, yaitu kamu, Kenza Amalia and  Yudha Mubarrok. Berhubung satu minggu lagi ada Olimpiade Kimia tingkat nasional, sekolahan kita ngadain bimbingan itu dech. Ya…biar menang lagi kayak tahun kemarin. Keren kan?” cerocos Zuni.
Keren apanya? Secara, aku kan nggak canggih kalau masalah Kimia. Mana partnerku Yudha lagi. Gimana donk?” rengekku dengan nada malas.
“Heh…! Kamu ini nggak bersyukur ya! Setiap tahun rangking satu katanya nggak canggih. Wajarlah kalau kamu sama Yudha yang dipilih. Soalnya sama-sama pinternya. Kalau aku yang di pilih, itu baru nggak wajar. Udahlah, pokoknya kamu harus cepet sembuh. Biar besok langsung bisa ikutan bimbingan. Dan yang paling penting bisa ketemu sama Aa’ Yudha. Hahaha…!!!” goda Zuni yang membuat pipiku memerah.
***
Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku berangkat sekolah dengan bersemangat. Entah apa yang membuatku merasa lebih senang. Tapi yang terpenting, aku telah mendapatkan pelajaran dari sakit ku kemarin, kalau sehat adalah nikmat yang luar biasa.
Aku melangkahkan kaki menuju ruangan bertuliskan XI IPA 3. Kubuka pintu perlahan. Ternyata tak ada yang berbeda dengan teman-temanku hari ini. Tetap sama seperti sebelum aku sakit.
Rahma yang bermain dengan laptopnya, Via yang membaca novel kesukaannya, Sinta yang selalu rajin mengisi jurnal guru, dan masih banyak lagi. Tapi, tunggu dulu! Ada yang terlewatkan. Oh ya…si Yudha. Kemana anak itu, kenapa tak ada di kelas? Mataku mencoba menyisir setiap bangku kelas. Tapi hasilnya tetap sama. Tak ada tanda-tanda keberadaannya. Biasanya, dia selalu diam di bangkunya sambil membaca buku pelajaran yang akan di ajarkan nanti.
            “Woy…nyari siapa, Bu?” Zuni mengagetkanku.
            “Oh nggak nyari siapa-siapa!” aku mencoba mengalihkan muka.
“Ah yang bener? Tapi kayaknya ada bau-bau bohong nih!” sergah Zuni dengan mencubit pipiku yang memerah. Ternyata dia tau kalau aku sedang mencari Yudha.
“Beneran!” kataku meyakinkan meski aku tau Zuni tak akan percaya.
“Oh ya Za, aku lupa, kamu udah di tunggu sama Pak Makhrus di Lab Kimia, cepetan!”
Ngapain pagi-pagi ke Lab Kimia?” tanyaku heran.
“Ya ampun…! Ya ngapain lagi kalau bukan bimbingan!” pekik Zuni dengan suara cemprengnya.
“Hah…? Yang bener kamu? Ya udah aku ke sana dulu!” kataku sambil mengeluarkan buku paket Kimia dalam tasku.
“Ya udah sana buruan!” perintah Zuni.
Aku segera berlari menuju ruangan yang kira-kira berjarak 10 meter  dari kelasku. Dengan langkah penuh percaya diri, aku memasuki ruangan seluas 5 x 5 meter dengan dinding berwarna kuning dan sedikit hiasan tabel unsur Kimia.
`           “Maaf, Pak saya terlambat!” kataku dengan nada terengah-engah. Sekilas aku melihat sosok Yudha yang juga ternyata memerhatikanku.
            “Ya…silahkan duduk!” pinta Pak Makhrus dengan sedikit senyum di bibirnya.
            “Terimakasih, Pak!” sahutku tersenyum simpul.
Waktu berjalan selama lebih kurang dua jam. Akhirnya, Pak Makhrus mengakhiri bimbingan hari ini. Kami pun beranjak kembali ke kelas masing-masing. Aku melihat Yudha dengan tatapan mengajak. Yudha pun mengiyakan dengan anggukan kepala. Kemudian aku dan Yudha berjalan bersama. Ketika akan memasuki kelas, tiba-tiba Yudha memberikan selembar kertas berwarna pelangi kepadaku, kenudian beranjak meninggalkanku yang sedang kebingungan. Kubuka kertas itu dengan sejuta rasa penasaran. Yang kutemukan di sana adalah sebuah kalimat bertuliskan “Kutunggu di depan Lab Kimia sepulang sekolah.” Sejenak, jantungku berdesir kencang. Apa yang akan di lakukan Yudha nanti? Pikirku heran. Semoga ini pertanda baik bagi kelangsungan hidupku.
Seperti biasa, bel tanda usai pelajaran berbunyi nyaring. Secepat kilat Yudha keluar dengan menenteng tas cokl`tnya. Aku pun mengikutinya dari belakang.
            “Ada apa Yud?” tanyaku dengan tampang ketakutan.
“Hah? Mukamu kenapa? Biasa ajalah, jangan terlalu tegang begitu. Aku nggak akan macem-macem kok!” jawabnya tulus.
“Hahaha!! Emang kelihatan banget ya kalau aku takut?”
“Ya iyalah. Mukamu tuh lucu banget tau nggak sih! Kayak tikus kejepit pintu!” Yudha mengolokku sambil tertawa lepas. Tawa yang tak pernah kulihat selama ini. Kenapa dia jadi semakin aneh seperti ini? Aku semakin takut dibuatnya.
“Langsung aja ya..! Jadi begini, sebelumnya aku minta maaf atas semua perilaku ku selama ini. Aku sadar aku salah bersikap dingin di kelas. Tapi itu semua aku lakukan emang ada alasannya.”
;span style="color: #1d1b11;">Akhirnya Yudha menceritakan semuanya kepadaku. Ternyata kedua orang tua Yudha sudah bercerai sejak ia lulus kelas 3 SMP. Ia merasa dendam dengan ayahnya karena telah menduakan ibu tercintanya. Sejak saat itulah ia berubah menjadi anak yang pendiam dan susah bersosialisasi.
“Nah, sekarang kamu udah tau kan, kenapa aku bersikap seperti itu?” tanyanya memelas.
            “Ya, aku tau! Kamu pasti sangat  kecewa dengan ayahmu. Aku ikut sedih mendengarnya.”
Thanks, kamu udah mau ngerti aku. Sekarang, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Satu permintaan yang tidak terlalu memberatkanmu. Kamu hanya cukup menjawabnya “mau” atau “tidak”.”
“Apa itu?” tanyaku antusias. Karena aku tak sabar mendengarkan pertanyaan yang akan dia ucapkan kepadaku. Mungkin saja dia akan mengatakan cinta kepadaku. Oh my God, sebentar lagi impianku akan terwujud. Ternyata dia juga suka denganku. Pikirku penuh percaya diri.
“Aku ingin kamu menjadi sahabatku!”
“Apa? Sahabat? Hanya sahabat?” tanyaku dengan nada meninggi.
“Ya, hanya sahabat. Aku ingin kamu membantuku untuk mendekati Zuni. Hanya itu permintaanku. Bagaimana?”
Pertanyaanya membuatku mati kaku. Ternyata bayanganku tak seindah kenyatan.












Cintaku di Chemistry 

Oleh: Risyalah Diwandini

 
Cinta…
Laksana air mineral, yang terkena racun killerbee (serangga mematikan), dan kemudian membuat setiap orang yang meminumya mati Karena dehidrasi hebat.
Cinta…
Menyantap semua akal sehat setiap insan. Mengubah ractn menjadi sirup. Mengubah duri menjadi bunga. Mengubah seorang monster menjadi seorang putri. Membutakan apa yang seharusnya dapat terlihat nyata.
Itulah cinta…
***
“Selamat ulang tahun Kenza!” serentak teman-teman membuatku kaget. Satu persatu mereka mengulurkan tangan dan mengecup pipiku hangat. Tiada hari paling indah, selain hari ini, 12 September. Entah kenapa, bulan September adalah bulan yang membuatku merasa terlahir kembali. Apa mungkin karena bulan September adalah ulang tahunku?
Kado dengan pita warna-warni memenuhi bangkuku. Mulai dari yang berbentuk kubus berukuran kecil, sedang, sampai yang paling besar ada di sana. Motif gambarnya pun bermacam-macam. Ada yang bermotif beruang, garis- garis vertikal berwarna pelangi, bebek memegang balon, dan masih banyak lagi. Rupanya mereka tahu, aku menyukai warna pelangi. Tiba- tiba mataku mendarat pada sebuah kado yang unik sekaligus aneh. Bentuknya tidak terlalu besar dan warnanya pun tidak mencolok. Aku segera mengambilnya dan memperhatikan kotak itu. Ternyata pengirimnya membungkus kotak ini dengan daun kering yang telah berubah warna menjadi merah. Karena penasaran, segera  kubuka kotak itu perlahan. Sejurus kemudian, kutemukan kertas kecil di dalamnya yang bertuliskan “Kenza”. Sangat kaget aku dibuatnya. Siapa yang mengirimkan ini?
Tak ada nama pengirim yang tercantum di sini. Yang ada hanyalah namaku. Pikiranku mencoba mengingat-ingat, siapa di balik semua ini. Dan, yang hanya terpikir saat itu adalah
Mungkinkah….?              
***
              Pagi ini terasa sangat sejuk. Hawanya membawa sejuta kenyamanan. Tampak buliran air embun memenuhi kaca kelas XI IPA 3. Kelas istimewa yang diisi dengan orang- orang   istimewa pula. Aku mengamati sekitar kelasku dengan menyunggingkan senyum. Dari sini juga aku dapat melihat sekolah yang dalam dua tahun ini menemani hari- hari ku mencari ilmu. Bangunan berwarna hijau dengan sekat ruangan bercat kuning. Warna yang mengambarkan kenyamanan dan kedamaian bagi setiap mata yang memandangnya. Aku berdiri di depan kelas sambil menghirup udara dalam-dalam. Terasa dingin merambat sampai kerongkongan. Betapa besarnya nikmat yang telah Tuhan berikan. Nikmat bernafas, nikmat melihat, nikmat perasa, dan masih banyak lagi nikmat lain yang tak bisa di hitung dengan jari. Seandainya, salah satu nikmat itu dicabut, tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya.
              Ketika aku mulai terlena, tiba- tiba ada suatu benda mengenai kepalaku. “Aw” aku reflek mengaduh. Segera kupastikan benda apa yang dengan bebas mendarat di kepalaku ini. Ternyata hanya secarik kertas yang telah dilumat bulat. “Apa sih ini?” gerutuku dalam hati. Dengan beringas aku membukanya. Mungkin ini adalah ultimatum dari dewa yang baru saja jatuh dari langit. Atau mungkin sebuah wasiat angin yang memberitahukan ada sebuah harta karun terpendam. Aaah...pikiran aneh itu tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Aku jadi teringat kejadian Ponari yang konon kepalanya dijatuhi batu sakti, dan kemudian menjelma menjadi obat mujarab penyembuh segala penyakit. Setelah kubuka, ternyata isinya hanyalah sebuah kata yang memaksaku mengernyitkan dahi. Sebuah kata yang sangat kukenal tapi aku tak paham apa maksudnya. “Kenza” apa maksudnya? Dan siapa yang melempar ini? Gumamku dalam hati. Kejadian ini terulang dua kali. Sama seperti yang terjadi di hari ulang tahunku.
“Hei Za! Kamu kenapa? Ko kayak aneh gitu?” tanya Zuni.
“Eh, nggak ada apa-apa. Aku ngerasa aneh aja, dengan kejadian ini.”
“Kejadian? Kejadian apa? Kayaknya serius banget?” tanya Zuni dengan tampang penasaran.
“Lihat ini!” aku menyodorkan kertas  aneh itu kepada Zuni.
“Apa ini? Kenza? Maksudnya?”
“Maka dari itu, aku juga bingung. Ini sudah kedua kalinya aku dapat surat aneh seperti ini. Tidak ada nama pengirimya pula.”
“Mungkin penggemar rahasiamu, Kenza. Atau jangan-jangan si Yudha. Iya, bener, pasti Yudha!” dengan gaya ala paranormal Zuni membual.
“Heh ngawur kamu. Nggak mungkinlah ini Yudha. Kamu kan tahu sendiri kalau Yudha orangnya kayak gimana!” kataku sambil memukul bahunya.
Mustahil kalau ini adalah ulah Yudha. Ia tak pernah mau menyapaku walau hanya berkata “hai”. Padahal, sudah hampir dua tahun aku menjadi teman sekelasnya. Tapi, ia tak pernah sedikitpun menganggapku. Ia memang orang yang cuek sekaligus dingin. Ia juga jarang berbicara dengan teman-teman perempuan di kelas. Ia hanya mau berbicara seperlunya. Meskipun begitu, ia adalah anak yang pintar. Apalagi dalam pelajaran kimia. Bisa dikatakan, kalau kimia adalah bagian dari hidupnya. Dalam dirinya terdapat neutron yang bermuatan negatif. Karena jika  marah, ia akan seperti monster yang siap memangsa  setiap orang yang menghalangi pemandangannya. Ada juga proton yang bermuatan positif. Karena, ia termasuk anak yang sangat patuh dan juga taat pada semua guru di sini. Hem...sepertinya, semua bagian tubuhnya mengandung kimia. Kalau memang itu adalah ulah Yudha, aku akan sangat senang sekali. Dari kelas 1 diam-diam aku sudah menaruh hati padanya. Aku sendiri tak tahu kenapa aku bisa suka dengan Yudha. Tapi, sekalipun begitu, aku tak pernah mengatakannya. Karena aku tahu, ia tak suka berhubungan dengan makhluk yang namanya perempuan. Sungguh aneh.
Kriiing...kriiing...kriiing...
Bel tanda pelajaran usai. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagiku. Terik matahari seakan menjilat ubun-ubunku. Sinarnya yang panas membuat keringat di keningku mengucur deras. Antrian keluar di depan gerbang sekolah membuatku malas melangkahkan kaki. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu sampai volume manusia yang sekarang memadati jalanan pintu keluar menurun. Ku perhatikan langkah teman-temanku dengan seksama. Tiba-tiba, sesosok manusia yang sangat ku kenal datang menghampiriku. Seseorang yang membuatku gerogi jika berada di dekatnya. Satu-satunya orang yang tak pernah menyebut namaku dan tak pernah mengajakku bicara walau berada dalam satu kelas.
            “Nunggu siapa?”
“Oh...nu...nunggu...si...siapa? ehm...nggak nunggu siapa-siapa.” jawabku gugup.
“Nih, bersihkan dulu keringatmu itu!” ia menyodorkan tisunya kepadaku.
Mimpi apa aku semalam? Tak pernah sedikitpun terbayang dibenakku peristiwa seperti ini. Sungguh suatu keajaiban Yudha mau berbicara denganku. Menawarkan tisu pula.
Mungkin kepalanya sedang tersumbat sesuatu sehingga peredaran darahnya terganggu dan kemudian berlaku seperti ini. Atau mungkin kornea matanya sedang tidak beres, sehingga ia melihatku seperti melihat Aufal, teman sebangkunya. Atau mungkin saja, ia baru menyadari bahwa aku ini memang teman sekelasnya. Duh Gusti, mimpi di siang bolongkah aku sekarang?
Untuk memastikan itu, kucubit pipiku keras-keras.  “Aw” sangat sakit rupanya. Yudha yang melihat keanehanku tersenyum remeh. Akupun membalasnya dengan wajah tanpa dosa dengan sedikit cengiran khasku.
            “Jangan merasa aneh seperti itu!” Yudha mengawali.
“Aku tak merasa aneh, hanya saja aku bingung dengan sikapmu ini.” Jawabku
            “Oh, itu!” wajahnya berubah serius.
“Kenapa memanganya? Aku sangat kaget, tiba-tiba saja kamu mau berbicara denganku. Padahal, kalau di ingat-ingat, kamu tak pernah berbicara denganku selama kita satu kelas. Benarkan?”
“Memang!” jawabnya datar.
“Tapi kenapa?” tanyaku penasaran.
“Suatu saat kamu pasti akan tahu sendiri kenapa aku bersikap seperti ini.”
Kemudian Yudha pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Aku baru sadar, kalau ia tak juga aneh, tapi juga misterius. Itu yang membuatku semakin ingin mengenalnya lebih dekat lagi. Segera ku langkahkan kaki untuk pulang. “Suatu saat kamu pasti akan tahu sendiri kenapa aku bersikap seperti ini.” Kalimat itu seakan semakin jauh bermain-main dalam pikiranku.
Kurebahkan badanku di atas kasur yang berbalut seprei berwarna coklat. Ku ingat-ingat kemballi kalimat yang di ucapkan  Yudha. Mencoba menemukan apa maksud dari kata-katanya itu. Tapi, kepalaku tak bersahabat. Sore ini, langit berubah mendung di selimuti awan hitam. Sehitam jelaga. Gemuruh suara petir memekikkan telinga. Angin pertanda hujan badai  menampar pepohonan depan rumahku. Badanku ngeri di buatnya. Dalam ruangan gelap tak bercahaya ku pejamkan mata. Kepalaku terasa berat dan pening. Tubuhku seakan terbakar dan kakiku tak bisa bergerak. Semuanya tiba-tiba melemah. Mungkin malam ini aku tak akan bisa beraktifitas. Aku akan berlindung di bawah selimut tebal berwarna orangeku ini. Mengistirahatkan pikiran dan badanku. Sampai pagi menjelang.
“Hallo beb…! Kamu sakit apa? Parah nggak? Udah makan belum? Udah ke dokter? Terus kata dokter sakit apa?” tanpa koma Zuni menghujamku dengan pertanyaannya.
“Aduh Zun, kamu ini niat bikin aku sembuh, atau malah bikin aku tambah sakit?” kataku dengan nada memelas karena tubuhku masih belum stabil.
“Lho kenapa? Aku niat kesini kan mau jengukin kamu…! Nih liat..! aku bela-belain pulang sekolah langsung meluncur kerumah kamu. Aku khawatir banget Kenza ku sayang!” sergah Zuni dengan nada centilnya.
“Habisnya, kamu nanya nggak ada titik komanya. Aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu.” Protesku pada Zuni.
“Ya maaf.” Jawab Zuni lemas.
“Hem…ku maafin. Aku sekarang udah agak mendingan dari pada tadi malem. Lagian penyakitku juga nggak terlalu parah, Cuma gejala flu biasa. Jadi kamu nggak usah khawatir.” Jelasku panjang lebar.
“Wah…baguslah! Aku kira parah banget. Oh ya Za, nih ada titipan buat kamu!” sambil menyodorkan kertas, Zuni tersenyum penuh makna.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.
“Buka aja!” jawab Zuni singkat.
“Nama- nama yang terlampir di bawah ini adalah peserta bimbingam Olimpiade Kimia? Maksudnya apa Zun?”
“Aduh Miss LOL, alias Miss LOLA, gini lo sayang, ini adalah nama-nama yang bakalan ikutan bimibingan Olimpiade Kimia. Dari kelas kita diambil dua orang, yaitu kamu, Kenza Amalia and  Yudha Mubarrok. Berhubung satu minggu lagi ada Olimpiade Kimia tingkat nasional, sekolahan kita ngadain bimbingan itu dech. Ya…biar menang lagi kayak tahun kemarin. Keren kan?” cerocos Zuni.
Keren apanya? Secara, aku kan nggak canggih kalau masalah Kimia. Mana partnerku Yudha lagi. Gimana donk?” rengekku dengan nada malas.
“Heh…! Kamu ini nggak bersyukur ya! Setiap tahun rangking satu katanya nggak canggih. Wajarlah kalau kamu sama Yudha yang dipilih. Soalnya sama-sama pinternya. Kalau aku yang di pilih, itu baru nggak wajar. Udahlah, pokoknya kamu harus cepet sembuh. Biar besok langsung bisa ikutan bimbingan. Dan yang paling penting bisa ketemu sama Aa’ Yudha. Hahaha…!!!” goda Zuni yang membuat pipiku memerah.
***
Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku berangkat sekolah dengan bersemangat. Entah apa yang membuatku merasa lebih senang. Tapi yang terpenting, aku telah mendapatkan pelajaran dari sakit ku kemarin, kalau sehat adalah nikmat yang luar biasa.
Aku melangkahkan kaki menuju ruangan bertuliskan XI IPA 3. Kubuka pintu perlahan. Ternyata tak ada yang berbeda dengan teman-temanku hari ini. Tetap sama seperti sebelum aku sakit.
Rahma yang bermain dengan laptopnya, Via yang membaca novel kesukaannya, Sinta yang selalu rajin mengisi jurnal guru, dan masih banyak lagi. Tapi, tunggu dulu! Ada yang terlewatkan. Oh ya…si Yudha. Kemana anak itu, kenapa tak ada di kelas? Mataku mencoba menyisir setiap bangku kelas. Tapi hasilnya tetap sama. Tak ada tanda-tanda keberadaannya. Biasanya, dia selalu diam di bangkunya sambil membaca buku pelajaran yang akan di ajarkan nanti.
            “Woy…nyari siapa, Bu?” Zuni mengagetkanku.
            “Oh nggak nyari siapa-siapa!” aku mencoba mengalihkan muka.
“Ah yang bener? Tapi kayaknya ada bau-bau bohong nih!” sergah Zuni dengan mencubit pipiku yang memerah. Ternyata dia tau kalau aku sedang mencari Yudha.
“Beneran!” kataku meyakinkan meski aku tau Zuni tak akan percaya.
“Oh ya Za, aku lupa, kamu udah di tunggu sama Pak Makhrus di Lab Kimia, cepetan!”
Ngapain pagi-pagi ke Lab Kimia?” tanyaku heran.
“Ya ampun…! Ya ngapain lagi kalau bukan bimbingan!” pekik Zuni dengan suara cemprengnya.
“Hah…? Yang bener kamu? Ya udah aku ke sana dulu!” kataku sambil mengeluarkan buku paket Kimia dalam tasku.
“Ya udah sana buruan!” perintah Zuni.
Aku segera berlari menuju ruangan yang kira-kira berjarak 10 meter  dari kelasku. Dengan langkah penuh percaya diri, aku memasuki ruangan seluas 5 x 5 meter dengan dinding berwarna kuning dan sedikit hiasan tabel unsur Kimia.
`           “Maaf, Pak saya terlambat!” kataku dengan nada terengah-engah. Sekilas aku melihat sosok Yudha yang juga ternyata memerhatikanku.
            “Ya…silahkan duduk!” pinta Pak Makhrus dengan sedikit senyum di bibirnya.
            “Terimakasih, Pak!” sahutku tersenyum simpul.
Waktu berjalan selama lebih kurang dua jam. Akhirnya, Pak Makhrus mengakhiri bimbingan hari ini. Kami pun beranjak kembali ke kelas masing-masing. Aku melihat Yudha dengan tatapan mengajak. Yudha pun mengiyakan dengan anggukan kepala. Kemudian aku dan Yudha berjalan bersama. Ketika akan memasuki kelas, tiba-tiba Yudha memberikan selembar kertas berwarna pelangi kepadaku, kenudian beranjak meninggalkanku yang sedang kebingungan. Kubuka kertas itu dengan sejuta rasa penasaran. Yang kutemukan di sana adalah sebuah kalimat bertuliskan “Kutunggu di depan Lab Kimia sepulang sekolah.” Sejenak, jantungku berdesir kencang. Apa yang akan di lakukan Yudha nanti? Pikirku heran. Semoga ini pertanda baik bagi kelangsungan hidupku.
Seperti biasa, bel tanda usai pelajaran berbunyi nyaring. Secepat kilat Yudha keluar dengan menenteng tas cokl`tnya. Aku pun mengikutinya dari belakang.
            “Ada apa Yud?” tanyaku dengan tampang ketakutan.
“Hah? Mukamu kenapa? Biasa ajalah, jangan terlalu tegang begitu. Aku nggak akan macem-macem kok!” jawabnya tulus.
“Hahaha!! Emang kelihatan banget ya kalau aku takut?”
“Ya iyalah. Mukamu tuh lucu banget tau nggak sih! Kayak tikus kejepit pintu!” Yudha mengolokku sambil tertawa lepas. Tawa yang tak pernah kulihat selama ini. Kenapa dia jadi semakin aneh seperti ini? Aku semakin takut dibuatnya.
“Langsung aja ya..! Jadi begini, sebelumnya aku minta maaf atas semua perilaku ku selama ini. Aku sadar aku salah bersikap dingin di kelas. Tapi itu semua aku lakukan emang ada alasannya.”
;span style="color: #1d1b11;">Akhirnya Yudha menceritakan semuanya kepadaku. Ternyata kedua orang tua Yudha sudah bercerai sejak ia lulus kelas 3 SMP. Ia merasa dendam dengan ayahnya karena telah menduakan ibu tercintanya. Sejak saat itulah ia berubah menjadi anak yang pendiam dan susah bersosialisasi.
“Nah, sekarang kamu udah tau kan, kenapa aku bersikap seperti itu?” tanyanya memelas.
            “Ya, aku tau! Kamu pasti sangat  kecewa dengan ayahmu. Aku ikut sedih mendengarnya.”
Thanks, kamu udah mau ngerti aku. Sekarang, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Satu permintaan yang tidak terlalu memberatkanmu. Kamu hanya cukup menjawabnya “mau” atau “tidak”.”
“Apa itu?” tanyaku antusias. Karena aku tak sabar mendengarkan pertanyaan yang akan dia ucapkan kepadaku. Mungkin saja dia akan mengatakan cinta kepadaku. Oh my God, sebentar lagi impianku akan terwujud. Ternyata dia juga suka denganku. Pikirku penuh percaya diri.
“Aku ingin kamu menjadi sahabatku!”
“Apa? Sahabat? Hanya sahabat?” tanyaku dengan nada meninggi.
“Ya, hanya sahabat. Aku ingin kamu membantuku untuk mendekati Zuni. Hanya itu permintaanku. Bagaimana?”
Pertanyaanya membuatku mati kaku. Ternyata bayanganku tak seindah kenyatan.











Cintaku di Chemistry
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheuCqOO2uT47y9jlgKal7FCn24bJsfOnyZGwVddTBPSW6ER13IR4FDWZwI9KtX0oScISm7G1L6jL2EQDioNx5P127d2b29-4bP6PEdVXNGkBefpthMeLNhQNy2_jvHNkH7ldMwozwt7Js/s72-c/kiki.jpeg
Read More

News Artikel

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. :: Resya's World :: - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger